Deli Serdang, (Utomo news, Kamis,4/12/2925) |
Hidup manusia di dunia ini ibarat perjalanan singkat yang penuh liku dan ketidakpastian. Dalam rentang waktu yang terbatas itu, sikap yang tepat menjadi kunci utama untuk menjalani kehidupan dengan penuh berkah dan ketenangan jiwa adalah tuntunan atau panduan Agama Islam melalui Al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad SAW.
Utusan Allah SWT nabi Muhammad Saw mengajarkan agar manusia tidak sombong saat berada di puncak kekuatan dan keberhasilan, serta tidak putus asa ketika mengalami kelemahan atau kesulitan.
Nas Al-Qur’an menjelaskan bahwa kekuasaan, kekuatan, dan kemuliaan sejatinya datang dari Allah SWT, bukan semata hasil upaya manusia.
Dalam Surah Al-Qashash ayat 76, Allah mengingatkan manusia agar tidak berbangga atas kekuatan yang mereka miliki, karena segalanya bisa berubah sewaktu-waktu.
Rasulullah SAW pun menguatkan pesan ini dengan sabdanya, “Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga dia ditanya tentang empat perkara: umurnya untuk apa dihabiskan, masa mudanya untuk apa digunakan, hartanya dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan, serta ilmunya untuk apa diamalkan” (HR. Tirmidzi).
Di sisi lain, Islam dengan bijak menuntun umat agar tidak merasa putus asa ketika menghadapi cobaan, kelemahan, atau kegagalan. Dalam Surah Az-Zumar ayat 53, Allah SWT berfirman, “Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.
Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Pesan ini menjadi penyejuk hati bagi siapa pun yang tengah jatuh atau menghadapi ujian berat.Ketika kekuatan dan kelemahan menjadi bagian dinamika kehidupan, penting bagi setiap individu untuk menempatkan dirinya pada posisi tawadhu—rendah hati dan penuh kesadaran akan keterbatasan diri.
Sifat sombong saat kuat hanya akan menimbulkan kebanggaan yang merusak hubungan sosial dan spiritual, sementara putus asa dalam kelemahan dapat menghilangkan kesempatan untuk bangkit dan memperbaiki diri.
Dalam konteks sosial dan politik, pesan ini kian relevan di tengah dinamika zaman yang cepat berubah dan tantangan yang begitu kompleks. Seorang pemimpin, misalnya, harus senantiasa ingat bahwa kekuasaan adalah amanah yang harus dijalankan dengan rendah hati dan tanggung jawab.
Begitu pula masyarakat luas, hendaknya tidak putus asa menghadapi perubahan dan keterbatasan keadaan dengan harapan terus menguatkan diri dan berperilaku positif.
Kehidupan ini sangat singkat dan fana. Oleh sebab itu, sikap bijaksana yang diajarkan Islam mengingatkan agar manusia tetap menjalani setiap fase hidup dengan seimbang, tidak jumawa saat berada di titik puncak, dan terus mengharap rahmat serta kemudahan ketika menghadapi tantangan. *** (Hasan Basri Siregar Ketua JWI Deli Serdang).
Views: 19












