Deliserdang, Utomo News, Sabtu,14 februari 2026- |
Enam bulan sebelum Ramadhan, para sahabat seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab telah berdoa penuh khusyuk: “Allahumma ballighna Ramadhan” – “Ya Allah, sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan.”Dan enam bulan setelahnya, mereka melanjutkan:
“Allahumma taqabbal minna” – “Ya Allah, terimalah amal-amal kami di bulan Ramadhan.”
Ini bukan sekadar rutinitas, tapi manifestasi iman total. Hadits riwayat Ahmad dari Amr bin Murrah menceritakan bagaimana sahabat menanti Ramadhan seperti menanti tamu mulia. Di tengah gurun Madinah yang keras, Ramadhan menjadi Pase ruhani, mengingatkan janji Allah: bulan di mana setan dibelenggu, pintu surga terbuka, dan neraka ditutup (HR. Muslim).
Kabar Gembira Nabi SAW Saat Hilal Muncul
Bayangkan suasana Madinah saat hilal Ramadhan terlihat. Rasulullah SAW berdiri di mimbar, wajah beliau berseri:
“Dahala ‘alaykum Ramadhan, syahrun mubarak…” – “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan penuh berkah…” (HR. An-Nasai).Beliau tidak menjanjikan kemewahan duniawi, tapi ampunan dosa dan pembebasan dari api neraka.
Sahabat seperti Ali bin Abi Thalib meriwayatkan bagaimana Nabi SAW menekankan: puasa ini adalah perisai bagi jiwa, melindungi dari amarah dan dosa. Di bulan itu, Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk, sebagaimana ayat 185 Surah Al-Baqarah yang menjadi nafas kehidupan mereka.
Puasa Sederhana: Kurma, Air, & Iman yang Membara
Tidak ada pesta mewah di rumah Nabi SAW. Seringkali, beliau dan Aisyah RA berbuka hanya dengan beberapa butir kurma dan segelas air, bahkan api dapur tak menyala berhari-hari (HR. Bukhari). Namun, hati mereka menyala terang oleh iman.
Sahabat meneladani: Bilal bin Rabah berpuasa sambil mengumandangkan azan, Abu Dzar bekerja di kebun kurma, sementara Khalid bin Walid memimpin jihad di medan perang tanpa mengeluh lapar. Puasa bukan alasan malas, tapi latihan ketabahan jiwa, seperti sabda Nabi: “Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan dusta dan perbuatannya, Allah tidak memerlukan puasanya dari makan dan minum” (HR. Bukhari-Muslim).
Al-Qur’an: Nafas Hidup di Malam Ramadhan
Di luar Ramadhan, mereka membaca Qur’an; tapi di bulan suci ini, mereka hidup di dalamnya. Malam Madinah bergema dengan tilawah merdu, isak tangis sujud, dan doa sepertiga malam. Nabi SAW memperpanjang shalat Sunnat hingga kaki bengkak, jawabannya penuh syukur: “Afa laa asykuur lirasuulii?” – “Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?” (HR. Muslim).
Sahabat seperti Ubay bin Ka’ab menjadi qari utama, mengajarkan Qur’an yang baru diturunkan, mengingatkan bahwa Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an, saat Jibril AS menyempurnakan wahyu kepada Nabi.
Lailatul Qadar: Sepuluh Malam Terakhir Penuh Rahmat
Puncak ruhani di 10 malam akhir. Nabi SAW mengikat pinggangnya erat, i’tikaf di Masjid Nabawi, membangunkan istri-istrinya untuk tahajud (HR. Bukhari). Sahabat meniru: Abdullah bin Umar mencari Lailatul Qadar dengan harap rahmat dan takut hisab. Firman Allah di Surah Al-Qadar menjanjikan: “Malam Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan.” Malam itu, malaikat turun membawa ketetapan ilahi—kesempatan emas bagi jiwa yang haus ampunan.
Madrasah Akhlak: Dermawan Seperti Angin yang Berhembus
Ramadhan membentuk akhlak mulia. Jika dicaci, sahabat menjawab: “Innii shaaim” – “Aku sedang berpuasa” (HR. Bukhari). Nabi SAW menjadi pemberi zakat paling dermawan, memberi hingga tak bersisa, seperti riwayat Aisyah RA. Puasa melatih menahan amarah, menjaga lisan, dan menyebarkan kasih—bukan hanya lapar fisik, tapi puasa jiwa dari dosa.
Air Mata Perpisahan: Takut Amal Ditolak
Saat Ramadhan pergi, tak ada pesta; justru tangis penyesalan. Sahabat takut puasa ditolak, malam sia-sia, air mata tak bernilai. Seperti sabda Nabi: “Apabila Ramadhan tiba, dicatat amal, maka siapa yang mati di luarnya, catatannya ditutup” (HR. Ahmad). Mereka tahu, Ramadhan tentang penerimaan amal, bukan kuantitas ibadah.
Pelajaran Abadi untuk Umat Kita
Ramadhan zaman Nabi SAW ajarkan: puasa adalah senjata melawan nafsu, Al-Qur’an teman abadi, dan bulan suci ini pintu taubat terbuka. Bukan “Sudah datang Ramadhan?”, tapi “Siapkah hati kita menyambut rahmat-Nya?” Jadikan Ramadhan ini momentum berubah, seperti sahabat yang hidupnya bertransformasi selamanya. ****.
Reporter ; (Hasan Basri Siregar ketua JWI Deli Serdang).
Views: 16













