Deliserdang, Utomo News , Minggu,15 februari 2026.
Kenapa Ramadhan begitu agung hingga langit dibuka, neraka ditutup, dan malaikat turun bertasbih?Ada rahasia ilahi yang melampaui pemahaman manusia biasa, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 183). Ramadhan bukan sekadar bulan puasa, sahur, dan berbuka. Ia adalah bulan keagungan di mana rahmat Allah SWT mengalir deras, seperti sungai surga yang menyirami hati-hati yang haus ampunan.
Bayangkan: tepat di bulan Ramadhan ini, Al-Qur’an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira. Suara Jibril AS menggema, “Iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq…” (QS. Al-Alaq: 1).
Saat itulah dunia berubah—cahaya petunjuk menerangi kegelapan jahiliah. Ramadhan menjadi saksi wahyu pertama, mengajak kita semua untuk membaca, merenungi, dan kembali kepada Sang Pencipta dengan harapan ridho-Nya yang mutlak.
Tak berhenti di situ. Ramadhan juga menyaksikan mukjizat Pertempuran Badar, di mana 313 sahabat Nabi SAW—lapar, lelah, tapi berpuasa—berdiri tegar menghadapi ribuan musuh. Secara logika manusia, kemenangan mustahil. Namun, seperti firman Allah; وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.
(QS. Ali Imran: 169).
Ramadhan mengajarkan bahwa pertolongan Allah SWT bukan bergantung pada kekuatan duniawi, melainkan pada keimanan dan tawakal. Di sinilah rahasia agungnya: bulan ini membuka pintu pertolongan Ilahi bagi hamba yang bertakwa.
Lalu, Fathu Makkah—penaklukan Makkah tanpa darah tumpah. Rasulullah SAW memasuki kota suci dengan penuh ampunan, bukan dendam. Itulah Ramadhan: bulan pengampunan yang mengubah musuh menjadi saudara, hati batu menjadi lunak, sebagaimana sabda Nabi SAW: “Apabila datang bulan Ramadhan, maka dibukakan pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu neraka, serta dikurung setan-setan” (HR. Muslim).
Ramadhan adalah kesempatan emas yang tak ternilai untuk meraih ridho Allah SWT—sebelum pintu taubat tertutup selamanya.Di bulan mulia ini, setiap amal ibadah dilipatgandakan. Puasa sunnah seperti Dawud AS punya pahala setara setahun penuh (HR. Bukhari-Muslim).
Tarawih malam menyucikan jiwa, sedekah mengalirkan rezeki, dan tilawah Al-Qur’an mendekatkan kita pada surga. Ini kesempatan untuk diampuni dosa dosa.
Kesempatan untuk berubah—melatih jiwa agar tak lagi dikuasai hawa nafsu, sebelum hati mengeras seperti batu karang. Kesempatan untuk kembali kepada Allah SWT, memperbanyak istighfar dan doa, agar ridho-Nya menjadi tujuan akhir hidup kita.
Siapa yang menjamin kita bertemu Ramadhan tahun depan? Berapa banyak saudara kita tahun lalu berjanji, “Tahun depan saya lebih baik lagi,” tapi kini telah dipanggil pulang?Ramadhan bukan tamu tahunan biasa. Ia bisa jadi kesempatan terakhir untuk menyempurnakan iman, menebus segala khilaf, dan meraih surga yang abadi.
Dengan penuh harap, mari sambut bulan ini sebagai jembatan menuju ridho Allah SWT yang tiada tara.🤲 Ya Allah Rabbul ‘Alamin,
Jika Ramadhan ini adalah yang terakhir bagi kami, jadikanlah yang terbaik sepanjang hidup kami. Ampuni dosa-dosa kami sebanyak gunung-gunung yang menjulang, lunakkan hati kami yang mengeras, dan jangan cabut nyawa kami sebelum Engkau ridha kepadami. Berikan kami kekuatan untuk memanfaatkan setiap detik kesempatan ini, hingga kita bertemu-Allah SWT dengan wajah berseri. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin. (*).
Reporter ; Hasan Basri Siregar.
Views: 7













