Deliserdang, Utomo News, Senin,16 februari 2026 – |
Di tengah gemerlap gedung pencakar langit yang menjulang gagah, menara-menara kaca yang memantulkan ambisi material, dan istana-istana marmer yang seolah menantang langit, sebuah pertanyaan mendasar mengguncang hati nurani: Apakah keagungan suatu bangsa benar-benar diukur dari tumpukan beton dan emas berkilau itu? Jawabannya tegas: Tidak! .
Sejarah suci umat manusia, yang diabadikan dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW, berteriak lantang bahwa kemuliaan sebuah peradaban bukanlah dari kemewahan bangunan, melainkan dari pemimpin yang adil dan bijaksana—seperti Nabi Sulaiman AS, raja yang diberi kebijaksanaan ilahi hingga hewan dan angin pun tunduk padanya.
Masa itu sidang pengadilan yang gempar di istana Nabi Sulaiman, sebagaimana diriwayatkan dalam Surah Anbiya’ ayat 78-79 dan diperkuat kisah pelengkap dalam tafsir klasik seperti Tafsir Ibnu Katsir. Dua wanita—dua ibu yang hatinya tercabik—datang membawa bayi yang sama, saling klaim hak atas darah dagingnya sendiri.
Fakta menyedihkan: satu ibu sah, satu lagi pembohong yang nekat merebut anak orang demi hasrat egois. Bukti? Nol. Saksi? Tak ada. Hanya jeritan patah hati dua nyawa yang bertarung demi kebenaran.
Tapi Nabi Sulaiman, dengan kebijaksanaan yang diberikan Allah SWT sebagai mukjizat (QS. Anbiya’ 79: nabi Sulaiman, tak bergantung pada data empiris semata.
Ia memerintahkan: “Potonglah anak ini menjadi dua, bagi rata untuk keduanya!”Drama klimaks meledak saat itu. Ibu palsu diam, lidahnya kelu demi bagian “miliknya”. Tapi ibu sejati? Ia menjerit histeris, air mata banjiri wajahnya: “Jangan! Serahkan saja kepadanya, asal anakku hidup!” Fakta tak terbantahkan: cinta seorang ibu tak bisa dipotong-potong. Cinta tulus mengalahkan nafsu kepemilikan.
Nabi Sulaiman tersenyum bijak, memerintahkan pengembalian anak itu ke pelukan ibu asli. Keadilan terbit bagai fajar! Kasus ini bukan sekadar dongeng; data Al-Qur’an (QS. Anbiya’ 78) dan hadis riwayat Bukhari-Muslim mengonfirmasi mukjizatnya, di mana Sulaiman menyelesaikan sengketa rumit tanpa kekerasan, hanya dengan intuisi ilahi yang menusuk hati manusia.
Inilah pelajaran abadi bagi bangsa kita hari ini. Saat gedung-gedung mewah dibangun dengan utang rakyat dan korupsi merajalela, ingatlah: keagungan bukan dari beton, tapi dari pemimpin yang berpihak pada yang lemah, yang memotong simpul kebohongan dengan pedang kebenaran. Seperti Sulaiman yang menguasai jin, burung, dan angin (QS. An-Naml 16-17), pemimpin adil mengendalikan chaos sosial dengan kebijaksanaan.
Data sejarah membuktikan: kerajaan-kerajaan runtuh bukan karena bangunan rapuh, tapi pemimpin zalim. Bangsa hebat bangkit dari keadilan—dua ibu bersaksi, anak selamat, dan kebenaran menang!. Mari, tuntut pemimpin seperti Sulaiman: adil, bijaksana, tak terbeli kemewahan palsu. Hanya itulah tolok ukur keagungan sejati! .(*)-
Reporter ; Hasan Basri Siregar.
Views: 17













