Deli Serdang, Utomo News, Selasa , 17 februari 2026 – |
Di bawah terik Makkah yang membara, Rasulullah Muhammad ﷺ melangkah mantap menyusuri lorong-lorong berdebu, membawa wahyu suci yang mengguncang tahta berhala. Dakwahnya bukan sekadar kata-kata, melainkan jihad iman yang meruntuhkan syirik dan membangun tauhid murni. Namun, apa yang menyambut utusan Allah itu? Bukan sambutan hangat, melainkan badai cemoohan, tuduhan gila, dan hinaan yang menusuk jiwa.
Kaum Quraisy, terperangah keyakinan mereka digoyang, memilih senjata terakhir: merusak nama baik beliau untuk memadamkan cahaya Islam.
Mereka berteriak kasar:“Dia gila! Penyihir! Pemecah belah keluarga!”
Allah ﷻ mengabadikan fitnah itu dalam Al-Qur’an sebagai saksi abadi:“Dan mereka berkata: ‘Wahai orang yang diturunkan Al-Qur’an kepadanya, sesungguhnya engkau benar-benar orang gila.’”
(QS. Al-Hijr: 6)
Tapi lihatlah keteguhan iman nabi! Beliau bukan manusia biasa yang rapuh; beliau adalah abdullah (hamba Allah) yang hatinya teguh seperti Gunung Uhud, selalu berpegang pada janji ilahi: “Dan bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhan mereka di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya.” (QS. Al-Kahfi: 28).
Tuduhan gila tak goyahkan imannya, justru memantulkan kebesaran akhlaknya yang diagungkan Allah: “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4).
Hinaan yang Menggigit, Iman yang Tak TergoyahkanBayangkan pemandangan menyayat: Rasulullah ﷺ lewat, Quraisy menunjuk dan menertawakan. Anak-anak ikut melempari batu kecil, orang dewasa menyiram kotoran dan debu ke wajah beliau. Bahkan, saat sujud di Ka’bah, seseorang berani meletakkan kotoran unta di punggungnya!
Luka fisik dan hati itu nyata—Allah sendiri bersaksi:“Dan sungguh Kami mengetahui bahwa dadamu terasa sempit oleh apa yang mereka katakan.” (QS. Al-Hijr: 97)
Manusia mana yang tak marah? Tapi Nabi ﷺ? Beliau angkat wajah, bersihkan tubuh dengan tenang, lalu lanjut dakwah. Tidak ada makian, tidak ada kutukan. Ini bukan kelemahan, melainkan keteguhan iman sejati—iman yang lahir dari keyakinan mutlak bahwa balasan urusan Allah.
Beliau ajarkan kita: ujian hinaan adalah ladang pahala, asal dijawab dengan sabar dan doa kebaikan.Pertahanan Ilahi: Bukan Gila, Tapi Utusan Sempurna
Ketika fitnah memuncak, Allah turun tangan membela kekasih-Nya. Demi pena dan catatan ilmu—simbol akal dan pengetahuan—Allah bersumpah:“Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan, dengan nikmat Tuhanmu engkau (Muhammad) bukanlah orang gila.” (QS. Al-Qalam: 1–2)
Ayat ini bukan sekadar pembelaan; ini pengakuan bahwa Nabi ﷺ adalah manusia paling waras, paling mulia, karena imannya tak tergoyahkan oleh dunia.
Quraisy gila dalam kebatilan mereka, sementara beliau teguh dalam kebenaran.
Doa Kebaikan yang Selalu Jadi Senjata Nabi: Luasnya Rahmat untuk Umat
Inilah puncak keteguhan iman beliau: selalu berdoa kebaikan untuk umatnya, meski diinjak-injak. Bukan sekali dua kali, tapi menjadi sunnah hidupnya. Setelah hinaan parah, beliau angkat tangan di Sa’i, di mana para malaikat menanti azab turun dan gunung-gunung siap runtuhkan Makkah. Tapi doa apa yang terucap?“Ya Allah, ampunilah kaumku, karena mereka tidak mengetahui.”(HR. Bukhari no. 4570 & Muslim no. 2535)
Doa ini bukan akhir cerita—ini pola iman Nabi ﷺ. Dalam riwayat lain, saat kaumnya boikot Bani Hasyim, beliau doakan: “Ya Rabb, berikanlah petunjuk kepada kaumku.” Bahkan di Thaif, saat dilempari batu hingga berdarah, beliau tolak permintaan Jibril untuk hancurkan kota itu, dan berdoa: “Ya Allah, berikan petunjuk kepada kaumku, karena mereka tidak tahu.” (HR. Bukhari).
Mengapa selalu doa kebaikan? Karena imannya teguh pada sifat Ar-Rahman Ar-Rahim. Beliau paham, musuh bukan untuk dihancurkan, tapi diampuni agar masuk surga. Hadits qudsi menguak rahasia: “Sesungguhnya Allah bersama kesabaran.” (QS. Al-Baqarah: 153).
Doa-doa ini mengguncang langit, ubah musuh jadi sahabat—seperti Umar bin Khattab yang dulu cemooh, kelak jadi Amirul Mukminin.
Kesabaran Iman yang Ubah Sejarah Dunia
Orang-orang yang teriak “gila” akhirnya menangis di kaki beliau. Yang lempar kotoran berebut cium tangannya. Makkah jatuh bukan oleh pedang, tapi oleh doa maaf dan akhlak mulia. Ini bukti: keteguhan iman nabi tak terkalahkan.
Pelajaran Abadi untuk Umat Hari ini, kalau kamu dihina karena iman, dicemooh karena dakwah, atau disakiti karena kebaikan—ingat Nabi ﷺ. Tiru doanya: minta ampun untuk mereka, bukan azab. Iman teguh lahir dari doa kebaikan, bukan dendam. Seperti beliau, jadilah hamba yang rahmatan lil alamin. Wallahu a‘lam bish-shawab. ( * )-
Reporter ; Hasan Basri Siregar.
Views: 6













