Deliserdang, Utomo news, Minggu,28/12/2025).- |
Perumpamaan sebuah gelas air putih jernih, melambangkan kemurnian hati yang lurus. Tiba-tiba, seekor lalat jatuh ke dalamnya. Tanpa ragu, kita membuang seluruh air itu. Bukan karena airnya rusak selamanya, tapi karena kehadiran yang kotor telah mengotori kesuciannya.
Air yang murni tak pantas dicemari; lebih baik dibuang agar kemurniannya tak ternoda. Kini, bayangkan gelas madu yang kental dan manis, simbol hati yang penuh dosa dan kelalaian. Lalat yang sama jatuh ke dalamnya. Apa yang kita lakukan? Kita buang lalatnya saja, lalu minum madu itu dengan lahap.
Madu tetap manis, tak ada yang kehilangan esensinya. Kehadiran lalat hanyalah gangguan kecil di lautan kegelapan.Inilah paradoks kehidupan, sebuah hikmah kuno yang menggali kedalaman jiwa manusia.
Bila kesalahan jatuh pada hati yang benar—hati yang seperti air putih, penuh integritas dan kejujuran—kesalahan itu masih bisa dimaafkan, bahkan diampuni dengan syarat perbaikan. Hati suci itu fleksibel, mampu membersihkan noda sementara, sambil mempertahankan esensinya.
Tapi bila kebenaran jatuh pada hati yang salah—hati seperti madu hitam, penuh kepentingan pribadi, prasangka, dan kegelapan—kebenaran itu akan dibuang mentah-mentah. Bukan karena kebenaran salah, tapi karena hati itu tak sanggup menampung cahayanya; lebih mudah membuangnya daripada membersihkan diri sendiri.
3Filosofi ini bukan sekadar peribahasa; ia cermin realitas sosial kita. Dalam politik, lihat bagaimana fakta bohong sering diabaikan oleh mereka yang sudah terlanjur salah, sementara kesalahan kecil dari pemimpin jujur tak diberi kesempatan kedua.
Dalam hubungan pribadi, hati yang murni memaafkan khilaf pasangan, tapi hati yang rusak menolak kebenaran demi mempertahankan ilusi.
Bahkan dalam jurnalisme, berita benar sering “dibuang” oleh audiens yang sudah terpolarisasi, sementara berita palsu diterima karena manis bagi egonya.
Hidup mengajarkan: kemurnian hati adalah aset langka. Ia tak hanya menyelamatkan diri, tapi juga ruang bagi kesalahan untuk diperbaiki. Sebaliknya, hati yang salah seperti madu beracun—manis di permukaan, tapi membuang segala kebenaran demi kenyamanan. Renungkan: gelas apa yang sedang Anda pegang? Dan lalat apa yang jatuh ke dalamnya hari ini? (***).
Views: 23












