Hati-Hati Mulutmu, Lautan Jiwa Bisa Telan Badanmu: Oleh; Hasan Basri Siregar Ketua JWI Deli Serdang.

 

Deliserdang, Utomo news, Minggu,28/12/2025, -|

Hikmah Filsafat Pantun “Perkataan yang Mematikan” ; Dalam gemuruh ombak Nusantara, pantun lama bergema seperti mantra kuno: Hati-hati pergi kelaut, lihat laut lihat cuaca. Hati-hati perkara mulut, sebab gegara mulut badan binasa. Bukan sekadar nasihat nelayan atau petuah desa, pantun ini adalah cerminan filsafat hidup yang mendalam—sebuah peringatan abadi tentang dualitas alam dan kata-kata, di mana satu hembusan lidah bisa lebih mematikan daripada badai tropis.

Bayangkan laut sebagai metafor jiwa manusia, luas dan tak terduga, seperti yang digambarkan Lao Tzu dalam Tao Te Ching: “Air yang lembut mampu mengikis batu keras.” Pantun ini mengajak kita hati-hati pergi kelaut—artinya, saat menjelajahi lautan batin atau dunia luar, perhatikan tanda-tandanya.

Lihat cuaca, bukan hanya angin dan awan, tapi juga situasi sosial, emosi orang lain, dan dinamika kekuasaan.

Filsafat Konfusius dalam Analects menegaskan hal serupa: “Orang bijak mengamati sebelum berbicara, seperti petani yang membaca musim sebelum menabur.” Di era media sosial saat ini, “cuaca” itu adalah algoritma yang memperkuat gema kata, di mana satu tweet bisa memicu tsunami opini publik.

Tanpa kehati-hatian, pelaut jiwa—yaitu kita—bisa karam, seperti kasus-kasus hoaks politik di Indonesia yang lahir dari lidah ceroboh, merusak karir dan masyarakat.

Kini, inti filsafatnya terletak pada baris kedua: hati-hati perkara mulut. Mulut bukan sekadar alat makan, tapi pintu gerbang karma, sebagaimana ajaran filsafat Hindu-Buddha Nusantara dalam Kakawin Ramayana yang memperingatkan bahwa vāc (kata-kata) adalah senjata ganda—bisa menebar berkah atau racun.

“Gegara mulut badan binasa” menggemakan prinsip Taoisme tentang wu wei (tindakan tanpa paksaan): bicara secukupnya, karena kata yang salah bisa memicu kehancuran diri, seperti ular yang menggigit tuannya sendiri.

Dalam konteks modern Indonesia, ingatlah tragedi politik di mana pernyataan sembrono pejabat memicu kerusuhan—dari kasus intoleransi berbasis ujaran hingga fitnah yang berujung hukum pencemaran nama baik.

Filsuf Jerman Arthur Schopenhauer menyebutnya “keliatan lidah yang tak terkendali,” tapi pantun kita lebih bijak: ia menyamakan mulut dengan lautan ganas, di mana satu ombak kata bisa menenggelamkan seluruh badan (tubuh, reputasi, bahkan nyawa).

Filsafat pantun ini bukan dogma kaku, melainkan undangan untuk introspeksi. Ia mengajarkan harmoni manunggaling kawula gusti ala kebijaksanaan Jawa—satu jiwa dengan alam semesta.

Hati-hati kelaut berarti hormati alam dan orang lain; hati-hati mulut berarti jaga lisan sebagai benteng akhirat. Di tengah hiruk-pikuk politik Indonesia hari ini, pantun ini relevan sebagai obat: sebelum bicara, tanyakan, “Apakah kata ini seperti angin sepoi, atau badai yang merusak?” (***).

Views: 78