Berita  

Juara MTQ Irak Diterima Wali Kota, Tapi Presiden & Menag Diam Saja? Atlet Besi Dapat Miliaran!

 

NTB, Utomo News, Sabtu, 14 februari 2926- |

 

Bayangkan ini: seorang bocah cilik dari Bima, NTB, Zian, baru saja mengguncang panggung internasional di Musabaqah Tilawah Al-Qur’an (MTQ) ke-8 tingkat dunia di Najaf, Irak, pada 5-10 Februari 2026. Dengan suara merdu yang menggetarkan hati jutaan umat Muslim, Zian meraih Juara 1 kategori Qori Cilik—prestasi langka yang membanggakan Indonesia di mata dunia Islam.

 

Pulang ke tanah kelahiran hanya empat hari kemudian (14 Februari 2026), ia disambut meriah oleh Wakil Wali Kota Bima dengan karpet merah dan sorak sorai warga. Bukti nyata bahwa anak daerah ini tak hanya hafal ayat suci, tapi mampu mengibarkan Merah Putih di negeri Seribu Satu Menara Masjid!

 

Tapi, tunggu dulu—di mana sambutan dari istana? Presiden Prabowo Subianto atau Menteri Agama Nasaruddin Umar tak terlihat bayangannya. Tak ada panggilan ke Istana Merdeka, tak ada pidato selamat di media nasional. Ini bukan kasus pertama. Ingat juara MTQ Internasional 2023 dari Aceh atau 2022 dari Malaysia yang pulang tanpa bonus tunai nasional?

 

Kemenag hanya beri plakat dan doa, sementara anggaran MTQ nasional capai Rp50 miliar per tahun (data Kemenag 2024), tapi prestasinya tak tembus APBN untuk reward.

 

Bandingkan dengan juara angkat besi Eko Yuli Irawan yang sapu bersih emas Olimpiade Paris 2024: bonus langsung Rp600 juta dari pemerintah pusat, plus kenaikan pangkat TNI AD dari Letnan Dua jadi Kapten (Kemenpora & Kemhan 2024).

 

Atlet voli Jonathan Pintar Christie dapat Rp250 juta, bahkan pensiunan atlet seperti Sri Ranti diganjar tanah dan uang pensiun khusus. Data Kemenpora tunjukkan total bonus atlet SEA Games/Asian Games/OLimpiade 2023-2025 tembus Rp100 miliar—semua dari APBN via Undang-Undang Olahraga No. 3/2005.

 

Mengapa prestasi mengaji suci Al-Qur’an kalah pamor? Padahal MTQ internasional di Irak diikuti 40 negara, dan Zian wakili 270 juta umat Islam Indonesia (data NU & Muhammadiyah). Ini ironis di negeri dengan 87% penduduk Muslim (BPS 2024), di mana ayat Al-Qur’an seharusnya jadi pondasi bangsa.

 

Apakah prioritas nasional lebih condong ke medali emas daripada hafalan surah rahman?Zian, qori cilik kita ini, patut jadi inspirasi nasional. Semoga prestasinya tak berhenti di Bima—mari tekan Kemenag dan pemerintah pusat untuk bonus layak minimal Rp100 juta plus beasiswa hafalan Qur’an.

 

Produser TV, media online: viralkan Zian, bukan sensasi gosip! Konten inspiratif seperti ini yang layak banjiri layar kaca dan timeline kita. Prestasi keagamaan harus setara dengan olahraga—untuk Indonesia emas 2045! (*).

 

Reporter ; Hasan Basri Siregar.

Views: 45