Deliserdang, Utomo News, Minggu 8 februari 2026 – |
Bayangkan seorang sultan yang tak kenal lelah menyamar sebagai rakyat jelata, menyusuri lorong-lorong gelap Istanbul di era Kekaisaran Ottoman. Sultan Murad IV, penguasa tegas abad ke-17 yang dikenal dengan tangan besi melawan korupsi dan kemerosotan moral, punya kebiasaan unik bernama Tabdil.
Malam demi malam, ia berganti baju compang-camping, meninggalkan kemewahan istana Topkapi, dan merayap ke pasar malam, kedai, serta gang-gang sempit. Tujuannya? Melihat sendiri apakah keadilan bergulir, mendengar jeritan rakyat tanpa tameng protokol, dan membersihkan kota dari kejahatan yang disembunyikan para pejabat.
Suatu malam yang sunyi, angin dingin menusuk jubah kumuhnya, Sultan mengajak kepala pengawal setianya—juga menyamar—berkeliling kota. Langkah mereka terhenti di sebuah lorong hitam pekat, di mana aroma sampah bercampur bau amis laut dari Selat Bosphorus.
Jenazah yang dijauhi bahkan dihina; Awal bertemunya penyamaran dengan penyamar.
Di kegelapan itu, tergeletak sosok pria tak bernyawa, tubuhnya kaku di trotoar licin. Yang bikin merinding: puluhan orang lewat, tapi tak satu pun berhenti. Ada yang melirik sinis, yang lain meludah ke mukanya, seolah jenazah itu sampah busuk. Sultan, dengan suara serak menyamar, mendekati seorang warga tua yang mondar-mandir. “Wahai saudara, mengapa mayat ini dibiarkan busuk begitu saja? Bukankah kita umat Islam yang wajib mengurus jenazah saudara?
“Warga itu mendengus kesal, matanya penuh penghakiman. “Jauhi saja! Itu si pemabuk busuk, pezina kelas kakap. Setiap malam beli khamar berliter-liter, lalu lari ke rumah pelacur. Matinya pantas di jalanan seperti anjing liar!” Kata-katanya menusuk, mencerminkan betapa dalamnya prasangka masyarakat terhadap “dosa lahiriah” tanpa tahu rahasia di baliknya.
Iba Pemimpin: Mengangkat Jenazah demi Kemanusiaan
Hati Sultan Murad IV bergolak—iba pada nasib rakyatnya, marah pada ketidakpedulian kota. “Dia tetap hamba Allah dan umat Rasulullah SAW,” gumamnya pada pengawal. Tanpa pikir panjang, keduanya angkat jenazah itu—berat, bau keringat dan alkohol menyeruak—mengikuti petunjuk warga ke sebuah gubuk reyot di pinggir kota.
Pintu terbuka, istri pria itu—wanita kurus berjilbab usang—terlonjak, lalu menjerit histeris sambil merangkul suaminya. Air matanya membasahi wajah jenazah, tapi bukan tangis biasa.
Rahasia Wali Tersembunyi: Penyamaran Demi Selamatkan Umat
Sultan dan pengawal tetap diam, menyamar sebagai tetangga biasa. Di tengah isak, sang istri mengusap wajah suaminya lembut, berbisik penuh syukur: “Semoga Allah SWT rahmatimu, wahai Wali-Nya. Engkau saleh abadi di sisi-Mu.” Sultan terpaku, jantungnya berdegup kencang. “Bagaimana mungkin? Orang-orang bilang dia pemabuk dan pezina terkutuk!”
Dengan suara gemetar tapi tegar, istri ungkap rahasia suaminya—sebuah jihad tersembunyi yang brilian. “Setiap malam, suamiku ke kedai khamar, beli sebanyak dompetnya sanggup. Bukan untuk minum, tapi dibuang ke selokan sambil dzikir: ‘Alhamdulillah, malam ini aku ringankan dosa kaum muslimin dari racun setan.’ Lalu, ia ke rumah-rumah pelacur, bayar mahal uangnya, dan perintah: ‘Tutup pintu rapat! Jangan layani siapa pun sampai subuh.’ Ia pulang bahagia, telah selamatkan puluhan jiwa dari zina, meringankan beban umat tanpa pamrih.”Ini bukan sekadar amal; ini ihsan tingkat tinggi, menyamar demi lindungi saudara Muslim dari godaan dosa.
Nubuat yang Terbukti: Sultan Ungkap Identitas
Istri lanjut mengatakan , “Aku pernah khawatir: ‘Suamiku, kalau kau mati, orang akan tuduh pemabuk, tak ada yang salati jenazahmu.’ Ia tersenyum tenang: ‘Tenang, istriku. Allah gerakkan Sultan Murad dan ulama besar untuk shalat atasku.’
” Saat itu, Sultan tak tahan lagi. Air mata sultan yang tegas tumpah. Ia buka cadar penyamarannya: “Demi Allah, nubuatnya benar! Aku Sultan Murad IV. Besok, jenazah suamimu disholatkan olehku, ulama, dan seluruh Istanbul!”
Keesokan harinya, ribuan hadir. Sultan pimpin shalat jenazah, ulama bacakan doa, kota berduka atas wali yang tersamarkan. Kisah ini jadi pelajaran abadi: jangan hakim dari lahiriah, karena hati dan niatlah yang Allah nilai. ***
Sumber Referensi
Anekdot hikmah ini populer dalam literatur Islam Ottoman seperti Tabaqat al-Awliya dan sejarah Murad IV, menggambarkan kemanusiaan sultan serta taqwa wali tersembunyi.
(Reporter ; Hasan Basri Siregar Ketua JWI Deli Serdang).
Views: 8













