Deliserdang, Utomo News, Minggu, 8 februari 2026- |
Di lereng bukit Hira, pada suatu malam penuh misteri tahun 610 Masehi, seorang pria polos bernama Muhammad menerima panggilan ilahi yang mengguncang dunia. Bukan pedang, bukan kekuasaan, melainkan satu kata sederhana namun abadi: “Iqra!” – Bacalah! Ayat pertama Surah Al-Alaq (96:1-5) ini bukan sekadar perintah membaca, tapi deklarasi perang terhadap ketidaktahuan primordial manusia.
Saat itu, Rasulullah SAW, yang ummi – tak pandai baca-tulis – merasa gentar. “Aku tak bisa membaca,” jawabnya. Namun, malaikat Jibril AS merangkulnya erat tiga kali, menegaskan: ketidaktahuan bukan akhir, tapi awal dari transformasi.
Bayangkan: di tengah masyarakat Arab Jahiliah yang haus darah dan buta ilmu, wahyu ini lahir sebagai obat mujarab. “Iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq. Khalaqa al-insana min ‘alaq…” (Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah).
Al-Qur’an tak hanya memerintahkan literasi, tapi mengajak kita renungkan asal-usul keberadaan: dari ‘alaq (segumpal darah) yang lemah dan tak berpengetahuan, Allah ciptakan manusia sempurna, berpotensi tak terbatas. Ini pesan universal tentang pendidikan: setiap ketidaktahuan adalah ‘alaq’ yang siap dibentuk menjadi pemikir hebat.
Dalam tafsir klasik seperti Tafsir Ibnu Katsir, “Iqra” melambangkan pencarian ilmu sebagai ibadah pertama umat Islam. Ketidaktahuan awal Rasulullah SAW justru jadi teladan: pendidikan dimulai dari nol, dari pengakuan kelemahan diri.
Ini relevan banget di era digital kita hari ini, di mana akses ilmu melimpah tapi kebodohan struktural masih merajalela. Di Indonesia, misalnya, angka buta huruf fungsional masih tinggi di daerah terpencil, sementara generasi muda tenggelam di lautan informasi palsu.
“Iqra” mengingatkan: pendidikan bukan soal gelar, tapi transformasi dari kegelapan ke cahaya – dari ‘alaq’ yang rapuh menjadi khalaq (pencipta) perubahan sosial.Lebih luas lagi, narasi Al-Qur’an ini menantang sistem pendidikan modern yang sering elitist.
Ketidaktahuan awal bukan aib, tapi modal. Seperti bayi yang lahir polos, manusia diajarkan thuma ‘allama bil-qalam. ‘Allama al-insana ma lam ya’lam (Kemudian Tuhanmu mengajar dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya).
Pena di sini simbol pengetahuan tertulis, tapi juga keterampilan abadi: bertanya, mencatat, dan berbagi. Hadits Nabi SAW pun menegaskan, “Carilah ilmu walau ke negeri Cina,” menjadikan “Iqra” sebagai blueprint pendidikan inklusif.
Di tengah disrupsi AI dan banjir konten viral, wahyu ini jadi panggilan aksi. Mari kita tiru Rasulullah: akui ketidaktahuanmu, lalu iqra – baca, pelajari, dan ciptakan. Hanya begitu, kita bisa hancurkan kejahilan kolektif dan bangun peradaban gemilang. ***.
( Hasan Basri Siregar Ketua JWI Deli Serdang).
Views: 5













