Deliserdang, Utomo News,Kamis,5 februari 2026 – |
Kekuasaan bisa dicabut dalam sekejap.Kemuliaan bisa runtuh tanpa iman. Benda hanyalah simbol, bukan sumber kekuatan. Bayangkan sebuah kerajaan megah yang tak tertandingi: angin tunduk pada isyaratnya, jin bekerja tanpa lelah di bawah komandonya, binatang memahami bahasa rahasianya, dan manusia takjub pada keadilannya yang sempurna.
Itulah anugerah Allah ﷻ kepada Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, seperti firman-Nya dalam Al-Qur’an: “Maka Kami tundukkan angin kepadanya, berhembus sesuai perintahnya ke mana saja yang diingini dengan lembut…” (QS. Shad: 36).
Kerajaan ini bukan hasil kekuatan Sulaiman semata, melainkan rahmat dan ujian dari Allah, sebagaimana firman-Nya: “Dan sungguh Kami telah memberikan kepada Daud dan Sulaiman ilmu pengetahuan…” (QS. Anbiya: 79).
Hikmah religiusnya jelas: nikmat duniawi hanyalah amanah sementara, yang bisa dicabut kapan saja untuk menguji keteguhan iman.
Cincin Sulaiman: Simbol Amanah, Bukan Sumber Kuasa
Dalam riwayat klasik yang dikenal ulama sebagai kisah isra’iliyyat—meski harus dirujuk dengan hati-hati agar selaras dengan Al-Qur’an—Nabi Sulaiman memiliki cincin batu akik yang bertuliskan nama Allah, menjadi lambang kenabian dan kekuasaannya. Bukan sihir atau benda ajaib, melainkan tanda amanah ilahi, mirip tongkat Nabi Musa yang menjelma ular (QS. Al-A’raf: 107) atau bahtera Nabi Nuh yang menyelamatkan kaum mukmin (QS. Hud: 36-40).
Dengan cincin itu: Para jin mengenali Sulaiman sebagai nabi dan raja sah, tunduk patuh.Keputusan hukumnya ditaati mutlak, mendamaikan langit dan bumi.Kekuasaan dijalankan dengan adil, sesuai perintah Allah: “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah di muka bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil…” (QS. Shad: 26).
Allah ﷻ, Yang Maha Bijaksana, hendak menguji nabi-Nya yang telah dimuliakan. Ini mengingatkan kita pada firman-Nya: “Dan Kami pasti menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar…” (QS. Al-Baqarah: 155).
Ujian bukan hukuman, tapi polesan untuk menyucikan hati dari sifat riya’ dan takabur.
Sekejap Kekuasaan Raib: Jin Durhaka Curi Cincin
Suatu hari, saat Nabi Sulaiman melepas cincinnya untuk mandi dan menitipkannya, Allah izinkan ujian dahsyat terjadi. Jin durhaka bernama Sakhr menyelinap, menyerupai wujud Sulaiman, merebut cincin itu, dan menduduki singgasana.Sekejap mata…Kerajaan berganti tuan.
Nabi Sulaiman yang asli diusir, ditolak rakyatnya sendiri, bahkan dicap pendusta. Bayangkan kehinaan itu: raja agung kini mengembara tanpa mahkota! Ini pelajaran religius mendalam: “Apakah manusia itu engkau (perhatikan), apabila Kami berikan kepadanya nikmat kehidupan (kenikmatan duniawi), lalu ia mengira bahwa Kami tidak akan pernah mengambilnya daripadanya? … Dan barangsiapa bertakwa kepada-Nya, maka Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. Al-Isra: 13-14,).
Kekuasaan bukan milik hamba, tapi hak mutlak Allah—bisa dicabut untuk mengingatkan kita pada kerapuhan dunia.
40 Hari Kehinaan: Iman Tak Pernah Goyah
Selama 40 hari—periode ujian klasik seperti Nabi Musa di bukit Sinai—Nabi Sulaiman hidup dalam nestapa: bekerja buruh kasar, makan sisa-sisa, tidur di atas tikar usang. Tapi imannya tetap teguh, tak tergoyahkan. Di tengah derita, ia berdoa dengan lillahi ta’ala:“Ya Tuhanku, ampunilah aku, dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak patut dimiliki oleh seorang pun sesudahku. Sesungguhnya Engkau Maha kaya lagi Maha Pemberi.” (QS. Shad: 35).
Doa ini bukan kesombongan, melainkan tawadhu total: pengakuan bahwa segala kuasa hanya milik Allah. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang pagi dan petang syukurnya tidak bertambah kecuali dengan rahmat Allah, maka ia celaka.” (HR. Tirmidzi).
Penderitaan bukan akhir, tapi ladang pahala bagi yang sabar, sebagaimana “Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah: 6).
Kemenangan Iman: Cincin Kembali, Kerajaan Bangkit
Akhirnya, atas rahmat Allah, cincin ditemukan kembali—dalam riwayat, melalui ikan yang ditangkapnya. Saat Sulaiman memakannya: Jin durhaka tersungkur kalah.
Kerajaan kembali utuh.Keadilan bangkit lebih gemilang.
Allah tundukkan lagi: angin yang berlari sesuai kehendak-Nya, jin membangun istana dan menyelam lautan, setan dibelenggu. Semua tunduk bukan pada cincin, tapi kehendak Allah Yang Maha Perkasa: “Dan kepada Sulaiman (Kami tundukkan) angin yang kencang hembusannya…” (QS. Shad: 36-38).
Hikmah Abadi: Imanlah Kerajaan Sejati
Kisah ini bukan dongeng ajaib, melainkan pengajaran tauhid: bahaya ghuroor (tertipu nikmat) dan kepentingan bersedih berlebih pada cobaan. Jika nabi pun diuji demikian, alangkah sombongnya manusia biasa!
Nabi Sulaiman kembali berkuasa, tapi kini penuh tawadhu—singgasana bisa runtuh, mahkota jatuh, cincin hilang, tapi iman tulus takkan dicabut.“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3). Itulah kerajaan sejati: hati yang qana’ah kepada Allah. ***.
Reporter ; Hasan Basri Siregar, ketua JWI Deli Serdang.
Views: 6













