Medan, Utomo News, Senin,2 Februari 2026 – |
Bayangkan skenario mengerikan: pangkalan militer AS di Timur Tengah porak-poranda, ribuan prajurit Amerika tewas dalam sekejap, dan pasokan minyak dunia terhenti total. Ini bukan plot film Hollywood, melainkan peringatan keras dari analis militer top AS yang membuat Pentagon gelisah.
Iran, yang selama ini dianggap “hantu” di kawasan, ternyata punya senjata mematikan untuk membalikkan meja perang konvensional melawan Amerika Serikat dan sekutunya, Israel.
Scott Ritter, mantan inspektur senjata Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan perwira Marinir AS berpengalaman, tak segan menyebut Iran sebagai “kekuatan besar” yang disegani di Timur Tengah.
Dalam wawancara terbaru yang viral, Ritter mengungkap fakta mengejutkan: Iran mampu “menghentikan produksi energi di seluruh kawasan kapan pun mereka mau”.
Bayangkan dampaknya—Hormuz Selat, jalur krusial 20% pasokan minyak dunia, bisa diblokade rudal hipersonik Iran. Harga BBM global melonjak, ekonomi AS ambruk, dan perang total pun pecah.
Bukan omong kosong. Ritter, yang pernah memeriksa program nuklir Irak pra-Perang Teluk, menekankan kemampuan rudal balistik Iran seperti Fateh-110 dan Sejjil yang jangkauannya mencapai 2.000 km. Ini cukup untuk menghantam pangkalan AS di Bahrain, Qatar, dan Arab Saudi, plus kota-kota Israel seperti Tel Aviv.
“Iran bisa menyebabkan kerusakan dahsyat pada pangkalan militer AS, yang berujung kematian ratusan hingga ribuan tentara Amerika,” tegas Ritter.
Laporan intelijen AS sendiri mengakui Iran punya 3.000 rudal siap tembak, ditambah drone canggih seperti Shahed-136 yang sudah teruji di Ukraina.
Konteksnya makin panas pasca-serangan Hizbullah dan Hamas yang didukung Iran terhadap Israel. AS, dengan 40.000 tentara di kawasan, kini was-was. Jika perang total meletus—mungkin dipicu eskalasi Gaza atau Lebanon.
Pentagon harus hadapi simetri asimetris: Iran tak butuh jet F-35 mahal, tapi cukup gerilyawan, proxy seperti Houthi Yaman, dan rudal presisi untuk lumpuhkan armada kapal induk USS Abraham Lincoln.
Analis dari think tank RAND Corporation bahkan memprediksi korban AS bisa capai 5.000 jiwa dalam minggu pertama.Iran sendiri tak gentar. Pemimpin Tertinggi Ayatollah Khamenei pernah ancam balas dendam “tak terbatas” jika diserang.
Di tengah sanksi AS yang melemahkan ekonomi, Teheran justru kuatkan arsenal via Rusia dan China. Bagi AS, ini mimpi buruk: perang panjang berbiaya triliunan dolar, seperti Afghanistan 2.0, tapi dengan ancaman nuklir mengintai.
Apakah dunia siap hadapi “Iran Doctrine” yang ubah peta kekuatan? Pantau terus perkembangan—ketegangan ini bisa meledak kapan saja. (Sumber: Pernyataan Scott Ritter via media independen; data rudal dari laporan CSIS Missile Defense Project, 2025)
Reporter ; Hasan Basri Siregar KA Biro Utomo News Deli Serdang.
Views: 18













