Deliserdang, Utomo News, (Kamis, 29 Januari 2026) – |
Dalam tradisi hikmah Islam, jarang ada pelajaran se tajam pisau bedah jiwa seperti ungkapan Lukman al-Hakim: Katanya,bagian terbaik dari sapi adalah hati dan lidah, begitu pula yang terburuk. Kisah ini bukan sekadar anekdot tuan-budak, melainkan cermin tajam bagi setiap manusia—terutama di era media sosial di mana satu tweet bisa membangun atau meruntuhkan reputasi.
Bayangkan: Suatu hari, tuannya Lukman memerintahkan menyembelih sapi dan memilih bagian terbaik. Tanpa ragu, Lukman angkat hati dan lidah. Tuan heran, karena daging tebal, hati sapi empuk, atau sumsum tulang tampak lebih menggoda.
Beberapa waktu kemudian, perintah berulang: ambil bagian terburuk. Lukman ulangi pilihan sama. Tuan bertanya, “Mengapa?” Dengan tenang, Lukman jawab: “Hati yang suci melahirkan niat ikhlas, lidah yang terjaga mengeluarkan kata manis yang menyembuhkan luka.
Keduanya terbaik saat baik—seperti embun pagi yang menyegarkan jiwa. Namun, hati busuk lahirkan dendam, riya’, dan sombong; lidah jadi cambuk fitnah, ghibah, dan dusta. Keduanya terburuk saat rusak—seperti racun yang merusak dari dalam, merembet ke masyarakat.”
Tuannya terpana. Lukman tak pakai khotbah panjang; ia ajarkan dengan aksi sederhana, membuktikan: kebaikan atau kehancuran manusia tak tergantung jabatan atau harta, tapi isi hati dan keluaran lidah.
Hikmah Mendalam: Hati Sebagai Akar, Lidah Sebagai Buah
Ungkapan ini bukan karangan semata, tapi inti wasiat Lukman dalam Surah Luqman ayat 12-19, di mana Allah firmankan: Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Lukman hikmah… (QS. Luqman:12).
Ulama seperti Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin tafsirkan: hati adalah qalb (pusat ruhani), sumber segala niat. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging, jika baik maka baik seluruh tubuh, jika rusak maka rusak seluruhnya: itulah hati” (HR. Bukhari-Muslim).
Lidah? Alat penyampai. QS. Luqman:14-15 perintahkan Lukman: jaga orang tua, tapi tak taat jika menyuruh syirik—bukti lidah harus filter iman. Hikmahnya luas: hati baik hasilkan amal shaleh (QS. Asy-Syu’ara:89), lidah baik bangun ukhuwah.
Sebaliknya, hati kotor lahirkan munafik (QS. Al-Munafiqun), lidah jadi senjata lisaniyah (perang lidah) seperti fitnah yang Nabi ﷺ waspadai: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam” (HR. Bukhari).
Di zaman now, bayangkan: hati iri lahirkan hate speech di medsos, lidah longgar sebarkan hoaks politik. Contoh nyata? Kasus fitnah massal di Indonesia yang picu kerusuhan—semua dari hati dengki, lidah tak terkendali.
Sebaliknya, hati tulus dan lidah lembut ciptakan pemimpin seperti Khalifah Umar: adil bicara, tegas hati.
Lukman: Budak Kulit Hitam Jadi Legenda Hikmah
Kisah ini nyata, diabadikan Al-Qur’an. Lukman bukan nabi (mayoritas ulama Ahlussunnah seperti Ibnu Katsir), tapi budak dari Nubia/Habasyah—kulit hitam, hidup sederhana zaman Nabi Daud AS. Allah beri hikmah (bukan wahyu), fokus tauhid, akhlak, dan tarbiyah anak (QS. Luqman:13-19): Jangan sembah selain Allah, shalat, amar ma’ruf…
Riwayat Ibnu Abbas: Lukman awalnya raja hutan, tapi taat ilmu jadi bijak. Pesan utama? Kemuliaan bukan darah biru, tapi taqwa.
Relevan hari ini: di tengah politik transaksional, ingatkan pejabat jaga hati dari korupsi, lidah dari janji palsu.
Hingga kini, hikmah Lukman menggema: Perbaiki dunia dimulai dari dada dan mulut. Sebelum kritik orang, tanya diri: “Hati saya bersih? Lidah saya bermanfaat?” Itulah senjata abadi—atau bumerang mematikan. ***
Reporter ; Hasan Basri Siregar, Ketua JWI Deli Serdang.
Views: 7












