Deli Serdang, Utomo News, Jum’at 16 Januari 2026- |
Di zaman di mana satu video viral di TikTok bisa mengubah orang biasa menjadi selebriti semalam, godaan untuk “terkenal” terasa begitu kuat. Like, share, dan pujian dari ribuan follower menjadi ukuran sukses.
Tapi, pernahkah kita bertanya: apakah ketenaran itu benar-benar membawa kebahagiaan abadi? Sebuah buku dari Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengajak kita merenung lebih dalam: “Jika engkau mampu untuk tidak dikenal, maka lakukanlah. Engkau tidak akan merugi walaupun tidak dikenal. Engkau pun tidak akan merugi walaupun tidak dipuji. Engkau tidak akan merugi walaupun kamu tercela di mata manusia, asalkan dalam pandangan Allah engkau terpuji.”
Ini bukan sekadar nasihat kuno; ia adalah pelajaran pendidikan karakter yang relevan untuk anak muda hari ini. Bayangkan seorang konten kreator yang rela begadang demi konten sensasional demi jutaan views. Saat pujian mengalir, ia merasa seperti raja dunia. Tapi besoknya, satu kontroversi bisa membuatnya diboikot netizen, reputasinya hancur, dan pujian berubah menjadi cercaan.
Di sinilah hikmah pesan Imam Al Ghazali ini bersinar: ketenaran manusiawi itu rapuh seperti gelembung sabun, sementara ridha Allah adalah fondasi yang tak tergoyahkan.
Mengapa Ketenaran Bukan Tujuan Utama?Dari sisi pendidikan,ungkapan ini mengajarkan tiga prinsip krusial untuk membangun jiwa yang tangguh:
Tidak Dikenal Bukan Kerugian, Tapi Kebebasan. Orang terkenal sering terjebak dalam sorotan: privasi hilang, setiap kata diawasi, dan tekanan untuk terus “perform” tak pernah reda. Contohnya, selebriti seperti Justin Bieber yang pernah mengaku depresi karena paparazzi dan ekspektasi publik. Sebaliknya, orang yang memilih “tidak dikenal” bisa fokus pada amal saleh tanpa beban.
Seperti para ulama salaf yang hidup sederhana, beramal tanpa publisitas, tapi pahalanya mengalir deras di sisi Allah.Pujian Manusia Tak Selalu Benar. Pujian bisa memabukkan, tapi seringkali palsu—berdasarkan tren sesaat, bukan nilai sejati.
Psikologi modern menyebut ini “external validation syndrome”, di mana seseorang bergantung pada approval orang lain hingga lupa identitas diri.
Pesan ini mengingatkan: ukurlah dirimu dari pandangan Allah, bukan dari jumlah like. Rasulullah SAW sendiri bersabda dalam hadis riwayat Muslim: “Barangsiapa mencari keridhaan Allah meskipun menimbulkan murka manusia, maka Allah akan meridhainya dan menenangkan murka manusia terhadapnya.”
Cercaan Manusia Tak Bisa Hancurkan Jiwa yang Kuat. Bahkan orang paling baik pun bisa dicela—ingat Nabi Yusuf AS yang difitnah saudaranya, atau Imam Ahmad bin Hanbal yang disiksa karena mempertahankan sunnah. Tapi di mata Allah, mereka terpuji. Ini pelajaran pendidikan: bangun ketahanan mental dengan taqwa, bukan dengan memburu ketenaran.
Aplikasi Praktis di Era Digital
Untuk generasi Z dan milenial yang haus ketenaran, terapkan hadis ini secara nyata:Pilih Konten Berkualitas, Bukan Viral Murahan. Buat video edukasi tentang agama atau sosial, meski views-nya rendah. Ridha Allah lebih berharga daripada trending topic.
Latih Diri ‘Invisible Mode’. Coba seminggu tanpa posting di medsos—fokus ibadah dan belajar. Kamu akan rasakan kelegaan yang tak ternilai.
Contoh Inspiratif: Sheikh Omar Suleiman, dai terkenal di Barat, sering bilang ia lebih suka “dikenal di surga daripada di Google”. Atau lokal, Buya Yahya yang tetap rendah hati meski jutaan pengikut.
Pada akhirnya, pendidikan sejati bukan soal menjadi terkenal, tapi menjadi teruji di sisi Allah. Mari tinggalkan perlombaan ketenaran yang fana, dan kejar keabadian yang hakiki. Seperti pepatah Arab: “Barangsiapa ridha kepada Allah, maka Allah ridha kepadanya.” ( Hasan Basri Siregar KA biro Utomo News Deli Serdang).
Views: 5













