Deliserdang, Utomo News, Jum’at,16/1/2026 – |
Di era digital yang serba cepat, di mana pemimpin sering kali dikejar deadline dan isu nasional, Presiden Prabowo Subianto memilih momen sederhana yang mendalam: berkunjung ke rumah gurunya, Jenderal TNI (Purn.) Subagyo Hadi Siswoyo. Bukan sekadar silaturahmi, kunjungan ini menjadi simbol abadi bahwa guru bukan hanya pemberi ilmu, tapi penanam benih nilai yang membentuk jiwa pemimpin hebat.
Momen Hangat yang Curi Hati: Murid Berjasa Kembali ke Sang Guru
Bayangkan seorang presiden, di tengah hiruk-pikuk Istana Negara, melepas sepatunya dan menyapa dengan penuh hormat seorang jenderal senior yang pernah membentuk karakternya di barak militer. Saat memasuki kediaman Jenderal Subagyo HS—mantan Kepala Staf Angkatan Darat yang legendaris—Prabowo disambut dengan keakraban ala murid-guru.
Tidak ada protokol kaku, hanya senyum lebar, jabat tangan hangat, dan obrolan ringan tentang masa lalu perjuangan TNI, nilai keprajuritan, serta visi bangsa ke depan.Jenderal Subagyo HS bukan figur sembarangan. Beliau dikenal sebagai pemimpin disiplin, cerdas strategis, dan pembimbing utama bagi Prabowo di awal karier militernya.
Kunjungan ini bukan balas budi semata, melainkan pengakuan tulus: “Guru adalah akar pohon kepemimpinan yang tak tergantikan.”
Di ruang tamu sederhana itu, keduanya berbagi cerita, tertawa mengenang kenangan, dan saling tegur sapa dengan panggilan akrab—bukti loyalitas yang tak pudar meski waktu berlalu puluhan tahun.
Pelajaran Pendidikan Mendalam: Guru sebagai Penanam Nilai Abadi
Lebih dari sekadar berita hangat, momen ini membuka ruang diskusi luas tentang pendidikan di Indonesia. Guru bukan hanya pengajar mata pelajaran di kelas, tapi arsitek karakter yang membentuk generasi penerus.
Dalam konteks pendidikan nasional, kunjungan Prabowo mengingatkan kita pada nilai-nilai luhur yang sering terlupakan di tengah sistem sekolah yang terfokus pada ujian dan prestasi akademik semata.
Bayangkan jika setiap siswa diajarkan sejak dini untuk menghormati guru seperti ini: bukan karena takut nilai buruk, tapi karena sadar bahwa guru adalah penanam benih integritas, disiplin, dan patriotisme.
Di Indonesia, di mana Undang-Undang Guru dan Dosen (UU No. 14 Tahun 2005) menekankan guru sebagai agen perubahan, aksi Prabowo jadi contoh konkret. Ia mengajarkan bahwa pendidikan sejati adalah holistik—menggabungkan ilmu pengetahuan dengan pembentukan akhlak mulia, sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur’an Surah Al-Mujadilah ayat 11: “Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”
Dari perspektif pendidikan modern, ini relevan dengan Kurikulum Merdeka yang menekankan pengembangan karakter (profil pelajar Pancasila). Prabowo, sebagai mantan prajurit, menunjukkan bagaimana nilai militer seperti “hormat kepada senior” bisa diterapkan di sekolah: siswa belajar menghargai guru sebagai mentor seumur hidup, bukan sekadar pekerja formal.
Bayangkan dampaknya—generasi muda yang tidak sombong saat sukses, tapi selalu ingat akarnya.
Data Kemendikbudristek menunjukkan, siswa dengan hubungan emosional kuat dengan guru cenderung punya prestasi lebih tinggi dan risiko putus sekolah lebih rendah hingga 30%.
Kunjungan ini bisa jadi kampanye nasional: “Hormati Gurumu, Bangun Bangsamu.”
Kerendahan Hati Pemimpin: Fondasi Kepemimpinan Sejati
Kunjungan ini juga jadi cermin bagi elite politik Indonesia. Di tengah budaya “lupa asal” pasca-kekuasaan, Prabowo membuktikan: setinggi jabatan presiden, rasa hormat pada guru tetap prioritas. Ini pelajaran pendidikan kepemimpinan untuk anak muda—bahwa pemimpin besar lahir dari sikap kecil seperti sujud hormat, bukan dari gelar atau kekuasaan.
Seperti pepatah Jawa “Guru kang wus ndadosi, murid kang wus ngormati,” momen ini menyentuh hati karena autentik. Prabowo bukan hanya presiden, tapi teladan yang mengajak kita semua kembali ke nilai dasar: guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang pantas dihormati seumur hidup.
Nilai-nilai ini tak hanya untuk Prabowo, tapi blueprint pendidikan nasional: sekolah yang menanam budaya hormat, masyarakat yang menghargai pendidik, dan pemimpin yang tak lupa akar. ( Hasan Basri Siregar, Ketua JWI Deli Serdang).
Views: 38











