Deliserdang, Utomo News, Minggu, 8 februari 2026 – |
Negeri ini pernah dihiasi Buya Hamka, seorang ulama agung yang diuji api kekuasaan, namun bangkit dengan akhlak mulia bak pohon zaitun yang kokoh di tengah badai. Kisahnya bukan sekadar sejarah, melainkan wasiat hidup dari Al-Qur’an: “Dan barangsiapa yang memaafkan dan berdamai, maka pahalanya ada pada sisi Allah” (QS. Asy-Syura: 40).
Buya mengajarkan bahwa memaafkan bukan tanda lemah atau kalah, melainkan tanda jiwa matang yang telah menyatu dengan ridha Ilahi, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi yang mampu mengendalikan dirinya saat marah” (HR. Bukhari-Muslim).
Pada era panas politik awal Republik, Buya Hamka—ulama karismatik asal Minangkabau yang penanya menusuk hati—menjadi sasaran fitnah negara. Bukan karena maksiat atau korupsi, tapi karena perbedaan pandangan politik yang dicurigai membahayakan rezim.
Suaranya dibungkam, pikirannya difitnah sebagai pengkhianat, dan ia dijebloskan ke penjara di masa Orde Lama. Hubungan akrabnya dengan Presiden Soekarno yang dulu seperti bapak dan anak pun retak parah. Bung Karno, sang proklamator yang ia cintai, justru memusuhi Buya secara terbuka.
Bayangkan: ulama yang pernah menjadi penasihat spiritual presiden kini merana di balik jeruji besi, ditinggalkan oleh negeri yang ia perjuangkan dengan darah dan doa.Namun, di tengah kegelapan sel tahanan yang sempit, Buya Hamka tak menumbuhkan duri dendam di hatinya. Ia memilih jalan para nabi: bersabar dan berzikir. “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah: 6)—firman itu menjadi nafasnya.
Di sana, ia menuangkan lautan ilmu ke dalam Tafsir Al-Azhar, magnum opus 30 juz yang lahir dari penderitaan, bukan kemewahan. Karya ini bukan sekadar tafsir, tapi bukti bahwa penjara fisik tak bisa mengurung jiwa merdeka yang bertaut dengan Allah. Buya menulis ratusan halaman, merenung ayat-ayat maaf dan ampunan, sambil berbisik pada Rabbnya: “Ya Allah, jadikanlah aku hamba-Mu yang lapang dadanya.”
Yang membuat Buya istimewa bukan jenius intelektualnya—meski ia hafal ribuan hadits dan menguasai 17 bahasa—tapi keluasan jiwanya yang mencerminkan akhlak Rasulullah SAW. Ia tak balas fitnah dengan cercaan, tak jadikan agama sebagai senjata politik. Sebaliknya, ia pegang teguh sabda Nabi: “Janganlah seseorang bersikap seperti orang bodoh yang berkata, ‘Barangsiapa menyakiti aku, aku akan menyakitinya; barangsiapa menghinaku, aku akan menghinanya.’ Tapi, maafkanlah dan maafkanlah” (HR. Ahmad).
Buya memilih jalan sulit: jaga martabat ilmu dan akhlak, meski hati terluka dalam. Ini pelajaran besar bagi umat: memaafkan adalah jihad nafsu terberat, tanda jiwa telah naik derajat, dari marah yang membakar menjadi rahmat yang menyejukkan.
Puncak kebesarannya datang saat ujian terakhir sejarah. Tahun 1970, saat Soekarno wafat di Jakarta, keluarga Bung Karno—yang dulu memusuhi Buya—datang merendah memohon: “Buya, pimpinlah sholat jenazah presiden.” Tanpa ragu, tanpa tuntutan balas dendam, Buya menerima. Ia berdiri di depan jenazah mantan algojo politiknya, mengimami sholat dengan khusyuk, memimpin doa maghfirah untuk arwah yang pernah menyakitinya.
Tak ada pidato balas dendam, tak ada catatan masa lalu. Hanya ulama yang memaafkan atas nama Allah, membuktikan bahwa “pemimpin yang paling baik adalah yang paling dicintai oleh rakyatnya, dan yang paling dicintai adalah yang memaafkan” (HR. Muslim).
Kisah ini buat bangsa menunduk malu. Kita punya Buya Hamka yang tunjukkan: kekuasaan bisa jatuhkan tubuh, tapi akhlak terjaga angkat derajat umat. Di zaman fitnah digital kini, di mana dendam disebar via medsos, pertanyaannya menggigit: Masihkah kita teladani maaf Buya sebagai kematangan jiwa, atau cukup dikenang sebagai dongeng lama? Wallahu a’lam. ***.
Reporter ; Hasan Basri Siregar Ketua JWI Deli Serdang.
Views: 39












