Air Mata yang Memandikan Cahaya Dunia: Tangis Ali bin Abi Thalib di Pelukan Jenazah Rasulullah SAW

 

Deliserdang, Utomo News Jum’at 30 Januari 2026 -|

 

Madinah al-Munawwarah, kota yang dulu bergema dengan suara azan merdu dan tawa Rasulullah SAW, kini terbungkus kesunyian mencekam seperti kain kafan hitam. Angin pun seolah berhenti berhembus, seakan alam semesta ikut berduka. Hari itu, 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriah, umat Islam kehilangan bukan sekadar pemimpin, melainkan cahaya dunia dan akhirat—Nabi Muhammad SAW, yang wafatnya mengguncang langit dan bumi.

 

Tak ada lagi senyum hangat yang menyembuhkan luka, tak ada lagi panggilan lembut “Ya Ayyuhannas” yang membangkitkan jiwa. Hanya isak tangis yang pecah di setiap sudut Masjid Nabawi dan rumah sederhana Rasulullah SAW, di mana para sahabat berlutut tak percaya.

 

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an: “Wa ma Muhammadun illa rasulun qad khalat min qablihirrusul” (QS. Ali Imran: 144)—Muhammad hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu para Rasul sebelumnya. Wahyu terakhir telah selesai, dan Rasul terakhir telah pulang kepada Robbnya.

 

Di tengah kegelapan duka itu, Sayidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berdiri sendirian, tubuhnya gemetar hebat seperti daun di ujung musim gugur. Di hadapannya terbaring jasad suci yang paling mulia di alam semesta ini: Nabi Muhammad SAW, bukan hanya Rasulullah, tapi paman tercinta yang membesarkannya sejak yatim piatu di usia delapan tahun, guru yang menuntunnya menembus badai penganiayaan Quraisy, ayah rohani yang menyerahkan putrinya Fatimah az-Zahra sebagai pengantinnya, dan sahabat setia yang membelanya di Ghadir Khum dengan kata-kata abadi, “Man kuntu mawlahu fa ‘Aliyyun mawlahu” (Siapa yang aku jadi pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya).

 

Tangan Ali terasa seperti timah cair, beratnya tak tertahankan oleh realitas pahit ini. Hatinya remuk berkeping-keping, seolah pedang Dhulfiqar—senjata andalannya—menusuk dadanya sendiri. Dengan suara parau yang nyaris hilang, ia memulai tugas suci yang hanya dititipkan kepadanya oleh umat: memandikan jenazah Rasulullah SAW.

 

Air zamzam yang suci dituang perlahan ke tubuh beliau yang masih memancarkan kehangatan ilahi, tapi setiap tetes air itu disusul air mata Ali yang mengalir deras, membasahi lantai tanah liat rumah itu. “Ya Rasulallah,” bisiknya dalam tangis tersedu, “engkau yang dulu memelukku saat dingin Makkah menyiksa, kini akulah yang tak sanggup memelukmu lagi.”

 

Bibirnya bergetar melantunkan shalawat yang diajarkan Rasulullah SAW sendiri: “Allahumma shalli ‘ala Muhammadin wa ‘ala ali Muhammadin kama shallaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim, innaka hamidum majid” (HR. Bukhari-Muslim), berharap waktu membeku, berharap ini hanyalah mimpi buruk setelah malam-malam panjang di Badr, Uhud, dan Khandaq, di mana Rasulullah SAW selalu berbisik, “Ali, engkau pintuku ke surga.”

 

Anehnya, tak ada bau kematian yang menyengat. Sebaliknya, ruangan dipenuhi wangi kasturi yang lembut, harum surga yang pernah diceritakan Rasulullah SAW sebagai tanda keagungan para nabi. Wangi itu menyelimuti seperti pelukan terakhir, tapi justru memperparah luka di dada Ali.

 

Ia teringat saat kecil, Rasulullah SAW menggendongnya ke Ka’bah, menyusui ilmu dari dada keimanan, dan di Perang Khaibar saat pedangnya menebas gerbang benteng musuh atas perintah, “Amur wa anta ‘ala haqq” (Aku perintah, dan engkau atas kebenaran). Kini, semua kenangan itu datang bagai banjir, menusuk kalbu lebih dalam dari tusukan mana pun—kehilangan suara yang menenangkan umat, tangan yang menyembuhkan orang buta di Fadak, dan mata yang melihat wahyu Jibril turun. Rasulullah SAW sendiri pernah bersabda tentang Ali: “Ana madinatul ‘ilmi wa ‘Aliyyun babuha” (Aku adalah kota ilmu, dan Ali adalah pintunya, HR. Tirmidzi).

 

Saat mengkafani jasad mulia itu dengan kain sutra sederhana dari Habasyah—pemberian sahabat—Ali tak kuasa menahan tangisnya lagi. Ia berlutut, mencium kaki Rasulullah SAW yang pernah menginjak bumi Makkah untuk tawaf terakhir, lalu berbisik lirih dengan suara pecah, mengingat firman Allah: “Qad afala qadhu minhum man qulna lahu uti rabbak wa utir rabbak” (QS. Al-Ahzab: 1,)—”Telah usai tugasmu, wahai Rasul, sampaikanlah apa yang dititahkan Rabbmu.”

 

“Ya Rasulallah, engkau telah menyampaikan risalah dengan sempurna, menunaikan amanah ilahi, dan memberi nasihat kepada umat hingga akhir hayat. Semoga Allah membalasmu dengan surga Firdaus, dan menjadikan kami pengikutmu yang setia.”

 

Tangannya bekerja dengan gemetar, tapi jiwanya seakan ikut terkubur, meninggalkan lubang hitam di hatinya. Ali sadar, perpisahan ini bukan akhir biasa: wahyu takkan turun lagi, suara adzan pertama dari para malaikat pun meredup, dan zaman keemasan Islam memasuki babak baru tanpa kehadiran fisik kekasih Allah.

 

Ketika pemakaman selesai di kamar Hajar Aswad, Madinah tak lagi sama. Langit terasa menunduk pilu, bumi al-Madinah seolah kehilangan denyut nadinya, dan sahabat-sahabat berbaris dalam barisan duka yang tak terhitung.

 

Namun, di tengah lautan air mata itu, Ali menegakkan tubuhnya yang patah. Ia tahu, mencintai Rasulullah SAW berarti menjaga sunnahnya tetap menyala, meneruskan jihad dengan ilmu dan pedangnya. Sejak hari itu, Sayidina Ali hidup bukan hanya dengan kenangan haru, tapi dengan amanah abadi: menjadi singa Islam yang menjaga risalah hingga akhir hayatnya di Kufah, 40 tahun kemudian.

 

Kisah ini bukan sekadar cerita masa lalu, tapi pelajaran abadi: cinta kepada Rasulullah SAW lahir dari air mata kesetiaan, dan kehilangan terbesar justru tanpa melahirkan generasi penerus yang tak pernah pudar. Menjaga dan mengamalkan Sunnah nabi Muhammad Rasulullah SAW adalah bukti cinta rasul.

 

“Allahumma shalli ‘ala Muhammadin wa ‘ala ali Muhammadin kama shallaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim, innaka hamidum majid”.

 

Reporter ; Hasan Basri Siregar KA Biro Utomo News Deli Serdang.

Views: 13