Deliserdang, Utomo news, Jum’at,16/1/2026- |
Dalam hembusan angin musibah yang menerpa jiwa, tersembunyi sebuah undangan suci dari Sang Pencipta: untuk melihat lebih dalam, menerima dengan ridha, dan bangkit dengan keberanian. Seperti firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Karim, “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah: 5-6).
Ayat ini bukan sekadar janji kosmik, melainkan peta filosofis bagi manusia sebagai khalifah di bumi—mengajarkan bahwa setiap ujian adalah cermin keimanan, di mana kesulitan pertama melahirkan kemudahan pertama, dan kesulitan kedua membuka kemudahan yang lebih agung.
Filosofi kehidupan ini mengajak kita merenung: musibah bukan hukuman semata, melainkan rahmat yang terselubung, sebagaimana Nabi Ayyub AS yang ditimpa penyakit dan kehilangan segala harta kekayaannya, namun justru menemukan kedekatan abadi dengan Rabbnya.
Di sinilah peran krusial pengambil keputusan muncul sebagai jembatan antara qadha (ketetapan Allah) dan qadar (usaha manusia). Pengambil keputusan yang bijak bukanlah yang menyangkal realitas, melainkan yang berani melihat dan menerima musibah apa adanya.
Ini adalah langkah pertama tawakal sejati—seperti Rasulullah SAW bersabda, “Tahu bahwasanya apa yang telah luput darimu tidaklah akan menimpamu, dan apa yang telah menimpamu tidaklah akan luput darimu” (HR. Tirmidzi).
Dengan menerima, kita membersihkan jiwa dari ilusi pengendalian palsu, membuka mata hati untuk hikmah di baliknya.Namun, penerimaan saja tak cukup; pengambil keputusan harus berani mengambil sikap untuk keluar dari masalah. Di sinilah peluang besar terungkap bagi yang berpengetahuan—mereka yang memahami bahwa musibah adalah katalisator transformasi.
Bayangkan seorang nelayan di tengah badai: angin kencang menghancurkan perahu lamanya, tapi ia yang berani memutuskan membangun perahu baru dari puing-puing justru menemukan lautan yang lebih luas. Begitu pula dalam kehidupan, musibah seperti banjir bandang di tanah air kita—bukan akhir, melainkan panggilan untuk rekonstruksi.
Pengambil keputusan yang religius memadukan sabar (tahan menahan) dengan shalat (doa aktif), sebagaimana Allah SWT perintahkan: “Dan carilah kepada Allah pertolongan dengan sabar dan shalat” (QS. Al-Baqarah: 45).
Sikap ini melahirkan inovasi: dari kehilangan pekerjaan lahir kewirausahaan berbasis iman, dari kegagalan politik muncul gerakan reformasi berlandaskan keadilan ilahi.Lebih luas lagi, pengambil keputusan menghadapi dilema filosofis: apakah musibah ini ujian iman, penebusan dosa, atau rahmat preventif?
Para ulama seperti Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa musibah melatih qalb (hati) menjadi lebih suci, mengubah manusia dari budak nafsu menjadi abdi yang sadar akan akhirat.
Bagi pemimpin bangsa, misalnya, banjir bukan hanya bencana alam, tapi panggilan untuk keputusan strategis: relokasi berkelanjutan, keadilan distribusi bantuan, dan taubat kolektif atas kelalaian lingkungan.
Siapa pun yang mengetahui rahasia ini—bahwa di balik setiap ‘inna ma’al ‘usri yusran ada peluang emas—akan bangkit lebih kuat, seperti pohon zaitun yang akarnya dalam di tengah gurun.
Pada akhirnya, musibah adalah undangan untuk menjadi pengambil keputusan yang arif: berani melihat kenyataan pahit, menerima dengan ridha, dan bertindak dengan ikhtiar penuh rahmat. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW mengajarkan, “Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin, segala urusannya baik baginya… Jika ditimpa musibah ia sabar, maka itu baik baginya” (HR. Muslim).
Mari jadikan setiap himpitan sebagai tangga menuju kemudahan yang mulia. ( Hasan Basri Siregar, Ketua JWI DS).
Views: 9












