Deli Serdang (Rabu, 22 April 2026) | Bupati Deli Serdang dr. Asri Ludin Tambunan menyatakan kesiapannya berkolaborasi dengan tim ahli Universitas Sumatera Utara (USU) untuk menggerakkan perempuan pesisir dalam program pemberdayaan tata kelola limbah pesisir dan inovasi produk berbasis kalsium.
Langkah ini diharapkan mampu mengubah limbah domestik dan biomassa lokal menjadi sumber ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat pantai yang selama ini bergantung pada mata pencaharian rentan.
Pertemuan digelar di aula Kantor Bupati Deli Serdang pada Rabu (22/4/2026), menyambut kunjungan Kepala laboratorium fisika nuklir USU Medan, Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si., M.Si., didampingi Dra. Dara Aisyia, M.Si., PhD, Sekretaris Program Studi Ilmu Administrasi Publik FISIP USU.
Bupati Asri Ludin menekankan, “Program ini bukan hanya soal limbah, tapi pemberdayaan wanita pesisir sebagai tulang punggung keluarga dan komunitas. Mereka akan dilatih mengelola limbah menjadi produk bernilai ekonomi, seperti pupuk kalsium atau bahan bangunan ramah lingkungan.”
Dari sisi sosial masyarakat, inisiatif ini menyasar perempuan di wilayah pesisir Deli Serdang yang sering menghadapi double burden: mengelola rumah tangga sekaligus limbah rumah tangga yang menumpuk.
Limbah domestik, ditambah biomassa seperti cangkang telur, kerang, tulang ikan, tempurung kelapa, dan sisa pertanian, menjadi masalah kronis yang mencemari pantai dan mengancam kesehatan masyarakat.
Dr. Sontang Sihotang menjelaskan, “Limbah ini kaya kalsium karbonat yang bisa diekstrak melalui proses pirolisis atau fermentasi biologis, menghasilkan kalsium oksida untuk inovasi produk seperti pakan ternak, pupuk organik, atau bahkan material konstruksion.”
Perspektif Akademis: Tata Kelola Limbah Berkelanjutan dan Ekonomi Sirkular
Secara akademis, program ini selaras dengan konsep ekonomi sirkular yang dikembangkan oleh Ellen MacArthur Foundation, di mana limbah diubah menjadi input produksi baru. Di Indonesia, khususnya pesisir Sumatera Utara, limbah biomassa menyumbang hingga 60% sampah organik laut menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) 2025.
Inovasi berbasis kalsium memanfaatkan reaksi kimia sederhana: [ \ce{CaCO3 ->[panas] CaO + CO2} ], di mana kalsium oksida (CaO) diekstrak dari cangkang untuk aplikasi multifungsi.
\ce{CaCO3 ->[panas] CaO + CO2}
Kolaborasi dengan USU juga mengintegrasikan pendekatan administrasi publik partisipatif, seperti yang dikaji Dra. Dara Asyia dalam studi FISIP-nya.
“Pemberdayaan wanita pesisir bukan hanya teknis, tapi melibatkan governance inklusif: pelatihan kewirausahaan, akses pasar digital, dan pengawasan komunitas,” ujarnya.
Dampak sosialnya luas—mengurangi kemiskinan perempuan pesisir (yang mencapai 25% di Deli Serdang berdasarkan BPS 2025), meningkatkan ketahanan pangan, dan menjaga ekosistem mangrove yang vital bagi perikanan lokal.
Bupati Asri Ludin menambahkan, program ini akan direplikasi ke kecamatan pesisir seperti Pantai Labu dan Percut Sei Tuan, dengan target 500 wanita terlatih dalam enam bulan pertama. “Ini bukti komitmen Pemkab untuk pembangunan berkeadilan sosial, di mana masyarakat pesisir tak lagi jadi korban limbah, tapi pelaku inovasi,” pungkasnya.
Inisiatif ini diharapkan menjadi model nasional pemberdayaan berbasis sains untuk komunitas marginal, sejalan dengan RPJMN 2025-2029 yang menargetkan nol limbah laut pada 2030.
(Hari’S)
Views: 25












