Berita  

Uang Bukan Segalanya : Epistemologi Islam Melawan Virus Pasca OTT Petinggi BGN

 

 

Oleh: Hasan Basri Siregar, Ketua JWI Deli Serdang

 

 Deli Serdang, Utomo News, Jum’at, 5 Juni 2026-|

 

“Uang memang bisa membeli apa saja, tapi uang bukan segalanya. Gegara uang, banyak yang nekat korupsi, membunuh, berkelahi bahkan sampai tak bersiteguran.”

 

Premis ini selaras dengan temuan sosiologi dan ekonomi perilaku: uang adalah neutral tool, tapi manusia yang memberinya makna. Penangkapan petinggi BGN Rabu 3/6/2026 barusan menjadi sinyal empiris: ketika uang dijadikan tujuan akhir, ia menjerumuskan manusia melewati batas martabat, keluarga, pangkat, hingga kerabat. 

 

Islam menyebut fenomena ini dengan satu kata: “hubbud dunnya “– cinta dunia berlebihan.

 

Rujukan Wahyu: Diagnosis Quran & Hadis tentang Bahaya Harta 

a. Al-Quran: Harta sebagai Ujian, Bukan Tujuan;  

Allah berfirman:  

*إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ*  

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah ujian bagimu” QS. At-Taghabun: 15  

 

Kata “fitnah” = ujian yang bisa meluluskan, bisa menggagalkan. Korupsi BGN adalah contoh “gagal ujian”: harta triliunan MBG yang harusnya menyehatkan anak, justru jadi jerat hukum. 

 

Allah juga mengingatkan:  

*وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ*  

“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil” QS. Al-Baqarah: 188  

 

“Batil” mencakup korupsi, markup, suap, gratifikasi. Ulama tafsir sepakat ayat ini larangan tegas mengambil hak publik. Pejabat BGN yang korupsi = memakan harta anak miskin penerima MBG = batil.

 

b. Hadis: Peringatan Keras untuk Pemegang Amanah;  

Rasulullah ﷺ bersabda:  

*مَا مِنْ عَبْدٍ اسْتَرْعَاهُ اللَّهُ رَعِيَّةً، فَلَمْ يَحُطْهَا بِنَصِيحَةٍ، إِلَّا لَمْ يَجِدْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ*  

“Tidaklah seorang hamba yang diserahi Allah untuk memimpin rakyat, lalu ia tidak menasihatinya dengan tulus, melainkan ia tidak akan mencium bau surga”HR. Bukhari 7151, Muslim 142  

 

Pejabat publik = ra’in = penggembala. Korupsi = khianat pada “kawanan”. Hadis ini ancaman keras: jabatan tanpa amanah = pintu surga tertutup.

 

Hadis lain: *اليد العليا خير من اليد السفلى* “Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah” HR. Bukhari 1429. Artinya: Islam dorong kaya lewat kerja halal + sedekah, bukan kaya lewat rampas hak orang.

 

Pemahaman Ilmiah-Islam: Kenapa Manusia “Nekat Korupsi Gegara Uang”? 

Dari kacamata neuroscience + tazkiyah nafs:  

1. Dopamin Akumulasi: _”Dapat satu mau dua, dapat dua mau tiga”. Otak ketagihan dopamin saat dapat harta. Quran menyebut كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَىٰ، أَن رَّآهُ اسْتَغْنَىٰ “Sekali-kali tidak! Manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup” QS. Al-Alaq: 6-7. Rasa “cukup” hilang, lahir tamak.

 

2. Kaburnya Barokah vs Nominal: Korupsi BGN nominal besar, tapi barokah nol. Hadis: كل لحم نبت من سحت فالنار أولى به “Setiap daging yang tumbuh dari harta haram, maka neraka lebih pantas untuknya” HR. Tirmidzi 614. Dampak: keluarga retak, “tak bersiteguran”_, anak tidak berkah.

 

3. Matinya Muraqabah: “Takut dosa, takut Tuhan hilang”_. Padahal inti integritas Islam adalah *ihsan*: merasa diawasi Allah 24 jam. QS. Al-Mulk: 12.

 

4. Solusi Ilmiah-Aqliy & Naqliy agar Tidak Korupsi 

Mengacu Quran, Hadis, dan ilmu manajemen integritas, ada 3 vaksin:

 

Vaksin 1: Kognitif – “Tanamkan Mindset Harta = Amanah, Bukan Milik”

QS. An-Nisa: 58: *إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا* “Sungguh Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak”.  

Latihan harian pejabat: tulis di meja kerja “Ini uang rakyat, bukan uang saya”. Ini teknik psikologi “priming moral”.

 

Vaksin 2: Spiritual – Hidupkan Muraqabah & Zuhud  

Zuhud ≠ miskin. Zuhud = hati tidak bergantung pada uang. Rasulullah ﷺ bersabda: ازهد في الدنيا يحبك الله _”Zuhudlah pada dunia, niscaya Allah mencintaimu” HR. Ibnu Majah 4102.  

 

Ritual: Sebelum tanda tangan proyek, baca QS. Al-Baqarah: 188. Tanya: “Ridha Allah atau ridha setan uang?” Ini “pause moral” 10 detik yang menyelamatkan karier.

 

Vaksin 3: Sistemik – Transparansi + Hisab Diri + Hukuman Tegas 

Islam perintah syura + transparansi: QS. Ali Imran: 159. Maka proyek MBG harus real-time, bisa diakses publik. 

 

Hisab diri: Umar bin Khattab tiap malam audit diri: “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab”. 

Hukuman: QS. Al-Maidah: 38 tentang potong tangan bagi pencuri adalah _deterrent effect_ agar orang takut sebelum berbuat.

 

Penutup: Pilih Kaya Barokah atau Kaya Terlaknat 

 

Uang bisa beli rumah, tapi tidak beli ketenangan. Uang bisa beli pangkat, tapi tidak beli doa anak yatim. Kasus BGN mengingatkan: “banyak pelaku korupsi tanpa menjaga martabat, keluarga, pangkat dan kerabat”.

 

Solusinya bukan anti-uang, tapi anti-hubbud dunnya. Kaya silakan, asal lewat اليد العليا – tangan di atas: kerja, usaha, inovasi, sedekah. 

 

Kita tutup dengan doa Nabi ﷺ: *اللهم اكفني بحلالك عن حرامك، وأغنني بفضلك عمن سواك*  

“Ya Allah, cukupkan aku dengan yang halal dari-Mu sehingga tidak butuh yang haram, dan kayakan aku dengan karunia-Mu sehingga tidak butuh selain-Mu” HR. Tirmidzi 3563.

 

Karena uang bukan segalanya. Yang segalanya adalah ridha Allah. (*). 

 

Referensi : Tafsir Ibnu Katsir, Shahih Bukhari-Muslim, Sunan Tirmidzi, Jurnal Behavioral Ethics 2024.

 

Views: 10