Deliserdang, Utomo News, Selasa 27 Januari 2026 – |
Dunia hormat padanya sebagai “The Grand Old Man” Indonesia. Diplomat jenius penguasa sembilan bahasa asing, pembantai lawan debat di Liga Bangsa-Bangsa (cikal bakal PBB). Tapi H. Agus Salim? Ia memilih jadi pemimpin menderita—bukan sultan ber-AC di istana.
Di balik jas rapi dan isak kreteknya, Agus Salim hidup melarat ala pejabat negara. Tak ada villa mewah, tak ada mobil dinas pribadi. Hingga akhir hayatnya pada 4 November 1954, ia tak pernah punya rumah sendiri.
Prinsipnya tegas: “Leiden is Lijden”—Memimpin itu Menderita. Ungkapan ini lahir dari masa studinya di Universitas Leiden, Belanda, di mana ia belajar bahwa kepemimpinan sejati bukan pesta kemewahan, melainkan ikut merasakan derita rakyat.
Saat rakyat kelaparan di bawah penjajah, pemimpin tak boleh rebahan di fasilitas negara. Mereka tolak hidup enak, karena itu pengkhianatan.
Religiusnya mendalam: Agus Salim hayati Al-Qur’an seperti QS. Al-Hasyr :7—”Apakah kamu (Muhammad) mengharapkan bahwa mereka akan beriman kepadamu, padahal sebagian dari mereka mendengar perkataan Allah, kemudian mereka mengubahnya setelah memahaminya, sedang mereka mengetahui?” Ia terapkan amanah kepemimpinan sebagai ujian derita, bukan jarahan duniawi.
Hadits Nabi SAW riwayat Bukhari-Muslim perkuat: “Barangsiapa yang malam harinya dalam keadaan kenyang sedangkan kaum muslimin di sekitarnya lapar, maka bukanlah dari golonganku.”
Agus dan Zainatun hidupkan itu—gaji habis untuk sedekah, bukan pesta. Pendamping setianya, Zainatun Nahar, bukan istri pejabat sombong yang sibuk arisan atau pamer berlian. Wanita tangguh ini rela nomaden: pindah kontrakan sempit di gang becek Jakarta—Tanah Abang, Jatinegara, Karet. Gaji Agus Salim? Habis untuk perjuangan kemerdekaan dan sedekah rakyat miskin.
Zainatun sering putar otak supaya anak-anak makan. Suatu hari, dompet kosong. Ia sajikan nasi kecap, sambut suami dengan senyum—bukan air mata keluhan, tapi tawakal seperti ajaran QS. Asy-Syarh :5-6, “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
Puncak legendaris: kontrakan Tanah Abang banjir deras. Atap bocor, air genangi ruang tamu. Tamu penting—tokoh pergerakan—datang. Malu? Zero. Agus Salim ajak Zainatun nyanyi sambil pasang ember di bawah tetesan. Jenaka, ia bilang: “Maaf, Nyonya lagi atur ‘bendungan’. Sebentar lagi kita punya kolam renang indoor!” Tamu tertawa, Zainatun bangga.
Kemiskinan tak rampas harga diri mereka. Mudah bagi Agus tolak “hadiah” rumah atau uang dari sahabat. Tapi prinsip “Leiden is Lijden” tak bisa ditawar: pemimpin harus derita bareng rakyat, bukan culik fasilitas negara untuk hidup sultan.
Relevansi Tajam untuk Indonesia 2026: Tamparan bagi Elite Lapar Harta
Bayangkan kontrasnya hari ini. Agus Salim ajarkan kepemimpinan sebagai penderitaan sadar—bukan pesta korupsi. Di era Jokowi-Prabowo, berita korupsi pejabat banjiri layar: rumah mewah, jet pribadi, sementara rakyat tercekik inflasi dan banjir. “Leiden is Lijden” bukan sekadar moto, tapi etika revolusioner berbasis syariah.
Warisannya? Nama besar, nol harta. Zainatun lepas suami dengan tegar: “Mutiara tak butuh kotak emas untuk bersinar.”
Kisah ini tampar kita: ukur kebahagiaan bukan dari villa atau SUV, tapi keberanian hidup susah demi rakyat—seperti sabr Nabi Yusuf AS di penjara demi umat.
Pejabat hari ini, dengar baik-baik: Mereka tak mau hidup enak dari fasilitas negara, sementara rakyatnya masih sengsara.Terima kasih, Pak H. Agus Salim & Ibu Zainatun Nahar—pemimpin sejati yang derita jadi pelajaran abadi.
Sumber: Arsip Peristiwa Nasional, Biografi H. Agus Salim, Tafsir Al-Qur’an & Shahih Bukhari-Muslim.
(Reporter ; Hasan Basri Siregar KA Biro Utomo News Deli Serdang).
Views: 33











