Deliserdang, (Utomo News, Sabtu, 10/1/2026)- |
Bayangkan malam yang sunyi di negeri Syam (sekarang Suriah), sekitar abad ke-12 Masehi. Istana Sultan Nuruddin Mahmud Zanki, penguasa legendaris yang dijuluki “Zahir” karena zuhud dan keadilannya, menjadi saksi pencurian makam jasad nabi Muhammad Saw yang suci.
Tapi di balik kemewahan itu, seorang hamba Allah terbangun dengan napas tersengal, keringat dingin membasahi jenggotnya yang panjang.Mimpi Pertama: Perintah Ilahi Langsung dari Sang Kekasih Allah. Sultan Nuruddin bukan sembarang pemimpin. Ia penerus Jihad Nuruddin Zengi, penakluk Saladin yang merebut Yerusalem dari Tentara Salib. Dikenal sebagai asket yang tidur di atas tikar jerami meski istananya megah, ia selalu takut kepada Allah sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an: “Dan berusahalah untuk (mendapat) ampunan dari Tuhanmu dan (lahir) ke dalam surga yang ambarnya seluas langit dan bumi yang telah disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (QS. Ali Imran: 133).
Malam itu, dalam tidurnya, Rasulullah SAW muncul bukan dengan senyum mushafah, bukan pula kabar gembira surga. Beliau berdiri tegar, wajah mulia penuh keseriusan, menunjuk dua sosok samar di kejauhan. Suara lembut tapi mengguncang alam semesta bergema: “Wahai Mahmud… selamatkan aku dari dua orang ini.”Sultan terlonjak. Jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang. Ia langsung berwudhu, mendirikan shalat tahajud di tengah kegelapan. “Ya Rabb, jika ini petunjuk-Mu, kuatkan hamba-Mu,” gumamnya sambil menangis.
Tapi mimpi itu bukan ilusi satu malam. Malam berikutnya, Rasulullah SAW datang lagi—wajah sama, isyarat sama, kalimat sama. Ini bukan mimpi biasa; ini karomah Nabi yang hidup abadi, sebagaimana hadis riwayat Imam Ahmad: “Sesungguhnya Allah menjaga jasad para nabi di dalam kubur mereka seperti menjaganya saat hidup.”
Panggilan Mendesak: Perjalanan Ajaib 16 Hari yang Mustahil
Pagi harinya, Sultan memanggil dewan ulama, panglima, dan sahabat karibnya. Suaranya tegas tapi bergetar: “Aku melihat Rasulullah SAW meminta tolong. Demi Allah, aku tak tunda satu jam pun!” Ruangan hening. Mereka tahu, mimpi sultan zuhud seperti ini adalah isyarat ilahi, bukan khayalan. Ulama mengangguk: “Ini seperti mimpi Ibnu Sirin yang menyelamatkan umat dari fitnah.”
Perjalanan Syam ke Madinah biasanya 30 hari penuh: gurun pasir membara, badai pasir mencekik, serigala dan bandit mengintai. Tapi Sultan berangkat siang itu juga dengan pasukan kecil. Ajaib! Sejarah mencatat: hanya 16 hari mereka tiba.
Bumi seolah dilipat Allah, seperti mukjizat Ashab Kahfi atau Isra’ Mi’raj. Angin berpihak, oasis muncul tiba-tiba, kuda-kuda tak lelah. Ini penjagaan Allah SWT, sebagaimana firman-Nya: “Dan Allah melindungi mereka dari bahaya” (QS. Ali Imran: 11).
Pengintaian Cerdas: Sedekah sebagai Jebakan Ilahi
Sampai Madinah, Sultan tak gegabah. Tak ada tuduhan, tak ada penggeledahan kasar. Ia umumkan: “Aku bawa sedekah untuk Ahlul Madinah, kota kekasih Rasulullah!” Dan sumpahnya heroik: “Tak satu dirham pun lewat tangan perantara. Aku sendiri yang bagikan, tatap muka!”Ia duduk di masjid Nabawi, tangan kanannya menyentuh tangan rakyat: janda yatim, pedagang miskin, ulama tua. Hingga dua lelaki mendekat.
Pakaian lusuh tapi bersih, wajah penuh bekas sujud panjang, bibir basah zikir “Subhanallah”. Mereka tampak paling taqwa, air mata menetes saat terima sedekah. Penduduk Madinah tersentuh: “Subhanallah, betapa rendah hatinya!”Tapi hati Sultan bergetar hebat. Wajah itu persis! Tak bertambah, tak berkurang—dua pencuri dari mimpi Rasulullah SAW. Ia tahan amarah, perintahkan penggeledahan rumah mereka secara rahasia.
Awalnya kosong: Al-Qur’an, sajadah, tak ada emas. Tapi tanah lantai terasa aneh—lunak, baru digali. Cangkul masuk… dan terowongan terbuka! Sempit, gelap, rapi, panjang ratusan meter—lurus mengarah ke Rawdah Mubarak, makam Rasulullah SAW di bawah mimbar Masjid Nabawi.
Tangisan Madinah: Mukjizat Penjagaan Abadi
Penduduk tersungkur, isak tangis pecah. Lutut lemas, hati hancur. Dua “abdi taqwa” itu ternyata pengkhianat: rencana curi jasad suci untuk dijual ke khalifah Mesir atau Eropa, demi harta karun. Tapi Allah SWT jaga makam kekasih-Nya bukan dengan pasukan ribuan, bukan pedang berkarat. Melainkan: mimpi sultan shalih, perjalanan ajaib, sedekah sebagai umpan, dan tanah Madinah yang “bercerita”.
Sebagai penutup epik, Sultan perintahkan gali parit lebar di sekeliling makam, tuang timah cair panas—logam cair yang tak tembus cangkul mana pun. Hingga kini, makam Rasulullah SAW aman, disaksikan dunia. Seperti firman Allah: “Sesungguhnya Kami akan memperingatkan (melindungi) apa yang telah Kami turunkan” (QS. Al-Hijr: 9). Madinah bersaksi: Allah jaga Nabinya saat hidup dengan wahyu, saat wafat dengan mukjizat.
Kisah ini masyhur dalam kitab sejarah Islam: “Al-Bidayah wa an-Nihayah” karya Ibnu Katsir (jilid 13) dan “Wafa’ al-Wafa’” karya As-Samhudi. Bukan hadis bersanad, tapi riwayat mutawatir yang jadi pelajaran umat.
Reporter; Hasan Basri Siregar.
Views: 3











