Jangan Bangga Teman Segudang, Saat Susah Gudangnya Kosong! Pilih Sahabat Sejati yang Punya Cara Segudang Menolong
Deli Serdang, Utomo News,Jum’at, 23 Januari 2025 – |
Di era media sosial yang gemerlap, kita sering tergoda membanggakan “teman segudang”. Foto bareng di pesta, story liburan bersama, atau grup chat yang ramai—semua tampak sempurna. Tapi, coba bayangkan saat badai hidup menerpa: usaha bangkrut, keluarga berantakan, atau sakit menyerang tanpa ampun. Tiba-tiba, ponsel sepi, like berubah jadi hening, dan gudang pertemanan itu kosong bulat.
Tak ada yang datang, hanya alasan-alasan basi seperti “sibuk” atau “lagi jauh”.Pepatah bijak ini menggigit: “Jangan bangga punya teman segudang, tapi di saat susah gudangnya kosong. Lebih baik punya teman seorang, tetapi di saat susah punya cara segudang menolong.”
Kalimat tersebut bukan sekadar kata-kata, tapi pelajaran hidup yang diajarkan oleh Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Maidah ayat 55: “Sesungguhnya wali-wali (penolong-penolong) kamu ialah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, sedang mereka rukuk.” (QS. Al-Maidah: 55).
Ayat ini mengingatkan bahwa sahabat sejati adalah yang menolong dengan iman, bukan janji kosong—seperti zakat yang mengalir saat orang lain berlutut dalam kesulitan.Rasulullah SAW juga menekankan kualitas daripada kuantitas dalam pertemanan. Dalam hadits riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi, Beliau bersabda: “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain, ia tidak menzaliminya, tidak membiarkannya (dalam kesusahan), dan tidak menghinakannya.” (HR. Abu Dawud no. 4874).
Lihat betapa dalamnya: sahabat bukan yang ramai tapi hilang saat susah, melainkan yang punya “cara segudang”—menolong tanpa diminta, melindungi dari dosa, dan mendekatkan pada ridha Allah.
Ambil contoh nyata dari negeri kita. Di tengah banjir bandang melanda Sumatra,Padang dan aceh, tahun 2025 seorang pedagang kaki lima kehilangan warungnya. Teman-temannya yang dulu suka nongkrong? Tak satu pun muncul. Tapi seorang tetangga sederhana, yang jarang ikut pesta, datang dengan segudang cara: pinjamkan tenda darurat, ajak jualan online via Instagram-nya, bahkan galang dana lewat masjid setempat. Hasilnya? Warung bangkit lebih kuat, dan ikatan itu jadi keluarga baru.
Kisah ituI mirip kisah sahabat Nabi, Abu Bakar as-Shiddiq RA, yang rela habiskan hartanya menolong Rasulullah di Gua Tsur—satu orang, tapi cara nolongnya segudang.
Pertemanan sejati seperti pohon zaitun di padang tandus: tunggal tapi akarnya menembus batu, buahnya memberi minyak untuk ribuan lampu. Ia tak hanya bagi rezeki material, tapi juga nasihat syar’i, doa midnight, dan pengingat akhirat.
Bandingkan dengan teman palsu seperti gelembung sabun: indah sebentar, pecah saat disentuh masalah. Islam mengajarkan kita memilih teman yang membawa ke surga, sebagaimana sabda Nabi SAW: “Seseorang itu mengikuti agama teman dekatnya, maka perhatikan siapa yang kamu jadikan teman.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Jadi, saudara-saudaraku, jangan terlena dengan jumlah. Audit pertemanan Anda hari ini: siapa yang hadir saat susah? Bangun ikatan dengan akad ukhuwah Islamiyah—saling tolong, nasihati, dan ingatkan. Saat ujian datang, Anda takkan kesepian. Satu sahabat setia dengan cara segudang menolong jauh lebih mulia daripada segudang teman yang kabur saat musibah datang. Mari jadi teman seperti itu bagi orang lain, insyaAllah surga menanti. ***.
( Hasan Basri Siregar Ketua JWI Deli Serdang).
Views: 24












