Jabatan Amanah, Kelaparan Rakyat Jadi Hutang Akhirat: Dari Umar bin Khattab Hingga Para Pahlawan Minang

 

Deli Serdang,(Utomo News, Jum’at 9/1/2026)- |
Dalam hiruk-pikuk politik Indonesia yang kian tercemar korupsi, sebuah pengingat abadi dari Al-Qur’an patut menjadi cambuk nurani setiap pemimpin: “Sesungguhnya Kami telah menawarkan Amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan memikulnya dan khawatir akan mengkhianatinya; dan dipikullah oleh manusia. Sesungguhnya ia amat zalim dan amat bodoh” (QS. Al-Ahzab: 72).

Amanah ini bukan sekadar tanggung jawab administratif, melainkan ikatan suci yang menuntut pertanggungjawaban di Yaumul Akhir. Setiap jabatan publik adalah titipan Ilahi, dan setiap tangisan rakyat akibat kelaparan, kemiskinan, atau ketidakadilan akan menjadi saksi menjerit di hadapan Allah SWT.

Hadits Nabi Muhammad SAW semakin mengiris hati: “Apabila seorang hamba meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya” (HR. Muslim). Lebih tegas lagi, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang kami angkat untuk suatu urusan (jabatan), kemudian ia mengambil sesuatu (harta secara haram), maka ia termasuk pencuri” (HR. Abu Dawud).

Ini bukan retorika kosong, melainkan peringatan bahwa korupsi bukan hanya kejahatan negara, tapi dosa akhirat yang tak terampuni. Bayangkan: seorang pejabat yang kaya raya dari suap, tapi di akhiratnya, jeritan anak yatim kelaparan yang tak tersentuh bantuan sosial menjadi bukti pengkhianatan amanah.

Contoh teladan ini bukan monopoli zaman modern. Khalifah Umar bin Khattab, pemimpin adil yang memerintah kekhalifahan Islam terluas, pernah menangis tersedu saat melihat seorang ibu dan anaknya kelaparan di malam gelap Madinah. Tanpa ragu, beliau langsung menuju Baitul Mal, mengambil gandum negara, dan membagikannya sendiri sambil berkata, “Kalau bukan karena amanah ini, aku takkan tidur nyenyak.” Umar tak pernah mencuri dari rakyat; sebaliknya, harta negara ia anggap titipan untuk kesejahteraan umat, bahkan rela berjalan kaki demi merasakan penderitaan mereka.

Inilah yang membedakan para negarawan sejati dari oportunis modern. Lihatlah Bung Hatta, Bapak Ekonomi Indonesia dari Minangkabau, yang hidup sederhana di rumah kayu sederhana di Jakarta meski memegang kendali keuangan negara pasca-kemerdekaan. Ia menolak gaji besar, memilih naik sepeda ontel, karena paham betul hisab akhirat lebih berat dari neraca APBN.

Tan Malaka, sang revolusioner Minang yang tegas menentang imperialisme, hidup mengembara tanpa harta, yakin bahwa “segala perbuatan di dunia akan dihisab kelak.” Sutan Sjahrir, Perdana Menteri pertama RI, juga dikenal dengan gaya hidup asketisnya—tak pernah tergoda kas negara meski di tengah krisis. Mereka, para pendiri bangsa dari tanah Minang yang kental nilai Islam dan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, tak berani mencuri karena takut pada Sang Pencipta.

Hidup bersahaja mereka adalah cermin taqwa: prioritas rakyat di atas nafsu pribadi.Sayangnya, kontras mencolok dengan realitas hari ini. Laporan KPK mencatat ribuan kasus korupsi pejabat yang “makan gaji buta” sambil rakyat menderita inflasi pangan dan banjir bantuan yang tak tepat sasaran.

Kelaparan bukan lagi metafor; data BPS 2025 menunjukkan 25 juta rakyat miskin garis bawah, sementara jet pribadi pejabat beterbangan.

Ini pertanggungjawaban akhirat yang nyata: setiap rupiah dicuri berarti tangisan ibu yang tak mampu belikan susu untuk anaknya.

Semoga kita semua—pemimpin maupun rakyat—menjadi hamba yang bertaqwa, sabar menjaga amanah, dan dijauhkan dari godaan mengambil yang bukan hak kita. Hidup sederhana seperti Umar dan para pahlawan Minang bukan kebodohan, tapi investasi surga. Aamiin ya Rabbal Alamin. ( Hasan Basri Siregar KA Biro Utomo news Deli Serdang).

Views: 18