Deliserdang, Utomo News, Jum’at 23 Januari 2026- |
Dalam Isra’ Mi‘raj, Rasulullah ﷺ mencium aroma harum semerbak di langit. Saat bertanya, Jibril ‘alaihissalam menjawab:
“Itu bau Mashitah dan anak-anaknya.”
(HR. Ahmad, Ibnu Abi Hatim, dan lainnya dalam riwayat Isra’ Mi‘raj).
Bayangkan: Di tengah istana megah Firaun yang zalim—simbol kesombongan tauhid palsu—hidup seorang pelayan sederhana bernama Mashitah. Ia hanyalah pengurus rambut putri Firaun, tapi rahasia terbesarnya adalah tauhid murni yang mengikat hatinya pada Allah semata.
Tak ada pasukan, tak ada harta, tak ada kekuasaan. Hanya iman yang kokoh, seperti gunung yang tak goyah meski badai menerpa.
Tauhid yang Menyala di Balik Siksaan: “Bismillah” yang Mengguncang Singgasana
Suatu hari, saat menyisir rambut putri Firaun, sisir Mashitah terjatuh. Refleks, bibirnya mengucap: “Bismillāh.”
Putri terkejut: “Apakah itu nama ayahku?”
Mashitah menatap tenang, penuh keimanan: “Tidak. Itu nama Allah, Tuhanku, Tuhanmu, dan Tuhan ayahmu.”Ucapan itu bagai petir yang menyambar istana taghut! Firaun marah besar yang mengaku tuhan (QS. An-Nazi’at: 24).
Mashitah diseret ke hadapannya. Di depan kuali raksasa berisi air mendidih—api menyala ganas di bawahnya—Firaun menggertak:
“Tinggalkan Tuhanmu! Akui aku sebagai tuhan, atau keluargamu binasa!”Mashitah tak bergeming.
“Allah Rabb semesta alam. Aku takkan menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun” (QS. Al-Baqarah: 163). Ini bukti pertama: iman tauhid tak bisa dibakar oleh ancaman dunia.
Firaun ingin hancurkan imannya lewat hati seorang ibu, tapi tauhid Mashitah lebih kuat dari besi tempa.
Iman Tak Bisa Direbus: Anak-Anak Syuhada di Api Firaun
Firaun perintahkan lempar anak-anak Mashitah satu per satu ke air mendidih. Mata Mashitah basah, hati teriris, tapi lisan tetap zikir: “Ya Allah, terimalah mereka sebagai syuhada-Mu!” Setiap jeritan anaknya tak goyahkan tauhidnya. Ini mengingatkan janji Allah: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang sebelum kamu?” (QS. Al-Baqarah: 214).
Puncaknya, giliran bayi menyusu terakhir. Hati ibu Mashitah goyah sesaat—cinta manusiawi itu nyata. Tapi atas izin Allah, bayi itu berbicara mukjizat:
“Wahai Ibu, bersabarlah. Engkau di atas kebenaran!”Tauhid kembali membara! Mashitah seru: “Lemparkan!” Bayi itu pun jadi syahid, baunya harum ke langit. Iman tak bisa direbus oleh api neraka duniawi—seperti janji Rasulullah ﷺ: “Api dunia ini sepertiga dari api neraka, tapi iman mukmin lindungi dia” (HR. Muslim).
Iman Tak Bisa Dibunuh: Mashitah Terangkat ke Langit
Akhirnya, Mashitah dilempar ke kuali itu. Tubuhnya hancur, tapi ruhnya terbang ke surga. Api tak bakar tauhidnya, air mendidih tak rebus imannya, kematian tak bunuh keyakinannya. Firaun kalah total—singgasananya runtuh oleh satu wanita tanpa senjata!Iman tauhid tak bisa dibakar (seperti Nabi Ibrahim as. di api Namrud, QS. Al-Anbiya: 69).
Tak bisa direbus (seperti Mashitah hadapi siksa Firaun).
Tak bisa dibunuh (seperti para syuhada yang hidup di sisi Rabbnya, QS. Ali Imran: 169).
Mashitah buktikan: Tauhid adalah senjata terkuat. Di era fitnah sekarang—godaan media, kekuasaan palsu, siksaan modern—mari pegang iman seperti dia. Tak perlu pasukan; cukup La ilaha illallah.
Demikian pula rakyat Iran, mereka tak takut mati akibat ancaman Amerika Serikat pemimpin brutal yang ingin menguasai dunia. Iran menunjukkan kepada dunia bahwa, ke imanan tak bisa digertak, di bom bahkan di nuklir sekalipun. ( Hasan Basri Siregar Ketua JWI Deli Serdang).
Views: 44











