Deli Serdang, (Utomo news, Jum’at 12″ Desember 2025,) |
Di era di mana ujian hidup datang bertubi-tubi, mulai dari gejolak politik pasca-pemilu hingga bencana alam seperti banjir bandang di Sumatra Utara dan Padang dan gempa di Aceh, sebuah ungkapan abadi dari Imam Al-Ghazali kembali menggema:
“Yang berat itu amanah, yang sulit itu ikhlas, yang susah itu berbuat sabar, yang mudah itu berbuat dosa, yang sering terlupa itu bersyukur.” Kutipan ini bukan sekadar pepatah, melainkan panduan spiritual yang selaras dengan Al-Qur’an dan hadits, mengajak umat Islam Indonesia untuk merenungkan prioritas hidup di tengah hiruk-pikuk dunia digital dan tekanan ekonomi.
Imam Abu Hamid Al-Ghazali, ulama besar abad ke-11 yang dikenal sebagai “Hujjatul Islam” (bukti ke-Islaman), menyusun kalimat ini dalam karyanya yang mendalam seperti Ihya Ulumuddin. Ia menggarisbawahi bahwa amanah—seperti memegang jabatan publik atau tanggung jawab keluarga—adalah beban terberat karena menuntut integritas total.
“Yang sulit itu ikhlas,” lanjutnya, merujuk pada kesederhanaan hati melepaskan duniawi demi Allah, sementara kesabaran dalam penderitaan justru ujian paling menyiksa jiwa. Ironisnya, dosa terasa ringan karena godaan syaitan, dan syukur sering terlupakan di balik kelimpahan.
Dalil Al-Qur’an memperkuat hikmah ini. Tentang amanah, Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Anfal ayat 27: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu khianati Allah dan Rasul (Muhammad), dan (janganlah) kamu khianati amanat-amanatmu padahal kamu mengetahui.”
Ayat ini relevan bagi pejabat publik Indonesia yang kerap terjerat korupsi, di mana amanah negara menjadi “beban berat” yang diabaikan.
Sementara itu, soal ikhlas, Surah Al-Baqarah ayat 112 menegaskan: “Bahwa siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebajikan, maka sesungguhnya baginya pahala pada Tuhannya, dan tidak ada kekhawatiran pada mereka, serta mereka tidak bersedih hati.” Ini mengingatkan aktivis sosial di tengah krisis iklim untuk bertindak tanpa pamrih.
Hadits Nabi Muhammad SAW pun menyempurnakannya. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya” (HR. Bukhari-Muslim), yang menekankan ikhlas sebagai pondasi.
Tentang sabar, beliau bersabda: “Tidaklah seorang muslim ditimpa suatu musibah, lalu ia bersabar melainkan Allah akan memberikan balasan yang lebih baik daripadanya” (HR. Muslim). Dosa yang “mudah” diperingatkan dalam hadits: “Setiap anak Adam pasti berbuat dosa, dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah yang bertaubat” (HR. Tirmidzi). Akhirnya, syukur yang terlupa ditegaskan: “Barangsiapa yang tidak bersyukur kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah” (HR. Ahmad).
Di Indonesia hari ini, pesan Al-Ghazali ini seperti obat penawar bagi masyarakat yang lelah dengan korupsi endemik, polarisasi politik, dan musibah alam. Seorang ulama kontemporer, KH. Yahya Cholil Staquf (PBS), baru-baru ini mengingatkan hal serupa dalam pengajiannya: “Di balik badai, ada amanah untuk bangkit.” Bagi jurnalis dan pembaca, ini panggilan untuk introspeksi—apakah kita lebih mudah jatuh ke dosa gosip media sosial daripada bersyukur atas nikmat kesehatan pasca- musibah banjir?
Hikmah ini mengajak kita bertindak: pegang amanah dengan teguh, ikhlas dalam berkhidmat, sabar menghadapi cobaan, hindari dosa kecil yang merusak, dan biasakan syukur setiap hari. Seperti kata Al-Ghazali, keseimbangan ini adalah jalan menuju kebahagiaan sejati. ***
(Hasan Basri Siregar Ketua JWI Deli Serdang).
Views: 7










