“Indonesia Jangan Lagi Dewakan ‘Raja Teroris’ AS: Iran Buktikan Shahed-149 Ubah Aturan Perang Moderen
Medan, Utomo news, Kamis,23 April 2026, – |. Oleh; Hasan Basri Siregar Ketua JWI DS
Indonesia harus segera sadar: mengkiblatkan diri pada Amerika Serikat soal alutsista militer hanyalah fatamorgana yang mahal. AS, yang kerap dilabeli “raja teroris” oleh kritikus global atas intervensi militer di Irak, Afghanistan, dan kini dukungan tak henti untuk Israel di Gaza, justru menjerat Indonesia dalam kerjasama Major Defense Cooperation Partnership (MDCP) yang baru saja digulirkan.
Padahal, lanskap peperangan modern telah bergeser dramatis—buktinya, drone Shahed-149 Iran kini mendikte superioritas udara, membuat hegemoni Barat goyah.
Data fakta bicara nyata. Menurut laporan Jane’s Defence Weekly (2025), Shahed-149 Gaza—drone stealth Iran dengan jangkauan 7.400 km, kecepatan 1.600 km/jam, dan kemampuan loitering 35 jam—telah mengubah dinamika konflik Timur Tengah.
Pada Oktober 2024, serangan Houthi-Yaman berbasis teknologi Iran ini menembus pertahanan udara Israel dan AS di Laut Merah, menenggelamkan kapal MV Galaxy Leader dan memaksa kapal induk USS Dwight D. Eisenhower mundur.
Analisis RAND Corporation (2025) mengakui: drone murah ini (biaya produksi US$20.000/unit vs F-35 AS US$80 juta/unit) mengalahkan superioritas kuantitatif AS, membuktikan asimetri teknologi lebih unggul daripada anggaran raksasa.
Sementara itu, Indonesia terjebak euforia MDCP. Kerjasama ini membuka akses F-16V upgrade dan rudal JASSM-ER, tapi dengan harga selangit: anggaran modernisasi pertahanan 2026 mencapai Rp84,48 triliun dari total Kemhan Rp187,1 triliun (sumber: RAPBN 2026).
Hampir 45% dana ini untuk pengadaan alutsista, sarana pendukung, dan kapabilitas tiga matra—tapi riwayat AS menunjukkan jebakan. Sejak 2014, transaksi FMS AS ke RI tembus US$10 miliar (SIPRI 2025), namun maintenance F-16 saja menyedot US$1 miliar/tahun, membuat TNI AU ketergantungan total pada suku cadang impor.
Kritik akademis dari Prof. M. Najih Arifin (UI, 2025) tajam: “MDCP bukan partnership, tapi vendor lock-in. Iran mandiri dengan 90% produksi lokal (Tehran Times, 2025), sementara kita impor 70% alutsista dari AS-Eropa (Laporan Komisi I DPR, 2025).”
Bukti historis? Program Super Tucano 2010 gagal karena embargo AS pasca-konflik Papua, lumpuhkan 16 pesawat. Iran justru naik kelas: ekspor Shahed ke Rusia (US$2 miliar, 2024) dan Vietnam (2025) tunjukkan model swasembada.
Anak bangsa, bangun! Alihkan kiblat ke “raja teroris” yang gagal di Afghanistan (pengeluaran US$2,3 triliun sia-sia, Brown University 2023), tiru Iran: investasikan Rp84 T untuk R&D lokal seperti drone Anka-3 Turki-Iran hybrid atau PUSC AF-1 Indonesia. MDCP hanya memperkaya Lockheed Martin, bukan kuatkan Bhineka Tunggal Ika.
Saat Gaza Shahed buatan Iran gentarkan lawan, Indonesia jangan jadi penonton—jadilah predator angkasa sendiri! (*).
Views: 3












