Berita  

Sikapi banjir hoaks, Jajaran Wartawan Indonesia Deli Serdang tegaskan verifikasi data jadi SOP. Contoh kasus Sensus Ekonomi 2026 jadi rujukan.

 

 

Deli Serdang, Utomo News – Rabu, 10 Juni 2026

 

Jajaran Wartawan Indonesia JWI Deli Serdang mencanangkan gerakan ,”Jurnalis Wajib Tabayyun” sebagai standar etika kerja di tengah maraknya penyebaran hoaks. Penegasan itu disampaikan Ketua JWI Deli Serdang, Hasan Basri Siregar, dalam keterangan tertulis kepada Utomo News, Rabu 10/6.

 

“Nulis berita = nulis nasib orang. Kalimat 5 kata ini beratnya setara gavel hakim,” tegas Hasan Basri. 

 

Ia mencontohkan, judul “Bupati PHK PPPK” bisa membuat 3.200 keluarga PPPK di Deli Serdang tidak tidur semalam. Sementara berita “Sensus 2026 bayar Rp50rb” berpotensi membuat 11.000 UMKM menutup pintu karena takut didata petugas.

 

*Tabayyun Dijadikan Metodologi Kerja, Bukan Pilihan Moral*

 

Menurut Hasan Basri, tabayyun atau verifikasi data dalam Islam yang termaktub di QS Al-Hujurat:6, diadopsi JWI sebagai metodologi ilmiah jurnalisme.

 

“Bagi JWI Deli Serdang, Tabayyun bukan pilihan moral. Tabayyun adalah Standar Operasional Profesional. Rumusnya: Berita Valid = Data Akurat + Konfirmasi Lintas Sumber + Konteks Lapangan,” jelasnya.

 

Ia mencontohkan penerapan tabayyun saat menyikapi isu Sensus Ekonomi 2026. Pertama, JWI mengacu data akurat dari BPS Deli Serdang yang menegaskan sensus gratis tanpa pungutan. Kedua, melakukan konfirmasi lintas sumber ke Kepala BPS, Sekda, dan 3 Kepala Desa. Ketiga, turun langsung ke lapangan melihat petugas berseragam rompi dan membawa ID Card serta Surat Tugas.

 

“Tanpa 3 ini, berita kita sama dengan gosip ber-plat media. Dan gosip tidak boleh menulis nasib orang,” ujarnya.

 

*Edukasi Publik Lewat “Jurus 3D Pembaca Cerdas”*

 

Selain internal, JWI juga mengedukasi masyarakat agar tidak mudah tertahayyur hoaks. Hasan Basri membagikan “Jurus 3D Pembaca Cerdas”:

 

*1. Deteksi Sumber*: Cek apakah media terverifikasi Dewan Pers, memiliki nama wartawan dan alamat redaksi yang jelas. Akun anonim tanpa identitas dianggap setara “bisik-bisik warung kopi”.

 

*2. Deteksi Data*: Bedakan kalimat emosi “harga naik gila-gilaan” dengan kalimat fakta “harga cabai Rp45.000/kg menurut BPS 9 Juni 2026”. Pembaca cerdas selalu mencari angka dan sumbernya.

 

*3. Deteksi Dampak*: Tanyakan siapa yang diuntungkan dari berita tersebut. Contoh berita “Sensus bayar Rp50rb” diyakini menguntungkan pelaku penipuan yang meminta transfer.

 

*Komitmen dan Seruan ke Media Lain*

 

JWI Deli Serdang menyatakan komitmen tidak akan menulis nasib orang dengan tinta hoaks. Pena JWI hanya akan bergerak setelah “tinta tabayyun mengering di atas data”.

 

“Kami tidak minta masyarakat percaya buta pada JWI. Kami minta Anda menuntut tabayyun dari semua media, termasuk kami. Kalau ada berita JWI yang datanya ngaco, tegur kami,” seru Hasan Basri.

 

Ia juga mengajak rekan media lain menaikkan standar. “Kalah cepat 10 menit tidak apa-apa. Yang fatal adalah salah 1 kata. Yang kita tulis bukan sekadar berita. Yang kita tulis adalah nasib Bu Sumartik penjual cabai, nasib adik PPPK yang baru nikah, nasib 47 peternak Pantai Labu,” pungkasnya.

 

Gerakan “Jurnalis Wajib Tabayyun” ini selaras dengan arahan Bupati Deli Serdang Asri Ludin Tambunan yang menekankan pentingnya data akurat sebagai fondasi kebijakan publik. (*). 

 

*Reporter: Tim Utomo News*  

*Editor: Redaksi Utomo News*

Views: 7