Berita  

Keteguhan Iman Iran ala Nabi Ayyub AS, di Serbu di Rudal Tetap Bertahan dan Yakin Kekuatan Hanya Milik Allah SWT. Oleh ; Hasan Basri Siregar ketua JWI Deli Serdang.

 

Deliserdang, Utomo News, Minggu 8 Maret 2026-|

 

Kilatan cahaya api seiring gemuruh bom dan rudal yang menghujam dari langit, Iran berdiri tegar, seolah berteriak kepada seluruh umat manusia: Laa hawla wa laa quwwata illa billah—tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah SWT.

 

Saat Amerika Serikat dan Israel, dua raksasa superpower, raja setan dan raja teroris menggertak dengan senjata canggihnya, Iran bukan sekadar melawan dengan besi dan baja. Bukan!  Mereka mengingatkan dunia: jangan tunduk pada kekuatan manusia yang rapuh, jangan rela menjadi budak bagi si pembuat onar yang haus darah di muka bumi.

 

Ini adalah panggilan ilahi, pesan dari Al-Qur’an yang abadi: “…dan janganlah kamu merasa lemah dan jangan (pula) bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 139).

 

Seperti kisah Nabi Ayyub AS, teladan kesabaran dan keimanan kokoh. Tubuhnya dirundung penyakit parah, harta dan keluarganya direnggut, teman-temannya meninggalkannya dalam nestapa. Namun, ia tak goyah. Ia berdoa: “Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Pengasih di antara semua orang yang mempunyai kasih sayang.” (QS. Al-Anbiya: 83).  Allah SWT membalasnya dengan kesembuhan penuh dan limpahan berkah berlipat.

 

Begitulah rakyat Iran kini: dikeroyok, dibom, diintimidasi oleh musuh yang sombong dengan jet tempur dan drone mematikan. Tapi iman mereka tak gentar sedikit pun.

 

Bukan soal menang atau kalah di medan perang, bukan pula soal kecanggihan alat militer. Ini soal thabath—keteguhan hati yang lahir dari keyakinan bahwa kemenangan sejati milik Allah semata.

 

Filsafat Islam mengajarkan ini dengan tegas. Rasulullah SAW bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya jika seluruh umat berkumpul untuk menolongmu dengan sesuatu yang tidak Allah tetapkan bagimu, maka mereka tidak akan mampu. Dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu dengan sesuatu yang tidak Allah tetapkan bagimu, maka mereka tidak akan mampu. Telah selesai pena qadha (ketetapan) Allah dan kertasnya telah kering.” (HR. Tirmidzi, no. 2516, hasan shahih).

 

Kekuatan AS dan Israel hanyalah fatamorgana duniawi—seperti Firaun yang membanggakan pasukannya di hadapan Nabi Musa AS, tapi tenggelam dalam lautan. Iran mengajarkan kita: jangan takut pada hegemoni manusia. Firman Allah SWT menegaskan, “…Mereka membuat rencana, dan Allah pun membuat rencana, dan Allah adalah sebaik-baik pembuat rencana.” (QS. Ali Imran: 54).

 

Musuh boleh mengira mereka menang dengan bom dan sanksi, tapi mereka lupa: “…kalau Allah tidak menghalangi (keganasan) sekelompok manusia dengan sekelompok (yang lain), niscaya rusaklah tempat ibadah dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah…” (QS. Al-Hajj: 40).

 

Iman bukanlah benteng fisik, melainkan cahaya ruhani yang menerangi kegelapan. Seperti Nabi Ibrahim AS yang dilempar ke api oleh Namrud, tapi Allah ubah bara menjadi taman sejuk (QS. Al-Anbiya: 69). Rakyat Iran, dengan doa dan tawakal, menolak jadi budak superpower yang zalim.

 

Mereka ingat janji Allah: “…Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka…” (QS. At-Thalaq: 2-3). Dunia menyaksikan: Iran tak hancur, malah semakin kuat. Ini bukti bahwa kekuatan sejati ada di tangan Yang Maha Kuasa, bukan di gudang senjata Washington atau Tel Aviv.

 

Wahai umat Islam! Belajarlah dari Iran. Jangan biarkan intimidasi superpower meruntuhkan imanmu. Kokohlah seperti Ayyub, tawakkal seperti Ibrahim, dan yakinlah: “…dan bersabarlah kamu bersama orang-orang yang menyeru Tuhan mereka di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya…” (QS. Al-Kahfi: 28). Tiada kemenangan tanpa iman. Laa hawla wa laa quwwata illa billah! (*).

Views: 47