Deliserdang, Utomo News, Minggu 8 Maret 2026-|
Kecamuk perang bergemuruh rudal dan ledakan yang mengguncang langit Timur Tengah, rakyat Iran berdiri tegak seperti gunung yang tak tergoyahkan. Mereka membawa jiwa “Dignitas Divenditur”—martabat yang tak bisa dibeli dengan dolar, tak bisa ditekan dengan ancaman, apalagi diserang dengan bom canggih.
Saat Amerika Serikat, sang raja teroris dunia, dan Israel, si Zionis Yahudi penjelmaan setan, mengeroyok Iran dari segala sisi, Teheran bukan sekadar bertahan. Mereka sedang mengukir sejarah: perang ini bukan soal menang-kalah di medan tempur atau lomba senjata hipersonik, melainkan pertarungan kekuatan moral yang abadi.
Bayangkan skenario kekinian yang mencekam. Israel, dengan dukungan mutlak dari Washington, melancarkan serangan brutal ke fasilitas nuklir dan militer Iran, dari Natanz hingga pangkalan rudal di gurun. Jet tempur F-35 mereka beraksi, didukung kapal induk AS di Teluk Persia, sementara sanksi ekonomi AS mencekik rakyat Iran seperti ular boa.
Luar biasa licik dan kejam Amerika dan Israel, Ini bukan perang biasa; ini pengkeroyokan sistematis untuk mematahkan semangat umat Islam. Tapi Iran menjawab dengan telaten: peluncuran ratusan drone dan rudal balasan ke Haifa dan Tel Aviv, proxy seperti Hizbullah dan Houthi yang mengamuk di Lebanon serta Laut Merah.
Bukan balas dendam buta, tapi pernyataan tegas: “Hidup ini harus punya prinsip dan harga diri, bukan jadi penjilat antek Amerika-Israel!” Ingatlah firman Allah dalam Al-Qur’an, Surah Al-Anfal ayat 60: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi (dari kuda perang dan kavaleri), agar kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu.” Iran sedang mewujudkannya.
Ayatollah Khamenei bukan diktator haus darah, tapi pemimpin yang mengajak dunia melihat: kekuatan sejati bukan di tombol nuklir atau armada kapal induk, melainkan iman yang tak tergoyahkan.
Saat Gaza diratakan dan Yaman diblokade, Iran menjadi benteng terakhir perlawanan ummah. Mereka tolak tawaran damai palsu dari Biden-Harris yang penuh jebakan, karena menyerah berarti menjual jiwa.
Perang ini mengajarkan pelajaran global. Bagi Indonesia dan dunia Muslim, Iran adalah cermin: jangan jadi budak neoliberalisme AS yang korupsi elite lokal kita. Bukan soal senjata canggih semata—lihat saja bagaimana rudal murah Iran lumpuhkan kapal perang AS senilai miliaran.
Diknitas divenditur, Ini soal moral: rakyat yang rela mati demi kemuliaan, seperti sahabat Nabi di Badar yang kalahkan pasukan Quraisy berkali lipat. Dunia harus dengar jeritan Iran: “Kami tak akan sujud pada Dajjal Zionis atau Iblis Pentagon!” Iran tak sendirian.
Sejarah akan catat, pengkeroyokan ini justru lahirkan pahlawan baru. Martabat mereka menginspirasi, membakar api perlawanan di setiap hati yang punya harga diri. (*).
Views: 21












