Medan, Utomo News, Senin 2 Maret 2026-|
Pasca perang dan hiruk-pikuk geopolitik Timur Tengah yang penuh intrik, Iran berdiri tegak sebagai satu-satunya negara Islam yang berani menyodorkan tamparan keras kepada dua raksasa teror global: Amerika Serikat (AS), yang sering disebut “raja teroris” karena rekam jejak invasi dan pembunuhan drone-nya, serta Israel, “raja setan” yang tak henti-hentinya membantai warga Palestina.
Pada 1 Oktober 2024, Iran meluncurkan serangan rudal balistik masif “True Promise II” terhadap Israel, menyasar pangkalan militer utama seperti Nevatim dan Tel Nof. Lebih dari 180 rudal balistik dieksekusi, merusak landasan pacu dan fasilitas radar—bukti nyata keberanian Teheran yang tak bisa dibantah oleh siapa pun.
Data dari Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menegaskan: serangan itu balasan atas pembunuhan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh di Teheran (31 Juli 2024) dan tokoh Hizbullah Hassan Nasrallah (27 September 2024), keduanya dituding ulah Mossad dan AS.
Iran tak main-main; mereka klaim 80% rudal lolos Iron Dome, dengan kerusakan signifikan yang diakui sendiri oleh IDF. Bandingkan dengan AS: pada Juni 2025, ketegangan memuncak saat Israel serang konsulat Iran di Damaskus, tewas 7 jenderal IRGC. Iran balas dengan 300+ drone dan rudal—bukan gertakan kosong.
Ini kontras tajam dengan negara-negara Islam lain yang hanya merengek di mimbar PBB.
Negara Islam Lain: Pengecut di Pelukan AS-Israel
Mana Saudi Arabia, yang kaya minyak triliunan dolar tapi diam seribu bahasa saat Israel bom Gaza? Pada 2023-2025, Riyadh normalisasi hubungan via Abraham Accords, tukar senyum dengan Netanyahu sambil impor senjata F-35 dari AS senilai $60 miliar.
Turki? Erdogan lantang di Twitter, tapi ekspor baja ke Israel capai $1,2 miliar pada 2024—hipokrit total. Mesir, dengan perjanjian damai Camp David 1979, tutup mata saat 40.000+ warga Gaza tewas (data UN OCHA per Februari 2026), demi bantuan militer AS $1,3 miliar/tahun.
Pakistan, negara Islam bersenjata nuklir, hanya kirim bantuan kemanusiaan simbolis ke Gaza sambil beli jet F-16 dari Washington. UAE dan Bahrain? Sudah jadi antek Zionis sejak 2020, investasi bersama di Tel Aviv miliaran dolar.
Indonesia sendiri, meski vokal di forum Islam, impor minyak dari AS dan jaga hubungan dagang dengan Israel via pihak ketiga—tak ada sanksi nyata. Fakta dari SIPRI: 70% senjata negara-negara Islam OIC berasal dari AS/Eropa, membuat mereka budak ketiak imperialis.
Kritik Tajam: Mengapa Iran Sendirian?
Ini bukan soal kekuatan militer semata—Iran punya GDP militer $10 miliar (2025, SIPRI), kalah jauh dari Saudi $75 miliar. Bukan pula soal ukuran; Iran teguh pada prinsip Revolusi Islam 1979, anti-imperialisme Khomeini yang tolak hegemoni AS-Israel.
Negara lain? Terjebak korupsi elit, utang IMF, dan mimpi “modernisasi” ala Barat. Hasilnya: Gaza jadi kuburan massal (50.000+ korban sipil, data Hamas Health Ministry diverifikasi WHO), sementara pemimpin Islam pesta di Davos. Iran tunjukkan jalan: kedaulatan sejati lahir dari keberanian, bukan cengkeraman dolar AS.
Iran bukan sempurna—mereka punya isu internal—tapi di panggung global, mereka satu-satunya yang berani serang balik. Negara Islam lain? Pengecut abadi, penjilat ketiak Zionis. Bangunlah, umat Islam! . (*).
Views: 26













