Deli Serdang, Utomo news, Selasa, 23 Desember 2025 – |
Dalam unggahan Twitter (X) yang viral pada Minggu (21/12/2025), Dokter Tifa mengungkap sisi kejiwaan mengerikan di balik kebohongan yang sering menyertai perilaku manusia, khususnya para pemimpin. Menurutnya, setiap dusta bukan sekadar kata-kata palsu, melainkan bom waktu emosional yang merusak pikiran, tubuh, dan sistem imun secara senyap.
Fenomena ini, katanya, menjadi “hukuman terberat” bagi siapa pun yang terjebak dalam lingkaran kebohongan berkepanjangan—termasuk mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Dokter Tifa menekankan bahwa kebohongan memunculkan beban emosi berat yang menghantam sistem imun manusia. “Biaya ini tidak tercatat di neraca keuangan, tidak tampak di laporan kekuasaan, tetapi perlahan menggerogoti pikiran, tubuh, dan sistem imun.
Ia bekerja senyap, konsisten, dan kejam,” tulisnya dalam cuitan yang langsung memicu diskusi luas di media sosial.
Dari perspektif psiko-neuro-imunologi, dokter yang dikenal vokal ini menjelaskan bagaimana kejujuran menjadi “berkat biologis dan psikologis”. Saat seseorang memilih jujur, pikiran mengalir dalam satu jalur koheren tanpa konflik internal. Tidak ada kecemasan yang mengganggu, sehingga otak tetap tenang, kadar kortisol rendah, dan sistem imun bekerja optimal. Tubuh merasa aman, jiwa pun damai—sebuah harmoni alami yang mendukung kesehatan holistik.
Sebaliknya, kebohongan memaksa otak hidup dalam dualitas menyakitkan: antara fakta pahit dan citra bohong yang dibangun. Ini memicu stres kronis, di mana hormon kortisol melonjak, peradangan tubuh meningkat, dan sistem imun melemah secara bertahap. “Tubuh membaca kebohongan sebagai ancaman yang tidak pernah selesai,” tegas Dokter Tifa.
Perilaku bohong yang mengiringi tindakan manusia—entah untuk mempertahankan kekuasaan atau menghindari konsekuensi—justru menciptakan lingkaran setan: satu dusta menuntut dusta berikutnya, memperburuk konflik jiwa hingga kesehatan fisik runtuh.
Lebih jauh, Dokter Tifa menyoroti dampak jangka panjang pada perilaku manusia sehari-hari. Kejujuran membangun ketenangan batin, meningkatkan resiliensi emosional, dan bahkan memperpanjang usia harapan hidup melalui pengurangan stres.
Namun, kebohongan—meski tampak menguntungkan sementara—menghancurkan fondasi jiwa. “Kebohongan mungkin mempertahankan kekuasaan sementara, tetapi menghancurkan ketenangan jiwa dan daya tahan tubuh,” ujarnya.
Puncak peringatannya ditujukan langsung pada Jokowi: “Pada akhirnya, bukan pengadilan yang paling keras, melainkan tubuh sendiri yang akan memutuskan vonisnya.” Pernyataan ini menggambarkan bagaimana akumulasi kebohongan dalam dinamika politik bisa berbalik menjadi musuh terbesar bagi pelakunya sendiri, merusak kesehatan jiwa dan raga tanpa ampun.
Pandangan Dokter Tifa ini mengingatkan kita pada esensi perilaku manusia: kejujuran sebagai jalan menuju kesejahteraan jiwa, sementara kebohongan adalah racun lambat yang tak terhindarkan.
Di tengah maraknya isu politik dan etika kepemimpinan di Indonesia, pesan ini menjadi pengingat tajam bagi publik dan elite. (*).
Reporter ; Hasan Basri Siregar KA Biro Utomo news Deli Serdang.
Views: 29












