Deli Serdang, Utomo News, Selasa 9 Juni 2026-|
Di tengah dinamika kehidupan modern yang sering kali menjadikan akumulasi harta dan kekuasaan sebagai tolok ukur kesuksesan, pemikiran José Alberto “Pepe” Mujica Cordano—mantan Presiden Uruguay—menawarkan perspektif yang mendalam dan berlandaskan pengalaman hidup nyata. Pemikiran beliau tidak lahir begitu saja, melainkan ditempa melalui perjalanan panjang yang penuh tantangan.
Latar Belakang dan Perjalanan Hidup
José Mujica menjabat sebagai Presiden Uruguay selama 5 tahun, tepatnya dari tanggal 1 Maret 2010 hingga 1 Maret 2015. Sebelum menduduki jabatan tertinggi negara tersebut, beliau memiliki sejarah perjuangan yang panjang. Di masa pemerintahan otoriter, Mujica sempat ditangkap dan menghabiskan waktu selama 14 tahun di penjara, di mana sebagian besar masa tahanannya dijalani dalam kondisi isolasi yang sangat ketat. Pengalaman pahit inilah yang membentuk pandangannya tentang nilai kebebasan, waktu, dan makna sejati dari kehidupan.
Prinsip Hidup dan Pandangan Tentang Harta
Dari perjalanan hidupnya, Mujica melahirkan satu ungkapan yang sangat terkenal: “Kita membeli barang bukan dengan uang, melainkan dengan waktu hidup yang kita habiskan untuk mencari uang tersebut.” Bagi beliau, uang hanyalah alat tukar, sedangkan waktu adalah aset yang paling berharga karena tidak dapat dibeli kembali atau diulang. Prinsip ini kemudian menjadi landasan pandangannya terhadap kekuasaan.
Hakikat Kekuasaan Menurut Mujica
Lebih lanjut, Mujica menegaskan bahwa kekuasaan sejati tidak diukur dari seberapa banyak harta, jabatan, atau pengaruh yang berhasil dikuasai. Sebaliknya, nilai hakiki kekuasaan terletak pada seberapa banyak yang mampu dibagikan kepada sesama, terutama kepada kaum fakir miskin dan mereka yang hidup dalam keterbatasan.
Pemikiran ini bukan sekadar teori belaka, melainkan diwujudkan dalam tindakan nyata selama memegang tampuk pemerintahan. Selama menjabat presiden, beliau hanya mengambil sekitar 10% dari gaji resminya, sedangkan sisanya disumbangkan untuk program kesejahteraan sosial dan bantuan ekonomi bagi masyarakat kurang mampu. Ia juga memilih menetap di lahan pertanian sederhana miliknya sendiri ketimbang menggunakan fasilitas istana kepresidenan negara.
Relevansi bagi Para Pemangku Kepentingan
Bagi para pemangku kepentingan—baik itu pemimpin organisasi, pengusaha, maupun pengambil kebijakan—pemikiran Mujica memberikan pelajaran berharga:
1. Waktu adalah investasi utama: Setiap upaya yang dilakukan memiliki konsekuensi pengorbanan waktu hidup, sehingga perlu dipertimbangkan apakah tujuan yang dicapai layak dikorbankan.
2. Kekuasaan sebagai amanah: Jabatan dan sumber daya yang dimiliki bukanlah milik pribadi, melainkan kepercayaan yang harus dimanfaatkan untuk menciptakan kesejahteraan bersama.
3. Kesederhanaan sebagai kekuatan: Hidup tidak diukur dari apa yang dikumpulkan, melainkan dari dampak positif yang dapat diberikan kepada orang lain.
Sebagai kesimpulan, perjalanan hidup dan pemikiran José Mujica mengajarkan bahwa kebesaran seseorang tidak terlihat dari tingginya posisi atau banyaknya harta, melainkan dari seberapa besar manfaat yang dapat disebarkan demi kemanusiaan. (*).
Diterbitkan oleh Utomo News
Sumber referensi: Profil resmi Pemerintah Uruguay dan rekam jejak sejarah politik Amerika Latin.
Views: 19












