Berita  

“ Ketahanan Pangan Dimulai Dari Kresek”: Model Sumartik di Jaharun B Jadi Model Ilmiah Atasi Inflasi Sembako di Deli Serdang 

“ Ketahanan Pangan Dimulai Dari Kresek”: Model Sumartik di Jaharun B Jadi Model Ilmiah Atasi Inflasi Sembako di Deli Serdang 

 

Deli Serdang, Utomo News- |  

 

Gejolak harga cabai dan bawang tak selalu dilawan dengan subsidi. Di Desa Jaharun B, Kecamatan Galang, seorang ibu rumah tangga bernama Sumartik membuktikan solusi mikro bisa berdampak makro. Bermodal 10 pokok cabai-bawang, sayur daun ubi, kacang panjang, terong, plus 3-5 pohon pepaya-rambutan di pekarangan, ia memutus ketergantungan dapur dari harga pasar.

 

“Tak ada polibag, pakai plastik kresek juga bisa seperti yang saya lakukan. Kita harus mulai dari keluarga dulu,” ujar Sumartik, Senin 8/6/2026. 

 

Praktik “urban farming low-cost” ini kini diangkat Utomo News sebagai tulisan ilmiah. Model Sumartik dinilai relevan dengan kebijakan Pemkab Deli Serdang untuk memperkuat ketahanan pangan dan menekan inflasi dari hulu rumah tangga.

 

1. Abstrak: Dari Kritik ke Co-Production. 

Pernyataan Sumartik memuat tesis penting: “Kita bukan hanya bisa kritisi, apalagi menghujat pemerintah, tapi harus bisa juga buat solusi konkret kebutuhan rumah tangga.”

 

Dalam ilmu administrasi publik, ini disebut co-production of public services. Warga tidak lagi berposisi sebagai “konsumen pasif” atau “pengkritik”, tapi jadi “produsen” pangan keluarga. Ketika 1 KK mandiri cabai-bawang, maka 100 ribu KK di Deli Serdang = 1 juta kg cabai yang tidak dibeli saat harga Rp 80rb/kg. Efeknya langsung ke angka inflasi volatile foods BPS.

 

2. Landasan Teori: Mengapa “Pekarangan + Kresek” Bekerja?

A. Teori Ketahanan Pangan 4 Pilar FAO. 

1. Ketersediaan: 10 pokok cabai + bawang + terong = buffer stock mikro saat pasokan pasar terganggu El Nino.

2. Akses: “Jarak 0 meter”. Hemat ongkos, waktu, dan potong rantai tengkulak. 

3. Pemanfaatan: Daun ubi + pepaya = diversifikasi gizi B2SA: Beragam, Bergizi, Seimbang, Aman.

4. Stabilitas: Pohon pepaya-rambutan = “tabungan pangan” musiman. Saat paceklik, buah tetap ada.

 

B. Konsep “Subsistence Farming” Modern.  

Badan Pangan Dunia menyebut pekarangan rumah tangga sebagai first line of defense terhadap guncangan harga. Model kresek Sumartik adalah versi low entry barrier: tidak butuh lahan luas, tidak butuh polibag mahal. Media tanam bisa tanah + kompos sisa dapur. Ini menurunkan “biaya psikologis” warga untuk memulai.

 

C. Ilmu Ekonomi: “Hedging Inflasi Level Dapur”. 

Setiap KK yang tanam cabai sendiri = lindung nilai hedging terhadap inflasi cabai. BPS Sumut Mei 2026 catat cabai + bawang penyumbang 0,4% inflasi bulanan. Jika 50% KK Deli Serdang tanam 10 pokok, tekanan inflasi bisa dipangkas signifikan tanpa intervensi anggaran besar.

 

3. Studi Kasus Lapangan: Jaharun B, Galang 8/6/2026

**Komponen** **Praktik Sumartik** **Nilai Ilmiah**

**Media Tanam** Plastik kresek bekas, polybag seadanya *Zero waste + low cost*. Menurunkan barrier masuk 90%

**Tanaman Cepat Panen** Cabai, bawang, kacang panjang, terong, daun ubi Panen 45-75 hari. Cashflow dapur cepat stabil

**Tanaman Tahunan** Pepaya 3-5 pokok, rambutan “Asuransi pangan” + karbon sink + peneduh

**Prinsip Inti** “Mulai dari keluarga, niat + kemauan” *Behavioral nudge*: aksi kecil konsisten > rencana besar wacana

Hasil: Kebutuhan bumbu + sayur 60-70% terpenuhi mandiri. Uang Rp 30rb-50rb/minggu yang biasa untuk cabai bisa dialihkan ke telur/ikan = peningkatan kualitas gizi.

 

4. Rekomendasi Kebijakan: Skala-Up “Gerakan Kresek Produktif” Deli Serdang. 

“Begitulah cara kita membantu pemerintah, terutama Pemkab Deli Serdang terkait ketahanan pangan,” pungkas Sumartik.

 

Agar model ini tidak berhenti di 1 rumah, Pemkab + Dinas Pertanian + PKK bisa:

 

1. Program “1 Rumah 10 Kresek”*: Target 500rb kresek cabai-bawang. Sosialisasi lewat RT/RW. Anggaran minim, impact ke inflasi langsung.

2. Bank Benih Kelurahan: Sediakan benih cabai, bawang, terong gratis tiap 3 bulan. Distribusi via Posyandu + Majelis Taklim.

3. Pelatihan “Tanah di Kresek”: Kolaborasi Penyuluh Pertanian + Karang Taruna. Ajarkan media tanam: tanah + sekam + kompos dapur. 

4. Insentif Sosial: Lomba “Pekarangan Kresek Paling Produktif” tingkat desa. Hadiah: piagam dari Bupati + bibit buah. Ini membangun social norm: menanam = gaya hidup.

 

5. Kesimpulan Ilmiah.  

Krisis pangan + inflasi bukan hanya urusan Bulog dan impor. Garis pertahanannya ada di pekarangan 2×3 meter setiap rumah.

 

Model Sumartik membuktikan hipotesis: “Ketahanan pangan nasional dibangun dari ketahanan pangan keluarga”. 10 pokok cabai di kresek bekas lebih cepat meredam inflasi daripada 10 wacana di rapat di hotel mewah. 

 

Deli Serdang butuh lebih banyak “Sumartik-Sumartik” baru. Tugas pemerintah: sediakan benih, ilmu, dan apresiasi. Tugas warga: tanam, rawat, panen. Inflasi turun, gizi naik, solidaritas tumbuh.

 

“Potensi alternatif kebutuhan sembako bisa dimulai dari keluarga asal punya niat dan kemauan. Itu sudah turut kita membantu pemerintah mengantisipasi inflasi.” Sumartik. ( Hari’S,Utomo news). 

 

*Referensi*: FAO, _Urban Agriculture for Food Security_ 2022; BPS Sumut, Inflasi Volatile Foods Mei 2026; Kementan RI, Program P2L Pekarangan Pangan Lestari.  

*Reporter*: Tim Riset Ketahanan Pangan Utomo News  

*Dokumentasi*: Warga Desa Jaharun B, 8/6/2026

 

Views: 13