Tel Aviv, Utomo News, Sabtu 7 Maret 2026 –|
Mantan Menteri Pertahanan Israel, Avigdor Lieberman, kembali menggebrak panggung politik dengan serangan pedasnya terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Dalam wawancara eksklusif di Channel 12 Israel pada akhir Februari 2026, Lieberman tak segan memprediksi kehancuran total bagi negaranya jika Netanyahu tetap berkuasa hingga akhir tahun ini.
“Israel akan hancur pada 2026 jika masih dipimpin Netanyahu,” tegas Lieberman, politisi garis keras dari partai Yisrael Beytenu yang dikenal tak pernah ragu menyuarakan kritik frontal.
Pernyataan ini bukan sekadar emosi politik musiman. Lieberman menyoroti krisis multidimensi yang kian memburuk di bawah kepemimpinan Netanyahu: perang berkepanjangan di Gaza yang sudah memasuki tahun ketiga (sejak Oktober 2023), eskalasi bentrokan dengan Hizbullah di Lebanon utara, serta ancaman Iran yang semakin nyata.
Data dari IDF (Israel Defense Forces) mencatat lebih dari 1.200 warga Israel tewas sejak awal konflik Gaza, sementara korban sipil Palestina melebihi 45.000 jiwa menurut Kementerian Kesehatan Gaza (diakui oleh PBB).
Ekonomi Israel pun terpuruk: PDB menyusut 2,1% pada 2025 (data Bank Israel), dengan 300.000 warga cadangan masih terjebak di front line, menghambat pemulihan pasca-pandemi.
Lieberman menuding Netanyahu gagal menyelesaikan perang Gaza karena terjebak dalam “pertimbangan politik pribadi”. “Dia takut pemilu, takut proses hukum korupsinya sendiri,” ujar Lieberman, merujuk pada tiga dakwaan korupsi Netanyahu yang masih bergulir di pengadilan Israel sejak 2020.
Analis dari INSS Israel, seperti Dr. Oded Eran, mendukung kritik ini: “Kegagalan diplomasi Netanyahu telah mengisolasi Israel secara internasional, dengan dukungan AS menurun di bawah pemerintahan Biden-Harris kedua.”Lebih jauh, Lieberman memperingatkan skenario terburuk: kolaps ekonomi akibat blokade Gaza-Hizbullah, inflasi melonjak hingga 15% (proyeksi OECD 2026), dan potensi pemberontakan internal dari kelompok ultra-Ortodoks yang menolak wajib militer.
“Netanyahu bukan pemimpin perang, tapi pemimpin kehancuran,” tambahnya, mengingatkan pada kegagalan evakuasi 7 Oktober 2023 yang menewaskan 1.195 orang – luka terdalam bagi Israel modern.Reaksi politik langsung meledak. Partai oposisi Yesh Atid dan Nasional Unity mendukung Lieberman, sementara koalisi Netanyahu menyebutnya “pengkhianat”.
Dengan pemilu Israel kemungkinan digelar akhir 2026, prediksi Lieberman bisa jadi pemicu perubahan – atau justru mempercepat mimpi buruk yang dia ramalkan, soalnya Iran memang mau lenyapkan Israel dari bumi. Apakah Israel benar-benar di ambang jurang? Hanya waktu yang akan jawab, tapi suara Lieberman kini bergema lebih kencang di tengah kabut perang. (Hari’S).
Views: 35












