Medan, Utomo News, Minggu, 10-Mei-2026
Di keheningan pagi Medan, ketika kota belum sepenuhnya terbangun dan hanya ada desau angin yang menyapa jendela kamar, seorang manusia duduk bersila menaruh tangan di dada kirinya. Di bawah telapak tangan itu, ada sesuatu yang berdetak lembut tidak pernah berhenti, tidak pernah meminta izin, tidak pernah berhenti mengantri, Yakni ; Denyut jantung.
Hitungan Mundur yang Tak Terelakkan
“Setiap denyut jantung adalah satu detik kehidupan yang terpotong,” kata Kiyai Khalifah Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si., M.Si., dengan suara tenang namun dalam, sambil duduk di Pondok Zikir Baitul Jafar, Kelambir V, Hamparan Perak, Deli Serdang. Dia adalah Spesialis Sub Kajian Hypermetafisika Tasawuf dan Kepala Laboratorium Fisika Nuklir FMIPA Universitas Sumatera Utara, seorang yang menjembatani dunia ilmu eksakta dan dunia cahaya spiritual.
Dalam perspektif ilmu kedokteran modern, rata-rata manusia memiliki sekitar 60–100 denyut per menit (bpm). Itu berarti ribuan kali per jam, ratusan ribu kali per hari. Jika dihitung secara matematis sederhana, setiap manusia akan mengalami sekitar 2–3 miliar detak jantung selama hidupnya, tergantung faktor usia, kesehatan, dan gaya hidup .
Angka ini bukan sekadar statistik. Ini adalah hitungan mundur yang tak terelakkan. Setiap detak adalah tanda bahwa umur manusia masih berjalan—menuju ajal yang telah ditentukan.
“Sains modern menjelaskan denyut ini melalui mekanisme elektrofisiologis jantung, khususnya sinoatrial (SA) node—pusat pacu alami yang berfungsi sebagai natural pacemaker,” jelas Kiyai Khalifah sambil mengangkat jari telunjuknya. “Struktur kecil ini menghasilkan impuls listrik secara spontan dan ritmis, bahkan tanpa stimulasi saraf eksternal. Ia bekerja otomatis, mendahului kesadaran sadar manusia, dan mengatur irama seluruh sistem kehidupan jasmani .”
Dengan demikian, jantung bukan sekadar pompa mekanis. Ia adalah pusat ritme kehidupan biologis yang lebih dalam dari yang kita sadari.
Ayat Yang Tidak Terbaca: Al-Qur’an dan Batas Ajal yang Pasti
Di atas meja rendah di depan Kiyai Khalifah, ada mushaf Al-Qur’an yang terbuka di halaman Surah Yunus. Jemarinya menyentuh ayat ke-49 dengan lembut.
“Dan Allah telah menetapkan ajal bagi tiap-tiap umat,” bacanya pelan. QS Yunus/10:49.
“Dalam konteks denyut jantung, setiap detak merupakan tanda bahwa umur manusia masih berjalan menuju ajal yang telah ditentukan,” lanjut Kiyai Khalifah.
“Jika melalui teknologi medis manusia dapat mengetahui kondisi detak jantung—apakah itu bradikardia, takikardia, atau aritmia—tetapi tidak mampu mengetahui kapan detak tersebut akan berhenti secara permanen, maka ini sejalan dengan firman Allah dalam QS al-Lukman/31:34 bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahui di mana dan kapan ia akan mati .”Ini adalah paradoks eksistensial.
Teknologi modern telah menjalani tahap di mana kita bisa memantau denyut jantung secara real-time melalui smartwatch, aplikasi kesehatan, bahkan perangkat medis canggih di rumah sakit. Tapi teknologi tidak bisa menghentikan “hitungan mundur” yang Allah tetapkan sebagai batas ajal.
“Sains readable sebagai kajian ayat-ayat kauniyah—ayat-ayat alam—sementara tasawuf sebagai pendalaman ayat-ayat batiniyah. Keduanya saling melengkapi, bukan saling meniadakan,” tegas Kiyai Khalifah .
Jantung Qalb: Mata Batin yang Menyaksikan Keagungan Allah
Di sinilah pintu masuk menuju dunia yang lebih dalam: dunia tasawuf.
Dalam tradisi tasawuf Islam, qalb bukan identik dengan organ fisik semata. Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din menegaskan bahwa qalb adalah realitas halus (lathifah rabbaniyyah) yang menjadi tempat pengetahuan dan pengenalan kepada Allah .
“Ruh, dalam pengertian ini, bukan energi fisik dan bukan pula produk otak. Ia adalah prinsip hidup dan kesadaran yang bersumber dari perintah Ilahi (amr), sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an QS. Al-Isra’: 85,” jelas Kiyai Khalifah .
Dalam peristiwa perjanjian primordial (mitsaq) yang disebutkan dalam QS. Al-A’raf: 172, ruh manusia bersaksi atas Ketuhanan Allah sebelum keberadaan jasad. Kesadaran ini tidak hilang, melainkan terpendam dan terus hadir dalam struktur batin manusia .
Empat Maqam Spiritual dalam MengHadapi Denyut Jantung
Kiyai Khalifah menjelaskan empat tahapan spiritual (maqam) yang dialami manusia dalam menghadapi realitas denyut jantung sebagai ritme kehidupan:
“Dalam kerangka ini, mata batin dalam jantung dapat dipahami sebagai kesadaran sufistik bahwa setiap denyut jantung bukan sekadar mekanisme biologis, tetapi ritme spiritual yang mengingatkan manusia untuk kembali kepada Allah,” tegas Kiyai Khalifah .
Zikir, Relaksasi, dan Bradikardia Fisiologis:
Ketika Ibadah Menyehatkan Jantung
Kiyai Khalifah kemudian menceritakan temuan ilmiah yang mengejutkan: zikir Allah mempengaruhi Sinoatrial Node (SAN) Jantung.
“Pada titik ini akan terasa manfaat Zikir Alloh dalam kehidupan sehari-hari, apalagi orang yang rajin dan rutin berzikir, mempengaruhi Sinoatrial Node (SAN) Jantung—yaitu mengaktifkan sinoatrial node dalam lapisan jantung, melancarkan aliran darah, bahkan amalan Zikir Alloh berguna sebagai washilah di dunia dan di Akhirat kelak,” papar Kiyai Khalifah mengutip pendapatnya sendiri yang pernah disampaikan dalam Ngobrol Santai di Pusat Kajian Metafisika UnPab.
Bagaimana mekanismenya?
“Dalam tinjauan ilmiah anatomi kedokteran, ketika lidah ditegakkan sehingga menyentuh langit-langit saat mengucapkan ‘Alloh’ dan dengan melakukan teknik segitiga pernafasan 4-7-8, sehingga menjadikan saklar bioelektrik tubuh berenergi yang berfungsi untuk mengaktifkan Organ Sela Turcica dan sumber hormon utama Pituitary (Master Gland) dan hormon yang dapat menenangkan dan menyehatkan tubuh,” jelas Kiyai Khalifah, mengutip pendapat Prof. Dr. Andrew Weil dari Universitas Arizona .
Ini adalah konvergensi yang menakjubkan: ibadah dan kesehatan jantung saling memperkuat. Dzikir yang rutin tidak hanya menyucikan jiwa, tetapi juga menghasilkan bradikardia fisiologis—denyut jantung yang lebih lambat dan lebih efisien, yang justru menandakan kesehatan jantung yang lebih baik.
“Ini adalah Metafisika Eksakta Tasawuf: proses mengenal diri untuk mengenal Sang Pencipta yaitu Alloh SWT. Mengenal Alloh melalui metoda Metafisika Tasawuf sangat riel, realistic, logis dan terukur serta dapat dirasakan melalui proses rutinitas adabiah, ilmu, amal, ilmiah dan amaliah dengan bimbingan guru mursyid,” tegas Kiyai Khalifah .
Fisika Kuantum dan Realitas Terdalam: Dialog Ilmiah-Spiritual
Sebagai Kepala Laboratorium Fisika Nuklir FMIPA Universitas Sumatera Utara, Kiyai Khalifah juga membuka pintu dialog antara tasawuf dan fisika kuantum modern.
“Fisika kuantum menunjukkan bahwa realitas terdalam alam semesta bukan benda padat, melainkan medan & probabilitas. Konsep medan kuantum menggambarkan bahwa partikel hanyalah eksitasi dari medan yang lebih fundamental,” jelasnya .
Fenomena seperti non-lokalitas dan keterikatan kuantum (entanglement) menunjukkan bahwa realitas tidak sepenuhnya tunduk pada logika sebab-akibat klasik . Selain itu, energi nol-titik membuktikan bahwa bahkan “ruang kosong” menyimpan fluktuasi energi .
“Secara filosofis, ini menegaskan bahwa: (1) Kekosongan bukan nihil, (2) Realitas bersifat berlapis, (3) Yang tak terlihat justru menentukan yang terlihat,” papar Kiyai Khalifah .
Dalam batas analogi filosofis, medan kuantum dapat dipahami sebagai simbol ilmiah dari realitas fundamental yang menopang keberadaan. Ruh, dalam tasawuf, adalah prinsip non-material yang menopang kesadaran & kehidupan. Qolb berperan sebagai antarmuka antara ruh & jasad .
“Denyut jantung, yang dipicu oleh SA node, menjadi ekspresi lahir dari keterhubungan ini. Praktik dzikir qolbi dalam tarekat dapat dipahami sebagai upaya penyelarasan kesadaran manusia dengan struktur realitas terdalam, mirip dengan konsep koherensi dalam sistem kuantum, tanpa menyamakannya secara literal,” jelas Kiyai Khalifah .
Ilmu Syaraf dan “Masalah Sulit Kesadaran”: Di Mana Sains Genting
Kiyai Khalifah kemudian menyentuh salah satu pertanyaan paling mendalam dalam sains modern: the hard problem of consciousness.
“Ilmu syaraf modern mampu memetakan aktivitas otak, tetapi belum mampu menjelaskan asal-usul kesadaran subjektif—fenomena yang dikenal sebagai the hard problem of consciousness,” katanya, mengutip David Chalmers (1995) .
“Banyak filsuf & fisikawan menyadari bahwa kesadaran tidak mudah direduksi menjadi proses neurokimia semata. Bahkan, beberapa pendekatan kontemporer memandang kesadaran sebagai realitas fundamental, bukan turunan,” lanjut Kiyai Khalifah, mengutip Nagel (2012) .
“Di sinilah tasawuf menawarkan perspektif alternatif: kesadaran bukan dihasilkan oleh materi, tetapi dimanifestasikan melalui materi,” tegasnya .
Ini adalah revolusi epistemologis. Sains selama berabad-abad cenderung pada reduksionisme materialistik—semua bisa dijelaskan dengan materi dan hukum fisika. Tapi kesadaran, ruh, dan qalb menolak reduksi ini.
Implikasi bagi Kehidupan Modern: Ketika Manusia Lebih Sering Mendengar Notifikasi Telepon daripada Detak Jantungnya Sendiri
Dalam konteks kehidupan modern, di mana smartphone bergetar terus-menerus, notifikasi media sosial membanjiri layar, dan manusia terjebak dalam hiruk-pikuk Virtual world, artikel ini menjadi pengingat yang mendesak.
“Di balik setiap denyut tersimpan undangan tafakkur untuk merenung, mengingat, dan kembali mengenal hakikat diri dan tujuan hidup,” kata Kiyai Khalifah .
Manusia modern sering kali lebih consape terhadap notifikasi telepon daripada terhadap detak jantungnya sendiri. Kita mengecek email, scroll Instagram, reaksi WhatsApp, tapi kita tidak pernah duduk sejenak untuk merasakan denyut jantung yang membawa kita hidup.
“Ini adalah peringatan eksistensial: hidup kita terbatas, dan setiap detik adalah anugerah yang tidak akan kembali,” tegas Kiyai Khalifah .
Kolaborasi Interdisipliner: Dari Esai Rohani Menuju Jurnal Ilmiah Kajian Keislaman
Artikel ini, menurut Kiyai Khalifah, bukan sekadar esai rohani. Ini adalah kajian interdisipliner yang dapat dikembangkan untuk:
Jurnal ilmiah kajian keislaman
Psikologi-spiritual
Ilmu kesehatan masyarakat
“Setiap denyut jantung adalah manifestasi simultan dari: (1) proses fisiologis yang dijelaskan ilmu kedokteran dan teknologi, (2) proses waktu hidup yang ditegaskan Al-Qur’an dan hadis sebagai batas ajal yang pasti, (3) proses spiritual yang dipahami tasawuf sebagai panggilan tafakkur dan mata batin dalam jantung qalb,” rangkum Kiyai Khalifah .
Tafakur untuk membuat infografis yang menunjukkan hubungan antara dzikir, relaksasi, dan bradikardia fisiologis, sehingga pembaca dapat melihat secara visual bahwa ibadah dan kesehatan jantung saling memperkuat.
Bisa juga dibuat kolom edukatif yang menggabungkan data medis (misalnya risiko stres, hipertensi, dan gaya hidup sedentari) dengan kajian keislaman tentang tafakkur dan tazakkur .
Penutup: “Setiap Denyut adalah Hitungan Mundur yang Tidak Pernah Bisa Dihentikan”
Melalui integrasi IPTEK, Al-Qur’an, hadis, dan tasawuf, maka ungkapan:
“Setiap denyut adalah hitungan mundur yang tidak pernah bisa dihentikan”
bukan hanya metafora puitis. Ini adalah panggilan kesadaran ilmiah-spiritual yang mendesak manusia untuk memanfaatkan hidup sebelum waktu itu berakhir.
“Denyut jantung manusia bukan sekadar fenomena biologis, melainkan pintu masuk untuk memahami relasi antara tubuh, kesadaran & realitas terdalam. Tasawuf & fisika kuantum, meski berbeda domain, sama-sama menunjukkan bahwa kehidupan ditopang oleh sesuatu yang tidak kasatmata namun nyata,” demikian penutup Kiyai Khalifah Dr. Muhammad Sontang Sihotang.
“Wallahu a’lam,” tambahnya, sebagai penutup yang merendahkan hati di hadapan Keagungan Allah yangutama.
Narasumber:
Kiyai Khalifah Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si., M.Si.
Spesialis Sub Kajian Hypermetafisika Tasawuf
Kepala Laboratorium Fisika Nuklir, FMIPA Universitas Sumatera Utara
Penulis: Hasan Basri Siregar
Medan, Utomo News, Minggu, 10-Mei-2026.
Views: 60












