Medan,Utomo news, Minggu,26 April 2026 –|
Kekejaman Amerika dan Israel begitu juga sebagaian negara arab yang tamak, tidak hanya menyerang Iran dari sekala militer, tetapi juga serangan siklus alam untuk membuat rakyat Iran menjadikan lahan pertaniannya kekekeringan.
Dalam perkembangan mengejutkan pasca-serangan Iran terhadap radar pertahanan udara AS di negara-negara Teluk, siklus cuaca di Iran dan Irak timur tiba-tiba normal kembali. Hujan deras, penurunan suhu hingga 5 derajat Celsius, banjir musiman, dan pola angin lembab mengisi langit yang selama bertahun-tahun terkekang kekeringan ekstrem.
Fenomena ini memicu perdebatan akademis sengit: apakah ini kebetulan alam, atau bukti rekayasa iklim sebagai senjata geopolitik?
Dr. Fatima Saad al-Hassani, pakar lingkungan dari Universitas Oregon, menyebut serangan Iran pada 13 April 2026 bukan sekadar aksi militer, melainkan “pukulan iklim” yang membongkar jaringan rahasia kontrol cuaca di Uni Emirat Arab (UEA).
“Iran tidak menarget pangkalan militer, tapi jantung sistem manipulasi awan yang mengeringkan wilayah tetangga,” ujarnya dalam analisis terkini.
Pusat tersebut, katanya, menggunakan teknologi cloud seeding—penyemprotan zat kimia seperti silver iodida, aluminium oksida, dan potasium perklorat—untuk mengalihkan awan dari Iran-Irak ke Teluk.
Mekanisme IPTEK di Balik Rekayasa Iklim
Secara teknis, operasi ini mengintegrasikan geoengineering canggih dengan infrastruktur militer. Cloud seeding memicu kondensasi buatan, sementara dugaan penggunaan gelombang frekuensi tinggi ala HAARP (High-Frequency Active Auroral Research Program) mengganggu pembentukan awan alami.
Literatur ilmiah, seperti studi Journal of Applied Meteorology (2023), membenarkan efektivitas silver iodida dalam memodulasi presipitasi hingga 15-20% di wilayah gersang. Namun, aplikasi di UEA tampaknya disalahgunakan: tujuan resmi tingkatkan hujan untuk pertanian dan pariwisata, tapi efek sampingnya mengeringkan sungai Tigris-Efrat dan sumur di Iran timur.
Data satelit NOAA menunjukkan pola anomali: curah hujan Teluk naik 30% sejak 2022, bersamaan dengan penurunan 40% di Iran timur—menyalahi siklus musiman El Niño/La Niña. Netanyahu pernah mengejek kekeringan Iran sebagai “bencana alam”, tapi kehancuran radar UEA justru memulihkan keseimbangan: suhu turun dari >50°C, banjir selamatkan lahan pertanian, dan angin laut lembab kembali.
Dampak Sosial: Air sebagai Senjata Politik
Dari sisi sosial, rekayasa ini ciptakan krisis multidimensional. Kekeringan paksa migrasi paksa jutaan petani Iran-Irak, hancurkan pertanian (penurunan produksi gandum 25%, data FAO 2025), dan picu ketergantungan impor pangan—melemahkan kedaulatan negara sasaran.
Teori konflik air ala “hydro-hegemony” (Zeitoun & Warner, 2006) relevan: negara kuat seperti UEA, AS, dan Israel kuasai sumber daya untuk tekanan politik, sementara rezim Arab Teluk dituduh tamak demi ekspansi ekonomi.
Penduduk lokal Iran laporkan “kelegaan sementara”: petani di Sistan-Baluchestan tanam kembali, tapi kekhawatiran muncul soal fase baru perang iklim—relokasi pusat ke pangkalan AS, drone seeding, dan eskalasi HAARP global. “Air bukan hanya untuk kehidupan, tapi dijadikan senjata,” tegas Dr. al-Hassani, menyerukan pengawasan internasional via UNEP.
Fenomena ini tantang narasi konvensional: perang bukan hanya rudal, tapi manipulasi iklim untuk dominasi sosial-ekonomi. Apakah ini awal era geoengineering sebagai alat perang hybrid? (Har’S) .
Views: 51












