Deliserdang, Utomo News, Jum’at, 27 februari 2026- |
Bayangkan pagi itu, 19 Ramadan 40 Hijriah (27 Januari 661 M), di Masjid Kufah yang ramai oleh jamaah berpuasa. Subuh baru saja dimulai. Udara dingin menusuk, aroma tanah basah bercampur wewangian attar dari para pejuang malam. Di saf depan, berdiri Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib—pemimpin umat yang dikenal sebagai “Imam Adil” dan sahabat Rasulullah SAW yang paling dekat.
Di saf yang sama, seorang hafiz Al-Qur’an berdiri tegak, dahi hitam kehitaman karena sujud panjang tahajjudnya. Ia adalah Abdurrahman bin Muljam al-Muradi, pria yang pernah dipuji Khalifah Umar bin Khattab sebagai ahli ilmu.
Beberapa detik kemudian, pedang beracun berayun ganas dari tangan Ibnu Muljam. Ali roboh, darahnya mengalir deras di sajadah masjid. Bukan penjahat kelas teri, tapi seorang ulama yang hafal 30 juz Al-Qur’an, ahli fikih yang dikirim Umar ke Mesir untuk mengajar, dan sahabat Ali yang pernah ikut baiat serta berperang di sisinya.
Kisah ini bukan fiksi—ia tercatat jelas dalam Tarikh al-Tabari (jilid 5, hlm. 53-60) dan Al-Bidayah wa al-Nihayah (jilid 7, hlm. 331-335).
Bagaimana seorang “bintang agama” berubah menjadi algojo? Jawabannya: fanatisme politik yang dibalut ilmu suci.
Latar Belakang Ibnu Muljam: Dari Hafiz Saleh Menuju Pembunuh
Abdurrahman bin Muljam bukanlah orang asing di kalangan sahabat. Riwayat Ibnu Katsir menyebutkan Umar bin Khattab memujinya sebagai “hafiz yang saleh” dan mengirimnya ke Mesir sekitar 20 H untuk menyebarkan ilmu Al-Qur’an dan fikih (lihat Al-Bidayah, jilid 7). Ia ikut baiat kepada Ali setelah pembunuhan Utsman bin Affan pada 35 H, bahkan bertempur membela Ali di Pertempuran Jamal (36 H) dan Siffin (37 H) melawan Muawiyah.
Dakwahnya di kalangan Khawarij awal juga dikenal; ia sering mengajar di masjid-masjid Kufah.Namun, titik balik terjadi di Pertempuran Siffin. Saat pasukan Ali dan Muawiyah saling berhadapan di tepi Sungai Efrat, Syam bin Ash’ath al-Adzrami—utusan Muawiyah—mengusulkan “tahkim” (arbitrase) dengan menggantung Al-Qur’an di tombak sebagai simbol “La hukma illa lillah” (tiada hukum kecuali hukum Allah).
Ali setuju untuk menjaga perdamaian, tapi sebagian pengikutnya—kelak dikenal Khawarij—menolak keras. Mereka menuduh Ali mengkhianati tauhid, bahkan mengkafirkan dia karena menerima tahkim manusiawi (Tarikh al-Tabari, jilid 5, hlm. 27). Slogan suci itu berubah jadi palu pengkafiran: Ali, yang kemarin dipuji sebagai “pintu ilmu” oleh Rasulullah (HR. Tirmidzi no. 3737), tiba-tiba dituduh jadi “kafir murtad”.
Bara Dendam Nahrawan dan Mahar Kepala Ali
Fanatisme Khawarij membara pasca Perang Nahrawan (38 H), di mana Ali membantai ribuan pemberontak yang menolak tahkim. Ibnu Muljam selamat, tapi dendamnya dipicu dua wanita: Qatham binti al-Syaibi dan Wardah al-Tujibiyyah. Menurut riwayat al-Baladzuri dalam Ansab al-Ashraf (jilid 3, hlm. 123), Qatham—yang keluarganya tewas di Nahrawan—bersumpah takkan menikahinya kecuali dengan “mahar kepala Ali”. Wardah menambah api: “Nikahiku padamu jika kau tebas Amr bin al-As atau Ali.”
Ibnu Muljam, bersama dua rekannya (al-Bura’ al-Muradi dan Wardan bin al-Mukhallad), bersumpah di Harura: “Kami bagi tiga target—Ali, Muawiyah, dan Amr. Siapa gagal, dibunuh oleh yang lain.”Mereka meracik racun dari darah kuda dicampur kunyahan ular, dioleskan ke pedang (Tarikh al-Tabari, hlm. 55). Pada 17 Ramadan, Ibnu Muljam berpuasa sunnah, bermalam tahajjud, dan merasa “menuju surga”.
Dua hari kemudian, di subuh masjid, ia menyergap Ali saat sujud—saat yang paling rentan.Dua Keyakinan, Satu Tragedi: Fuztu wa Rabbil Ka’bah.
Ali terluka parah, tapi tenang. Ia berkata, “Fuztu wa Rabbil Ka’bah” (Aku menang, demi Tuhan Ka’bah)—riwayat shahih dari Musnad Ahmad (no. 950) dan Shahih Muslim (no. 2404). Ia memaafkan Ibnu Muljam: “Jika aku selamat, aku hukum adil. Jika mati, jangan balas dendam.” Ali wafat dua hari kemudian pada 21 Ramadan, tepat di hari yang ia ramalkan sebagai “hari kemenanganku” (Al-Qur’an 20:73 diartikan sebagai nubuat).
Ibnu Muljam ditangkap dan dieksekusi dengan cara yang adil oleh putra Ali, Hasan—bukan dengan racun balasan, tapi pedang bersih. Khawarij bubar, tapi benih fanatisme bertahan, memicu perpecahan umat hingga kini.
Pelajaran Ramadan: Ilmu Bukan Jaminan, Hati yang Menentukan
Sejarah ini menampar: Hafal 30 juz tak selamatkan Ibnu Muljam dari neraka fanatisme (ia dikutuk dalam riwayat sahabat). Sujud panjang tak bukti hati murni. Ilmu bisa jadi cahaya (seperti Ali, yang Rasulullah sebut “paling fasih Qur’an” dalam HR. Bukhari), atau api pembakar (seperti Khawarij yang hafal tapi zalim).
Zaman sekarang pedang itu telah berubah menjadi lidah yang selalu tertutup di dalam mulut . Ia tak pernah terlihat siapapun walaupun lidah tersebut sedang atau akan membunuh orang lain, kematian sekarang tidak hanya kematian jasad namun bisa berubah kematian karir, jabatan dll, dan ini mungkin lebih pedih balasan yang akan di beri Allah SWT.
Yang paling bahaya bukan buta huruf, tapi “merasa paling tahu” lalu menghakimi atas nama Tuhan. Di era medsos kini, slogan “La hukma illa lillah” sering dipakai takfir modern. Ramadan ini, jaga hati dari ego. Sebab agama yang dibalut dendam bukan rahmatan lil alamin—ia jadi senjata pedang beracun. (HBS).
Views: 30













