Ultimatum Teheran ke Washington: Iman Tak Tunduk pada Kekerasan Imperialis AS!

 

Deliserdang, Utomo News, Senin 19/1/2026 – |

Dari jantung Teheran yang berdenyut penuh semangat jihad, bergema ultimatum tegas yang mengguncang dunia: Iran siap berperang jika Amerika Serikat memaksakan kehendaknya! Negeri ini bukan lagi mangsa empuk bagi hegemoni brutal Washington, yang kerap merobek kedaulatan negara lain demi ambisi globalnya.

Ingat Libya? Muammar Gaddafi, pemimpin yang menentang dolar AS, ditangkap dan dibunuh secara brutal pada 2011 setelah NATO—di bawah komando AS—meledakkan negaranya menjadi puing-puing.

Tak lama kemudian, Irak: Saddam Hussein, yang berani menantang invasi AS pada 2003, diseret dari sarangnya seperti binatang buruan, diadili, dan digantung di hadapan dunia.

Dan terakhir? Afghanistan di bawah Taliban yang digulingkan 2001 lalu bangkit kembali, atau upaya gagal terhadap Bashar al-Assad di Suriah—semua korban pola yang sama: AS mengabaikan kedaulatan, mendikte dengan rudal dan drone, lalu meninggalkan kekacauan.

Bagi Pemimpin Agung Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dan rakyatnya yang teguh, skenario mengerikan itu bukan ancaman, melainkan ujian iman. “Kami tidak takut pada ancaman Amerika. Jika mereka menyerang, negeri ini mungkin hancur, tapi semangat perlawanan umat Islam akan abadi,” tegas Khamenei dalam pidato terbarunya di hadapan jutaan jamaah Ashura (sumber: Khamenei.ir, Januari 2026).

Kehancuran fisik? Itu hanyalah sementara, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 139: “Janganlah kamu dikalahkan dan janganlah (pula) kamu berduka cita, karena kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu beriman.”

Ini cerminan sejarah Revolusi Islam 1979, saat Iran bangkit melawan Shah yang didukukung AS, dan kini bertahan sanksi ekonomi selama empat dekade tanpa berlutut—seperti hadits Rasulullah SAW: “Seorang mukmin yang kuat lebih utama dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah” (HR. Muslim).

AS, sang algojo pemimpin dunia, kini berhadapan dengan benteng tak tertembus. Teheran bukan Gaddafi yang kesepian atau Saddam yang terisolasi; mereka punya arsenal mematikan: lebih dari 3.000 rudal balistik termasuk Shahab-3 (jangkauan 2.000 km, bisa capai Israel) dan rudal hipersonik Fattah yang tak terdeteksi radar AS (data: CSIS Missile Defense Project, 2025).

Jaringan Hizbullah di Lebanon (100.000 roket) dan Houthi di Yaman membuat Samudra Merah bergolak, sementara Korps Garda Revolusi (IRGC) dengan 190.000 personel siaga penuh. Ultimatum ini bukan gertakan—ini pernyataan perang suci melawan tirani yang merampas kedaulatan umat, mengikuti teladan Imam Hussein di Karbala yang memilih mati daripada tunduk.

Iran membuktikan: Iman di atas segalanya. Washington boleh mengaum, tapi Teheran tak goyah.
( Hasan Basri Siregar Ketua JWI Deli Serdang).

Views: 31