Deli Serdang, Utomo News, Senin, 8 Juni 2026-|
Kajian Akhlak Publik
Ulasan atas tulisan: “Dua Tugas Utama Seorang Penjilat” Oleh; Hasan Basri Siregar, Ketua JWI Deli Serdang
1. Pengetahuan: Apa Itu “Penjilat” dalam Ilmu Sosial & Etika?
Dalam psikologi sosial, perilaku ini disebut “sycophancy” atau “ingratiation”. Intinya: perilaku menyanjung palsu untuk dapat akses kekuasaan.
1. Pemujaan Berlebihan = “Yes-man syndrome”. Setuju semua, kritik 0.
2. Fitnah & Singkirkan Lawan = “Divide et impera” versi murahan. Biar cuma dia yang dekat kuasa.
Kenapa berbahaya?
Epistemologi politik: pemimpin butuh data jujur buat ambil keputusan. Penjilat = “virus epistemologi”. Dia bikin pemimpin hidup di “gelembung pujian” sehingga salah pun dikira benar. Ujungnya: kebijakan gagal, rakyat yang rugi. Kasus BGN contohnya: kalau di sekelilingnya penuh penjilat, siapa yang berani bilang “Pak, ini rawan OTT”?
2. Pemahaman Etik: Ini Bukan Cuma “Jelek”, Tapi Dosa Sosial
Perilaku ini melanggar 3 pilar etika sekaligus:
Pilar Etika, Pelanggaran Penjilat,
Etika Kebenaran, Bohong. Memuji yang salah = syahadat palsu.
Etika Keadilan . Menjatuhkan orang baik demi kursi = dzalim.
Etika Amanah, Khianat. Jabatannya jadi alat pribadi, bukan melayani rakyat.
Nabi ﷺ sudah kasih indikator orang munafik: “Jika berbicara, berdusta. Jika berjanji, mengingkari. Jika diberi amanah, berkhianat” HR. Bukhari 33. Penjilat = kombinasi ketiganya.
3. Rujukan Al-Quran: Allah Benci “As-Suht” & “An-Namimah”
Dua tugas penjilat itu persis 2 penyakit yang Allah laknat:
Tugas Penjilat 1: Memuji & Benarkan yang Salah = “As-Suht” + “Mudahanah” وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ
“Dan janganlah kamu condong kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka” QS. Hud: 113 .
“Membenarkan zalim” = “rukun” ke zalim. Ulama tafsir sebut ini “mudahanah”: melenturkan agama demi dunia. Walau pemimpin salah, dia bilang “benar Pak”. Itu bukan hormat, itu jerumuskan pemimpin ke neraka.
Tugas Penjilat 2: Menjatuhkan & Fitnah Lawan = “An-Namimah”
*وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِينٍ هَمَّازٍ مَّشَّاءٍ بِنَمِيمٍ*
“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian kemari menyebarkan namimah” QS. Al-Qalam: 10-11.
“Namimah” = adu domba, bisik-bisik fitnah. Nabi ﷺ bersabda: “Tidak masuk surga orang yang suka mengadu domba”HR. Bukhari 6056. Tugas kedua penjilat itu persis namimah. Dia bunuh karakter orang lain biar kursinya aman.
Inti Quran: Penjilat itu pengkhianat kebenaran. Dia jual ayat demi kursi.
4. Rujukan Hadis: 3 Ciri & Ancaman Neraka
Nabi ﷺ sudah bedah psikologi penjilat 1400 tahun lalu:
1. Hadis “Hamba Dinar”: تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ “Celakalah hamba dinar”_ HR. Bukhari 2887. Penjilat = “hamba kursi”. Orientasi hidupnya cuma “bagaimana menyenangkan bos”, bukan “bagaimana ridho Allah”.
2. Hadis Pemimpin & Penasihat: مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً… ثُمَّ لَمْ يَحُطْهَا بِنُصْحٍ إِلَّا لَمْ يَجِدْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ “Tidaklah seorang hamba yang Allah beri amanah memimpin rakyat, lalu ia tidak menasihatinya dengan jujur, kecuali ia tidak akan mencium bau surga”_ HR. Bukhari 7151. Penjilat = penasihat yang tidak jujur. Dia malah “racuni” pemimpin dengan pujian palsu.
3. Hadis Fitnah : أَلَا أُنَبِّئُكُمْ مَا الْعَضْهُ؟ هِيَ النَّمِيمَةُ، الْقَالَةُ بَيْنَ النَّاسِ “Maukah kalian aku beritahu apa itu ‘al-‘adhhu’? Itulah namimah, ucapan yang disebar di antara manusia” HR. Muslim 2606. “Al-‘adhhu” = sihir. Karena fitnah penjilat bisa hancurkan rumah tangga, kantor, bahkan negara.
5. Pemahaman Sosial: Dampak ke Negara & Rakyat
Penjilat itu “kanker birokrasi”. Dampaknya berantai:
1. Ke Pemimpin: Bikin pemimpin tuli, sombong, salah tapi merasa benar. Ujungnya: OTT KPK, jatuh, masuk penjara.
2. Ke Institusi: Orang kompeten tersingkir. Yang naik = yang jago jilat. Maka BUMN, kementerian isinya orang tidak ahli. Hasilnya: proyek gagal, anggaran bocor.
3. Ke Rakyat: Kebijakan jadi ngawur karena data yang masuk ke pemimpin sudah disaring penjilat. Rakyat kecil yang bayar pajak, yang kena dampak. UUD 1945 Pasal 33 tidak jalan karena yang dekat kuasa sibuk jilat, bukan jaga amanah.
Diagnosis Islam: Ini bentuk “nifaq ‘amali” = munafik perilaku. Lisannya “Siap Pak”, hatinya “Asal saya selamat”.
Penutup: Vaksin Anti-Penjilat Versi Quran
Gimana ngelawan budaya penjilat?
1. Untuk Rakyat: Jangan silau jabatan. *يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ* _”Jadilah kamu penegak keadilan” QS. An-Nisa: 135. Berani bilang “salah” walau ke pejabat.
2. Untuk Pemimpin: Cari “Sahabat Umar”, bukan “Penjilat”. Umar bin Khattab pernah bilang ke rakyat: “Koreksi aku kalau aku salah”. Pemimpin hebat butuh pengkritik, bukan pemuji.
3. Untuk Kita Semua: Nabi ﷺ ajarkan “قل الحق ولو كان مرا” “Katakan kebenaran walau pahit”. Lebih baik dibenci karena jujur, daripada disayang karena jilat.
Kesimpulan: Penjilat itu “koruptor akhlak”. Dia tidak mencuri uang negara langsung, tapi dia yang bikin koruptor jadi berani. Memberantas korupsi tanpa memberantas penjilat = tebang daun, akar tetap tumbuh.
(*).
Views: 10












