Berita  

Koruptor Hipokrit: Rampas Rp25 Juta Uang Rakyat, Demi Dunia Koruptor Ketawa Sambut Api Neraka!

 

Deli Serdang, Utomo News, Jum’at 6 Maret 2026-|

Di negeri yang dijuluki “pulau emas” berkat kekayaan alamnya yang melimpah—minyak bumi, gas alam, emas, hingga rempah-rempah yang dulu menggoda bangsa Eropa—rakyatnya justru merangkak kelaparan. Mahfud MD, tokoh hukum senior yang pernah jadi Menko Polhukam, pernah blak-blakan dalam sebuah podcast: “Kalau kekayaan alam Indonesia dikelola dengan benar, tiap warga bisa dapat Rp 25 juta per bulan tanpa perlu kerja.”

Bayangkan itu! Tapi realitanya? Jangankan Rp 25 juta, untuk makan daging rendang dan sepiring nasi pun rakyat bersusah payah, bergelut dengan inflasi, PHK massal, dan utang negara yang membengkak.

Siapa dalangnya? Itulah para koruptor dan perampok anggaran yang menilep triliunan rupiah, dari dana desa hingga proyek infrastruktur raksasa, tanpa sedikit pun gentar akan siksa kubur atau api neraka.

Mengapa manusia di dunia ini berani berbuat kejahatan sekejam itu? Al-Qur’an menjawab tegas: “Itulah orang-orang yang membeli kesesatan mereka dengan petunjuk(-ku), maka keuntungan dagang mereka itu tidak memberi keberkahan, dan mereka bukanlah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 90).

Mereka tak takut balasan akhirat karena hati mereka sudah dikunci oleh Allah SWT, sebagaimana firman-Nya: “Allah menempakan segel (penutup) atas hati mereka dan pendengaran mereka, dan atas penglihatan mereka ada penutup (yang menutupi). Dan mereka itulah yang mendapatkan azab yang besar.” (QS. Al-Baqarah: 7).

Penyegelan ini bukan kutukan acak, tapi akibat ulah mereka sendiri: “Apabila Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat dari Kami sesudah kesusahan yang menimpa dia, maka sesungguhnya mereka langsung membuat tipu daya terhadap ayat-ayat Kami. Katakanlah: ‘Allah lebih cepat berbuat tipu daya.’ Sesungguhnya malaikat-malaikat Kami mencatat tipu daya itu yang kamu rancangkan.” (QS. Yunus: 21).

Korupsi mereka adalah “tipu daya” itu—merampok hak umat demi nafsu duniawi, sambil berpura-pura soleh di mimbar masjid atau foto bersama ulama.Hadits Nabi Muhammad SAW semakin menusuk: “Dua macam orang yang tidak pernah kenyang: pemilik ilmu (yang rakus harta) dan pemilik harta (yang rakus ilmu).” (HR. Ibnu Hibban).

Para elite koruptor kita—yang seringkali bergelar profesor atau ustadz—adalah contoh sempurna. Mereka tahu janji neraka, tapi nafsu dunia mengaburkan segalanya.

Rasulullah SAW memperingatkan: “Barangsiapa yang kami berikan kepadanya harta lalu ia menjaganya, maka dia orang yang baik. Barangsiapa yang kami berikan kepadanya harta lalu ia merusaknya, maka dia orang yang celaka.” (HR. Bukhari-Muslim).

Di Indonesia, harta negara dirusak habis: KPK catat kerugian negara Rp 50 triliun per tahun akibat korupsi, sementara 25 juta rakyat miskin ekstrem (data BPS 2025) tak punya akses pendidikan atau kesehatan layak. Ini bukan kebetulan; ini hati yang sudah mati, seperti sabda Nabi: “Apabila hamba melakukan maksiat, ia berkata, ‘Ya Allah, ampuni aku.’ Jika ia mengulanginya, ia berkata lagi, ‘Ya Allah, ampuni aku.’ Jika ia mengulanginya lagi, maka Allah berfirman, ‘Aku telah mengabdi kepadanya, maka biarlah ia kepada apa yang dikehendakinya, Aku telah memutuskan bahwa ia tidak akan berhenti dari maksiat kepadaku, maka Aku tidak peduli kepadanya.’” (HR. Ahmad).

Kritiknya tajam: sistem kita gagal karena pemimpin takut manusia, bukan Allah. Al-Qur’an hantam habis: “Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.’ Ia berkata, ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau himpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulu melihat?’ Allah berfirman, ‘Demikianlah, ayat-ayat Kami datang kepadamu, lalu kamu lupakannya, dan demikianlah hari ini kamu dilupakan.’” (QS. Thaha: 124-126).

Koruptor kita akan buta di akhirat, tapi sekarang mereka buta oleh keserakahan. Rakyat? Terus menibun harta dan kekurangan karena “Sesungguhnya orang-orang yang bakhil dan menyuruh manusia berbakhil dan menyembunyikan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan bagi orang-orang kafir (yang ingkar itu) azab yang menghinakan.” (QS. Al-Ma’un: 18, diringkas).

Bangunlah, umat! Kekayaan Indonesia bukan untuk istana pribadi, tapi amanah rakyat. Jika hati tak terkunci, kelola dengan adil—seperti paparannya Mahfud—dan wujudkan Rp 25 juta itu. Kalau tidak, neraka menanti,dan itulah tempat yang layak bagi hati yang sudah terkunci. ( Hari’S).

Views: 14