AS secara diam-diam perkuat pangkalan militer dekat China: Strategi baru hadapi ‘titik panas’ Laut China Selatan

 

Medan, Utomo news, Jum’at,19 Desember 2025 – |

Amerika Serikat (AS) secara intensif meningkatkan kesiapsiagaan militernya di kawasan Asia-Pasifik dengan memperkuat sejumlah pangkalan militer strategis yang berdekatan dengan wilayah China. Langkah ini bukan sekadar respons sementara, melainkan bagian dari doktrin pertahanan jangka panjang Washington untuk menjaga dominasi geopolitiknya di tengah persaingan sengit dengan Beijing.

Penguatan infrastruktur militer ini dilakukan di tengah eskalasi ketegangan, termasuk sengketa wilayah di Laut China Selatan yang melibatkan klaim tumpang tindih dari China, Vietnam, Filipina, dan negara-negara ASEAN lainnya.

Pangkalan-pangkalan kunci yang menjadi fokus utama meliputi fasilitas di Guam, Okinawa (Jepang), dan pangkalan baru di Filipina seperti di Cagayan dan Palawan.

Menurut laporan eksklusif dari sumber pertahanan AS, infrastruktur ini kini dilengkapi dengan kemampuan operasional canggih: mulai dari landasan pacu untuk pesawat tempur F-35 Lightning II, sistem pertahanan udara Patriot dan THAAD, hingga gudang logistik untuk mendukung penempatan cepat ribuan pasukan Marinir AS.

“Kami siap merespons ancaman apa pun dengan kecepatan dan presisi,” ujar seorang pejabat Pentagon secara anonim, seperti dikutip dari dokumen strategi militer terbaru.

Strategi ini juga menekankan penguatan aliansi regional. AS telah menandatangani kesepakatan Akses Fasilitas Pertahanan yang Ditingkatkan (EDCA) dengan Filipina, memungkinkan rotasi pasukan hingga 8.000 personel AS di empat pangkalan utama.

Latihan gabungan seperti Talisman Sabre dan RIMPAC semakin sering dilakukan bersama sekutu seperti Jepang, Australia, Korea Selatan, dan bahkan India melalui Quad. Tujuannya jelas: membangun interoperabilitas militer yang mulus, sehingga kawasan ini bisa menghadapi “agresi unilateral” dari China, sebagaimana disebut dalam pidato Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin baru-baru ini.

Namun, langkah AS ini memicu kecaman keras dari China. Kementerian Luar Negeri China menyebutnya sebagai “provokasi berbahaya” yang mengganggu stabilitas regional dan melanggar prinsip non-intervensi.

Beijing merespons dengan mempercepat pembangunan pangkalan buatan di Spratly Islands serta uji coba rudal hipersonik DF-17 yang mampu menjangkau pangkalan AS di Asia dalam hitungan menit.

Analis militer dari Institute for Strategic Studies memperingatkan bahwa Asia-Pasifik kini menjadi “titik panas geopolitik terpanas dunia”, di mana keseimbangan kekuatan militer dan diplomasi bisa memicu konflik skala besar kapan saja.

Pengamat internasional menilai, penguatan militer AS ini juga dipengaruhi oleh pemilu presiden AS 2024 yang dimenangkan oleh kubu pro-kekuatan keras terhadap China. Dengan anggaran pertahanan mencapai US$886 miliar untuk 2025, Washington berupaya mencegah dominasi China di rantai pulau pertama (first island chain) yang mencakup Taiwan, Filipina, hingga Jepang.

Bagi Indonesia sebagai negara netral, dinamika ini menuntut kewaspadaan ekstra, terutama dalam menjaga ZEE Natuna yang berbatasan langsung dengan klaim “nine-dash line” China. (Sumber: CNBC Indonesia).

Reporter : Hasan Basri Siregar.

Views: 4