Berita  

“Saat Nafsu Jadi Pimpinan, Aqal Jadi Anak Buah – Maka Korupsi Merajalela” Oleh: Hasan Basri Siregar, Ketua JWI Deli Serdang, Senin, 13 Juli 2026.

 

 

Deli Serdang, Utomo News-|

 

PEMBUKA: KITA SALAH MEMAHAMI MUSUH:

Sering kita teriak: “Berantas Koruptor!”

Tapi kita lupa bertanya: Siapa sebenarnya dalang di balik meja itu?

 

Bukan orangnya. Tapi nafsunya.

 

Kita sering menganggap nafsu sebagai musuh yang harus dibasmi. Padahal nafsu adalah fitrah. Ia kekuatan dari Allah agar kita hidup, bekerja, mencintai, dan berjuang.

 

Masalahnya bukan pada nafsunya. Masalahnya ketika nafsu yang jadi pimpinan.

 

TERBALIK: SAAT KUDA MENUNGGANGI PENUNGGANGNYA.

Para ulama bilang: Nafsu itu seperti kuda. Aqal itu penunggangnya. Iman itu kendalinya.

 

Seharusnya: Aqal mengendalikan Nafsu.

Faktanya sekarang: Nafsu mengendalikan Aqal.

 

Lihat buktinya di data 1,5 tahun terakhir:

 

1.  Nafsu Tamak → Aqal Cari Celah.

    Eks Jampidsus Febrie Adriansyah. Aqal setinggi itu, hafal pasal, paham hukum. Tapi karena nafsu jadi pimpinan, aqalnya dipakai untuk menyembunyikan Emas 74 Kg + uang hampir Rp500 Miliar. Aqal tidak jadi rem, tapi jadi “sopir” untuk kabur dari hukum.

 

2.  Nafsu Syahwat Jabatan → Aqal Jual Beli.

    13 Kepala Daerah tumbang. Dari Langkat Syah Afandin sampai Sukoharjo Etik Suryani. Aqal mereka dipakai untuk menghitung setoran proyek, bukan menghitung maslahat rakyat. Nafsu ingin kaya cepat, aqal jadi konsultan kejahatannya.

 

3.  Nafsu Riya & Rakus → Aqal Mark Up.

    26 Tersangka Kasus MBG. Ini yang paling keji. Nafsu untuk dapat untung besar mengalahkan rasa kasih pada anak. Aqal dipakai untuk mark up harga susu, telur, dan buah anak sekolah. Padahal aqal tahu itu dosa, tapi nafsu berteriak lebih keras.

 

Allah sudah ingatkan:

“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.”(QS. Yusuf: 53)

 

Ketika rahmat dicabut, maka nafsu naik jadi direktur. Aqal turun jadi staf.

 

ANALISIS: MENGAPA KORUPSI MAKIN MEMBARA?

Karena pimpinannya salah.

 

Selama ini kita sibuk menambah gaji, menambah pengawasan, menambah KPK. Tapi lupa membenahi “pimpinan” di dalam dada.

 

1. Nafsu Tanpa Kendali Iman.

Tanpa iman, nafsu makan jadi rakus. Nafsu kerja jadi korupsi. Nafsu punya jadi serakah. Lihat Rp575,7 Miliar yang dirampok 18 pejabat. Itu bukan karena mereka lapar. Tapi karena nafsunya tidak pernah kenyang.

 

2. Aqal Dijual Untuk Melayani Nafsu.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Orang yang mujahid adalah orang yang berjihad melawan hawa nafsunya karena Allah Azza wa Jalla.”(HR. Ahmad)_

 

Medan jihad terbesar ada di dada. Dan kita kalah. Aqal yang harusnya bilang “haram”, malah dibungkam nafsu yang bilang “gas, semua orang juga gitu”.

 

3. Tidak Ada Rasa Takut Akan Hisab.

Allah berfirman:

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya pula.” (QS. Az-Zalzalah: 7-8)

 

Tapi nafsu membisik: “Nanti tobat. Nanti bagi-bagi. Nanti aman.” Akhirnya timbangan akhirat dilupakan demi kenikmatan dunia 5 tahun.

 

SOLUSI: KEMBALIKAN PIMPINAN PADA AQAL DAN IMAN.

Hukum mati dan sita aset penting. Tapi itu efek luar. Efek dalamnya harus dibenahi:

 

1. Latih Nafsu, Jangan Bunuh.

Jangan benci nafsumu. Arahkan. Nafsu untuk makan → makan halal. Nafsu untuk kaya → kaya dari kerja berkah. Nafsu untuk dihormati → hormat karena amanah.

 

2. Kuatkan Aqal dengan Ilmu & Taqwa.

Aqal harus jadi panglima lagi. Caranya dengan majelis ilmu, muhasabah, dan ingat mati. Pejabat yang shalat 5 waktu tepat waktu, insyaAllah malu korupsi.

 

3. Hidupkan Rasa Takut Kepada Allah.

Karena di ujung pencapaian, tidak ada yang bisa ditutupi. Emas 74 Kg bisa disita Polri. Tapi catatan malaikat tidak bisa disuap.

 

PENUTUP.

Korupsi makin membara bukan karena hukumnya kurang. Tapi karena nafsu sudah jadi pemimpin dan aqal jadi anggotanya.

 

Selama kuda liar yang memegang kendali, maka kereta negara akan terus tergelincir. Ke jurang.

 

Mari kita mulai dari diri. Kendalikan kuda itu.

Karena nafsu yang terarah adalah kekuatan yang menyelamatkan.

Dan pada akhirnya, kitalah yang akan menuai hasil dari, dan ke mana kita membawa “kuda” itu berlari.

 

“Dari Emas 74 Kg sampai Piring MBG Anak. Semua berawal dari satu titik: Nafsu yang tidak ditundukkan.”

 

Wallahu a’lam bish shawab

 

Hasan Basri Siregar

Ketua JWI Deli Serdang

Views: 11