Berita  

Menghargai Ilmu Adalah Segalanya”*   Memahami Makna Pendidikan dari Pernyataan Darmais Setiawan,Jum’at, 12 Juni 2026 Oleh: Hasan Basri Siregar,Redaksi Utomo News

itulis dari sudut pandang Sosiologi & Filsafat Pendidikan

 

Deli Serdang, Utomo News, -|

Pernyataan sederhana Darmais Setiawan, “Tak tinggi pendidikan saya, tapi saya menjunjung tinggi pendidikan”, Jumat 12/6/2026, terdengar rendah hati. Tapi kalau dibedah dengan kacamata ilmu, kalimat ini justru menyentuh inti filsafat pendidikan yang sering dilupakan: pendidikan bukan tentang ijazah, tapi tentang sikap terhadap ilmu.

 

1. Pendidikan Formal vs Pendidikan Substansial: Mana yang Lebih Penting? 

Dalam sosiologi pendidikan, ada 2 konsep: 

1. Pendidikan Formal = jalur sekolah, kuliah, gelar. Ini soal “sertifikat kompetensi”. 

2. Pendidikan Substansial = proses seumur hidup untuk berpikir kritis, beradab, dan mau belajar. Ini soal “karakter pembelajar”.

 

Darmais menegaskan dirinya tidak tinggi pendidikan formalnya. Tapi ia “menjunjung tinggi pendidikan”. Artinya, ia memilih jalur kedua. Ia mungkin tidak punya gelar S2, tapi punya growth mindset – keyakinan bahwa ilmu bisa dipelajari siapa saja, kapan saja.

 

Filsuf pendidikan Paulo Freire menyebut ini “pendidikan pembebasan”. Orang yang menjunjung pendidikan tidak akan merasa paling pintar. Ia akan terus bertanya, mendengar, dan memperbaiki diri. Justru orang berpendidikan tinggi tapi angkuh, bisa jatuh ke “kebodohan terpelajar”.

 

2. “Menjunjung Tinggi Pendidikan” = 3 Sikap Ilmiah Ini. 

Kalau kita bedah, “menjunjung tinggi pendidikan” punya 3 indikator ilmiah:

 

Pertama, Epistemik: Mengakui Batas Pengetahuan  

Orang yang menjunjung pendidikan sadar bahwa “aku tidak tahu segalanya”. Kalimat “Tak tinggi pendidikan saya” adalah bentuk intellectual humility. Dalam ilmu, kerendahan hati ini justru syarat utama riset. Ilmuwan besar selalu mulai dari “aku tidak tahu”.

 

Kedua, Etik: Menghormati Guru & Ilmu. 

“Menjunjung” artinya meletakkan ilmu di tempat terhormat. Dalam budaya kita, guru dihormati bukan karena gajinya, tapi karena ia pembawa obor ilmu. Orang yang menjunjung pendidikan tidak akan merendahkan guru honorer, dosen, atau bahkan petugas sensus yang datang bawa kuesioner. Karena baginya, setiap ilmuwan adalah mata rantai peradaban.

 

Ketiga, Sosial: Mendorong Orang Lain Belajar  

Ciri orang yang menghargai pendidikan: ia akan menyekolahkan anaknya setinggi-tingginya walau ia sendiri tidak. Ia akan malu kalau desanya buta data. Ia akan mendukung Sensus Ekonomi 2026 karena sadar “data akurat = kebijakan tepat”. Inilah kontribusi sosial orang “berpendidikan substansial”.

 

3. Relevansinya dengan Deli Serdang Hari Ini. 

Pernyataan Darmais relevan dengan 2 agenda besar Delser saat ini:

 

A. Sensus Ekonomi 2026*: Petugas sensus sering diremehkan “cuma tanya-tanya”. Padahal mereka pembawa data ilmiah. Orang yang menjunjung pendidikan akan buka pintu, jawab jujur, karena tahu data itu “ibadah” untuk 10 tahun ke depan.

 

B. UMKM Naik Kelas: Gubernur Bobby minta UMKM bikin _feasibility study_. Banyak pelaku usaha bilang “saya cuma lulusan SMP”. Tapi kalau sikapnya seperti Darmais – “tak tinggi pendidikan, tapi menjunjung pendidikan” – maka ia akan mau belajar bikin laporan, mau ikut pelatihan BPS, mau konsultasi ke DPMPTSP. Ijazah rendah tidak jadi penghalang, asal sikapnya tinggi.

 

4. Kritik: Bahaya “Kultus Ijazah” vs “Anti-Intelektual”*  

Pernyataan Darmais juga jadi koreksi untuk 2 kutub ekstrem:

1. Kultus Ijazah*: Mengira orang S3 pasti benar semua. Padahal ijazah tanpa etika bisa jadi alat penindasan.

2. Anti-Intelektual*: Bangga “tidak sekolah” lalu menolak semua data, riset, ahli. Ini berbahaya. 

 

Jalan tengahnya ada di Darmais: “ Pendidikan saya tidak tinggi, tapi saya menghormati Ilmu yang tinggi”*. Artinya, rendah hati mengakui keterbatasan diri, tapi tetap haus belajar dan menghormati ilmu.

 

Penutup: Peradaban Dibangun Oleh “Darmais-Darmais”  

Sejarah membuktikan, peradaban tidak hanya dibangun doktor dan profesor. Ia dibangun tukang kayu yang menghormati arsitek, petani yang mau ikut penyuluhan, kades yang mau baca RDKK, ibu PKK yang mau belajar pembukuan.

 

Maka, “pendidikan tinggi” sejati bukan diukur dari SKS, tapi dari seberapa tinggi kita menjunjung ilmu. 

 

Seperti kata Darmais Setiawan: Ijazah boleh tidak tinggi. Tapi martabat karena menghargai ilmu, harus setinggi langit.

 

Karena bangsa besar lahir bukan dari banyaknya gelar, tapi dari banyaknya orang yang mau belajar.

 

“Intelektual sejati bukan yang paling banyak tahu. Tapi yang paling sadar bahwa ia harus terus belajar.” (*). 

Views: 24