Medan, Utomo news, 19 Mei 2026 – |
Oligarki tidak pernah baik bagi demokrasi, apa pun bungkusnya. Demikian ditegaskan Guru Besar Prof. Dra. Francisia Saveria Sika Ery Seda, M.A., Ph.D. dalam pidato viralnya yang berjudul “Oligarki Selalu Buruk Untuk Demokrasi dan Kini Memakai Kosmetik Pemimpin Gorong”.
Pidato yang disampaikan dalam Pekan Kelas Terbuka 55 Dies Natalis STF Driyarkara-56 TERPOLEK itu kini ramai dibicarakan di media sosial sejak diunggah pada 11 Mei 2026 .
“Tidak Ada Oligarki yang Demokratis”
Prof. Francisia menegaskan:
“Oligarki itu selalu buruk bagi demokrasi. Tidak ada oligarki yang demokratis.”
Menurutnya, sistem oligarki yang didominasi segelintir elit berkuasa dan kaya secara konsisten menggerus prinsip-prinsip demokrasi, termasuk kedaulatan rakyat, kesetaraan politik, dan akuntabilitas publik.
Oligarki Kini Pakai “Kosmetik” Pemimpin Gorong
Yang paling mengkhawatirkan, kata Prof. Francisia, oligarki kini tidak lagi tampil secara frontal. Mereka memakai “kosmetik” berupa citra pemimpin yang tampak sederhana, dekat dengan rakyat, bahkan “masuk gorong” untuk memoles pencitraan .
“Waspada dengan politik pencitraan. Pemimpin yang masuk gorong bisa saja hanya topeng untuk kepentingan oligarki.” tegasnya dalam pidato.
Ia menyebut strategi ini sebagai bentuk totaliterisme baru: kekuasaan oligarki yang dibungkus narasi populis, anti-elit, dan “rakyat kecil”, padahal substansinya tetap melindungi kepentingan segelintir penguasa.
“Yang Dibela Tetap Kepentingan Oligarki”
Prof. Francisia mengingatkan rakyat agar tidak tergiur oleh retorika dan citra permukaan.
“Berapa pun kosmetik yang dipakai oligarki, yang dibela tetaplah kepentingan oligarki, bukan kepentingan rakyat.”
Ia mendorong masyarakat untuk lebih kritis terhadap:
janji-janji populis tanpa konkretisasi kebijakan,
narasi anti-elit yang justru mengonsentrasikan kekuasaan pada kelompok tertentu,
dan politik pencitraan yang mengabaikan substansi keadilan sosial dan demokrasi.
Banyak netizen menilai pidato tersebut “tajam, berani, dan relevan” dengan kondisi politik Indonesia saat ini.
Salah satu unggahan di Facebook menyebut:
“Indonesia bersyukur masih punya profesor yang bermanfaat untuk bangsa di tengah banyaknya suara yang diam.”
Panggilan untuk Kritis dan Berani
Prof. Francisia menutup pidatonya dengan seruan agar rakyat:
tidak mudah tertipu oleh kosmetik politik,
berani mengkritik kebijakan yang menguntungkan oligarki,
dan terus memperjuangkan demokrasi yang substantif, bukan sekadar prosedural.
Pidato ini menjadi pengingat bahwa demokrasi tidak cukup dengan pemilu dan gelar “republik”, tetapi harus diuji dari siapa yang benar-benar berkuasa dan siapa yang diuntungkan oleh sistem politik dan ekonomi yang berjalan. (Hari’S).
Views: 7












