Medan, Utomo news, 15 April 2026 – |
Ironi memilukan menimpa dunia pendidikan di Sumatera Utara. Seorang oknum guru swasta berinisial AS (39) yang seharusnya menjadi teladan bagi murid-muridnya, justru diamankan Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumut karena mengedarkan sabu seberat 2 kilogram. Penangkapan ini terjadi di depan minimarket kawasan Simpang Tuntungan, Desa Pancur Batu, Deli Serdang, menjelang dini hari Jumat (3/4/2026) pukul 00.20 WIB.
Pengungkapan kasus ini berawal dari unggahan video di akun Facebook R Anggi Team Sniper, yang viral menyebar di media sosial pada Selasa (15/4/2026). Video tersebut memperlihatkan proses penangkapan AS beserta barang bukti sabu kristal seberat 2 kg yang disembunyikan di dalam tasnya.
“AS berprofesi sebagai guru swasta,” ungkap Direktur Reserse Narkoba Polda Sumut, Kombes Pol Andy Arisandi, saat dikonfirmasi. Petugas langsung mengamankan tersangka setelah menerima laporan warga soal aktivitas mencurigakan di lokasi tersebut.
Kasus ini bukan sekadar penangkapan pengedar narkoba biasa, melainkan pukulan telak bagi moralitas masyarakat. Seorang guru, yang tugasnya membentuk karakter generasi penerus, malah terlibat dalam perdagangan barang haram yang merusak jiwa dan raga.
Sabu, atau metamfetamin, dikenal sebagai narkotika jenis pemabuk berbahaya yang menyebabkan kecanduan parah, kerusakan otak permanen, hingga kematian mendadak. Bayangkan, anak-anak yang sehari-hari belajar darinya justru berisiko terpapar lingkungan kejahatan karena teladan palsu ini.
Dari sisi moral, perilaku AS mencerminkan kemerosotan etika profesi pendidik. Di tengah tuntutan masyarakat agar guru menjadi panutan akhlak dan ilmu, oknum ini memilih jalan pintas kekayaan haram demi nafsu sesaat.
Ini mengkhianati amanah orang tua yang menitipkan masa depan anak-anak mereka. Lebih ironis lagi, penangkapan di depan minimarket—tempat ramai dikunjungi warga dan pelajar—berpotensi menjerumuskan generasi muda ke dalam jurang kehancuran.
Data BNN menunjukkan, 70% pengguna narkoba pertama kali adalah remaja usia sekolah, dan kasus seperti ini hanya memperburuk statistik tersebut di Sumut.
Polda Sumut kini mendalami jaringan AS, termasuk kemungkinan keterlibatan siswa atau rekan guru lainnya.
Kasus ini patut jadi pengingat keras: pendidik bukan hanya penyampai pelajaran, tapi benteng moral bangsa. Jika oknum seperti AS terus lolos pengawasan, siapa lagi yang akan melindungi generasi muda dari ancaman gelap seperti sabu? (Hari’S).
Views: 90












