Selat Hormuz Tutup 14 Hari, Barat Panik Histeris—Lupa Iran Disiksa Sanks
Medan, Utomo News, Senin, 16 Maret 2026-|
Mental ayam sayur, Baru 14 hari Selat Hormuz ditutup, Barat langsung kalang kabut seperti ayam kehilangan induknya. “Bebaskan kapal minyak kami! Buka lebar-lebar selat itu! Kami krisis energi, kekurangan BBM!” Teriakan mereka menggema di mana-mana, dari Gedung Putih hingga parlemen Eropa.
Mereka yang selama ini sombong berlagak sebagai penguasa dunia, kini merengek seperti anak kecil yang mainan kesayangannya dirampas. Ironi yang menyedihkan, bukan?
Padahal, apa yang mereka alami hanyalah secuil kecil dari penderitaan yang mereka timpakan pada Iran selama 47 tahun terakhir. Sanksi internasional yang brutal, embargo ekonomi yang kejam—semua itu dirancang khusus oleh AS dan antek-anteknya di Barat untuk merundungkan Tehran.
Mereka blokir akses Iran ke pasar global, bekukan aset, hancurkan perbankan, bahkan larang impor obat-obatan vital. Hasilnya? Masyarakat Iran menderita kelaparan, pengangguran merajalela, inflasi melambung, dan anak-anak mereka kehilangan masa depan karena pendidikan dan kesehatan tercekik.
Puluhan tahun lamanya, rakyat Iran diisolasi, diucilkan, dan disiksa secara sistematis—semua atas nama “keamanan dunia” yang katanya mereka jaga.
Ingat saja kronologi hipokrisinya. Sejak Revolusi Islam 1979, Barat—dipimpin AS—tak henti-hentinya menggencet Iran. Sanksi pertama datang pasca-krisis sandera, lalu bertumpuk dengan tuduhan nuklir palsu, embargo minyak, dan tekanan taktis yang makin gila-gilaan di era Trump dan Biden.
Mati kita lihat, Dunia diam saja saat Iran kehilangan miliaran dolar ekspor minyaknya, saat pabrik tutup massal, saat harga roti naik gila-gilaan. Tapi begitu Hormuz terganggu dua minggu, mereka langsung jerit-jerit “krisis kemanusiaan”! Di mana rasa malu mereka? Di mana keadilan yang mereka klaim bela?
Ini bukan sekadar pembalasan; ini pelajaran pahit bagi hegemoni Barat yang rapuh. Selama ini, mereka anggap dunia adalah milik mereka, minyak Timur Tengah adalah hak prerogatif mereka. Iran tutup Hormuz—yang memang wilayah perairannya—hanyalah cermin dari kelicikan mereka sendiri.
Namun begitu, sekalipun di embargo Barat habis habisan, Iran tetap berdiri tegap, Mereka bangkit dan mandiri, kini rakyat Iran malah menguasai beragam teknologi mutakhir dan yang paling mencengangkan dunia, Iran bisa buat sendiri Rudal hipersonik antar benua yang siap melumat negara mana pun yang Sombong.
Negara Barat yang memulai perang ekonomi, kini menangis saat Iran mulai menunjukkan taringnya. Rakyat Iran bertahan heroik di tengah sanksi genocidal, sementara Barat yang kaya raya tak tahan goresan kecil. Hipokrasi level dewa!
Waktunya dunia sadar: Barat bukan penyelamat, tapi perusak. Sanksi mereka bukan alat diplomasi, tapi senjata pemusnahan massal terhadap bangsa lain. Saat Hormuz terbuka lagi nanti, ingatlah: 47 tahun penderitaan Iran tak akan terlupakan. Dan Barat? Mereka pantas merasakan getirnya rasa sakit yang mereka tanam. (*).
Views: 69












