Deliserdang, Utomo News, Sabtu,21 februari 2026 – |
Ketika pandangan kita terpaku pada hamparan langit yang tak bertepi, hati pun bertanya dalam bisik doa: Di manakah ujung semesta yang diciptakan Rabbul ‘alamin? Akal manusia, meski diterangi ilmu pengetahuan modern, tetap terbatas bagai embun pagi yang lenyap di hadapan mentari.
Namun, cahaya wahyu Al-Qur’an dan sinar hadits Rasulullah ﷺ membuka tabir gaib, menunjukkan Sidratul Muntaha – pohon suci di puncak langit ketujuh, batas akhir segala ciptaan, tempat berhentinya ilmu para malaikat, dan pangkal turunnya segala ketetapan Ilahi.Sebagaimana firman Allah SWT:
“فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى” (QS. An-Najm: 9) – Maka jaraknya hanya sepanjang dua busur panah atau lebih dekat lagi.
Di sinilah Nabi ﷺ menyentuh puncak kedekatan dengan Tuhan, melampaui batas yang tak tergapai makhluk mana pun.
Sidratul Muntaha: Batas Suci yang Tak Tertembus
Bayangkan sebuah pohon agung, sidrah – pohon bidara surgawi – yang menjulang di ujung semesta, tempat segala yang naik dari bumi berpangkal, dan segala rahmat turun mengalir.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sidratul Muntaha dinamakan demikian karena segala ketetapan Allah yang turun berpangkal dari sana, dan semua yang naik ujungnya berakhir di sana.” (HR. Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu).
Imam As-Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan: Ia adalah muntaha – puncak akhir – bagi segala urusan alam, batas pengetahuan Jibril ‘alaihissalam saja pun pun berhenti di sana, seraya berkata, “Ini adalah batas ilmu ku, wahai Muhammad!” (HR. Bukhari-Muslim).
Tak ada malaikat, jin, maupun manusia yang mampu menembusnya, kecuali Nabi ﷺ dengan izin Rabbnya dalam peristiwa Isra’ Mi’raj yang membelah samudra ruhani.Di Sidratul Muntaha, pohon itu diliputi perintah Allah – “إِذْ يَغْشَاهَا الْعِزَّةُ وَالْمُجْتَبَىٰ” (QS. An-Najm: 11-14) – diliputi kemuliaan dan Yang Terpilih. Keindahannya melampaui kata, bagai symphony surgawi yang hanya didengar hati para wali.
Rasulullah ﷺ menyaksikan: daunnya sebesar telinga gajah, buahnya bagai kendi emas dari Hajar, akarnya memancarkan empat sungai – dua rahmat Jannatul Ma’wa, dua lagi Nil dan Eufrat yang mengalir ke bumi (HR. Bukhari). Bayangannya rindang menaungi perjalanan kuda seratus tahun, laron-laronnya dari mas emas beterbangan dalam cahaya ilahi (HR. Tirmidzi).
Perluas renungan kita: Sidratul Muntaha bukan sekadar pohon, melainkan simbol batas ilmu dan tawadhu. Ia mengingatkan kita pada hadits qudsi: “Aku adalah sebagai prasangka hamba-Ku kepada-Ku” (HR. Bukhari-Muslim).
Di puncak itu, Nabi ﷺ melihat Jibril dalam wujud asli – seribu sayap menutupi ufuk, cahaya menyilaukan samudra (QS. An-Najm: 12-18). Penglihatan beliau tak goyah, tak melebihi batas, mengajarkan adab hamba: tunduk, takjub, dan pasrah.
Makna Mendalam bagi Jiwa Beriman
Bagi orang mukmin, Sidratul Muntaha adalah pangkal rahmat dan ujian tawadhu. Di dekatnya Surga Ma’wa, tempat arwah suci beristirahat, tak tersentuh setan (tafsir Ibnu Katsir). Ia mengajak kita merenungi perjalanan rohani: seperti Nabi ﷺ yang naik dari Masjidil Haram ke Baitul Maqdis lalu langit ketujuh, setiap shalat kita adalah mi’raj kecil, mendekatkan jiwa ke puncak ilahi.
Hadits Nabi ﷺ menambah keagungan: “Aku melihat surga, neraka, dan tanda-tanda Rabb yang paling besar” di sana. Ini panggilan bagi kita: jangan sombong dengan ilmu duniawi, sebab batasnya di Sidratul Muntaha. Seperti pepohonan bidara yang kokoh di padang tandus, teguhkan imanmu di tengah badai dunia, agar rahmat turun bagai sungai dari akar surgawi.
Penutup: Takjub dan Cinta Abadi
Sidratul Muntaha, wahai hati yang haus kebenaran, adalah tanda keagungan Allah dan kemuliaan Rasul ﷺ – utusan yang diizinkan menembus tabir gaib. Semoga kisah ini membakar rindu kita pada surga, menumbuhkan tawadhu, dan memperdalam cinta kepada Habibullah.”Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb. Rabbighfirlī wa liwālidayya wa lil mu’minīna yauma yaqūmul ḥisāb.”
(Semoga Allah mengampuni aku, orang tuaku, dan kaum mukmin pada hari perhitungan). (*)-.
Reporter ; Hasan Basri Siregar.
Views: 22












