Berita  

Eksklusif: Ketua BEM UGM Bongkar ‘Pengkhianatan Gratis’ MBG – Uang Rakyat Rp71 Triliun Jadi Korban Maling Berkedok Gizi di Tengah Keracunan Massal!

 

Yogyakarta, Utomo News, Kamis,19 Februari 2026 – |

 

Guncangan besar menggoyang pemerintahan! Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, secara terbuka membongkar kebusukan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai obat stunting nasional.

 

Dalam podcast “Nyala Api di Jalan Sunyi Perjuangan” di kanal YouTube Forum Keadilan TV yang tayang Rabu malam (18 Februari 2026), Tiyo tak hanya sindir kualitas makanan, tapi langsung hajar istilah “gratis” sebagai pengkhianatan terbesar pada rakyat pencari nafkah.

 

Dengan nada tegas di menit krusial podcast tersebut, Tiyo Ardianto menyatakan, “Makan bergizi gratis ini bergizi saja tidak, apalagi gratis. Kata ‘gratis’ itu pengkhianatan luar biasa pada rakyat. Karena mereka bekerja, mengalokasikan anggaran juga difasilitasi oleh uang rakyat.”

 

Pernyataan ini langsung viral, ditonton ratusan ribu kali dalam 24 jam, memicu gelombang dukungan dari mahasiswa nasional hingga kalangan aktivis.

 

Latar Belakang Program MBG yang Bermasalah

 

Program MBG diluncurkan pemerintahan Prabowo Subianto sebagai janji kampanye utama untuk tekan angka stunting dari 21,6% (data SSGBI 2024) dengan target 82,9 juta penerima manfaat—mulai anak sekolah hingga ibu hamil. Anggarannya fantastis: Rp71 triliun di APBN 2025, setara 3,4% belanja sosial nasional, melebihi alokasi pendidikan dasar di banyak daerah miskin.

 

Namun, realitas lapangan jauh dari harapan: survei KPAI ungkap 40% menu di Jawa Tengah gagal standar gizi WHO, protein di bawah 15 gram per porsi, plus kasus keracunan massal capai 6.542 anak sejak Januari 2026.

 

Tiyo soroti ironi fatal: di satu sisi, MBG “gratis” untuk rakyat kecil, tapi di sisi lain, dananya 100% dari pajak dan iuran wajib rakyat. “Ini bukan gratisan, ini pemaksaan kontribusi tanpa akuntabilitas,” tegasnya, merujuk dugaan mark-up harga telur dan beras yang viral akhir Januari, serta pemangkasan anggaran pendidikan Rp233 triliun yang kontras dengan prioritas gizi.

 

Kronologi Lengkap Pengungkapan dan Ancaman

 

Kritik Tiyo tak datang begitu saja. Berikut alur faktualnya:Pasca-podcast, Tiyo klaim diteror lebih ganas—dari tuduhan LGBT sampe intimidasi fisik—mirip kasus BEM UGM era Jokowi. Ini perkuat narasi BEM sebagai benteng kritik kebijakan.

 

Dampak Sosial-Politik dan Respons StakeholderKritik ini bukan sekadar ocehan mahasiswa. Serikat Mahasiswa Indonesia (SEMAI) deklarasi dukungan penuh, tuntut audit KPK terhadap MBG. Di DPR, fraksi oposisi usul sidang isian APBN Perubahan 2026, soroti efisiensi dana rakyat.

 

Data Kemenkes catat stunting tak turun signifikan meski anggaran membengkak 15%, sementara kasus keracunan picu protes orang tua di 15 provinsi. Pemerintah pusat bungkam sementara, tapi pakar ekonomi UI perkirakan MBG berisiko korupsi Rp10-15 triliun jika tak direformasi.

 

Tiyo tutup podcast dengan seruan: “Rakyat bukan sapi perah; gizi harus prioritas, bukan jargon palsu.” Suara ini kini jadi amunisi perlawanan rakyat jelata yang muak janji manis. ( * ).-

 

Reporter ; Hasan Basri Siregar.

Views: 34