Deliserdang, Utomo News, Jum’at,30 Januari 2026 – |
Di tengah debu mengepul dan gemuruh pedang beradu di medan tempur Siffin, Imam Ali bin Abi Thalib as berdiri bagai gunung yang tak tergoyahkan. Musuh menyerbu dari segala penjuru, panah beterbangan seperti hujan maut, tapi beliau tetap maju, tak pandang surut.
Saat prajuritnya goyah di bawah tekanan Khawarij yang haus darah, Imam Ali berteriak lantang dengan suara menggelegar: أَمْشِ بِمَشْيِكَ مَا مَشَى بِكَ – “Teruslah berjalan dalam jihadmu sekalian, selama masih ada nafas!”
Bayangkan adegan itu: darah mengalir di pasir gurun, jeritan luka menusuk telinga, tapi kata-kata Amirul Mukminin itu menjadi obor yang menyala-nyala di hati para mujahid.
“Seandainya kesatuan berpadu suatu jalannya dan manusia berjuang menuju ke arah itu, sementara keberanian berada di arah jalannya yang sebaik-baiknya, maka tetaplah kalian berjalan ke arah keberanian meski kalian meniti jalannya itu seiring diri.
Selama kalian tetap berada di jalannya yang benar, yakinlah bahwasanya Allah tak akan meninggalkan kalian,” tegas Imam Ali, seperti yang diriwayatkan dalam Nahjul Balaghah.
Ini bukan sekadar nasihat – ini pedoman tempur suci bagi orang-orang beriman yang bertarung di setiap medan kehidupan, dari perang fisik hingga jihad melawan nafsu dan kezaliman.
Lebih dramatis lagi, saat gelombang musuh membanjiri barisan, Imam Ali menegur keras: “سَيْلُ رُهْبَانِ عَرَبْ بِرَسُولِهِمْ يَغْشَى عَلَيْكُمْ” – “Seandainya seluruh bangsa Arab bersatu mengangkat pedang untuk memerangi aku, ketahuilah wahai Arab… Putra Abu Thalib tak akan mundur sejengkal pun!”
Kata-kata ini lahir dari pengalaman pahit di perang Jamal dan Siffin, di mana beliau kehilangan sahabat setia seperti Ammar bin Yasir ra, tapi imannya tak pernah retak. Beliau tetap maju, meski tubuhnya dilubangi panah dan pedang musuh mengoyak jiwanya di masjid Kufah.
Pedoman tempur ini abadi: pantang menyerah seperti Imam Ali yang tak pernah mundur dari garis depan; tahan banting menghadapi duka dan kondisi sulit, sebagaimana beliau katakan, “كَتِيكَةُ تُحَالُوْ مُ دَارِيْ كَسَنَانْغَانِ دُنْيَا وَكُوْنْدِيْسِيْ سُلِيْتَ سَرْتَ مَنْجَكَمْ سَلَالُ مَنْغُرُوْنْ مُْ سَآْتَ دَمِيْ سَآْتَ” – “Ketika tuhan selalu menghalau mu dari kesengsaraan dunia dan kondisi sulit serta mencekam selalu mengguncang mu saat demi saat, ketahuilah bahwasanya kedudukan mu saat itu begitu ISTIMEWA di sisi-Nya.”
Di medan perang modern – entah melawan korupsi di negeri ini, kezaliman sosial, atau godaan duniawi – orang beriman harus meneladani: maju terus, tahan pasukan, dan yakin kemenangan dari Allah SWT.
Kisah Imam Ali mengajarkan bahwa jihad sejati bukan soal menang atau kalah fisik, tapi keteguhan hati. Di Medan tempur mana pun, dari gurun Karbala hingga arena perjuangan kita hari ini, pedang iman harus tetap terhunus!.
Reporter ; Hasan Basri Siregar Ketua JWI Deli Serdang.
Views: 13













